Rabu, 19 Dec 2018
radarmojokerto
icon featured
Mojopedia
Pintu Air Mlirip, Jetis, Mojokerto

Kunci Pasokan Air Kota Surabaya

06 Desember 2018, 21: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Seorang pengendara melintas di depan Pintu Air Mlirip, Jetis, Mojokerto.

Seorang pengendara melintas di depan Pintu Air Mlirip, Jetis, Mojokerto. (Rizal Amrullah/Radar Mojokerto)

Di Kabupaten Mojokerto, tersebar banyak pintu air atau dam sebagai pengontrol dan pengendali air sungai.

Beberapa di antaranya telah ada sejak zaman kolonial Belanda. Khususnya pada sejumlah pintu air yang berada di sepanjang aliran Sungai Brantas.

SALAH satu pintu air yang memiliki peran cukup sentral adalah Pintu Air Mlirip, Kecamatan Jetis, kabupaten Mojokerto.

Keberadaan pengontrol air itu merupakan kunci kemakmuran daerah Surabaya pada masa lalu. Bukan hanya memberi pasokan air bagi Kota Pahlawan itu, tetapi juga menjaga agar tidak tergenang air saat musim penghujan tiba.

’’Bupati Mojokerto RTA Tjondronegoro juga turut hadir saat itu,’’ paparnya. Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq, mengungkapkan, Pintu Air Mlirip kali pertama dibangun pada Sabtu, 7 Oktober 1843.

Saat itu Residen Surabaya, DFW Pielermaat turun langsung ke Desa Mlirip, Kecamatan Jetis. Kedatangan penguasa kolonial itu tak lain untuk menyaksikan peletakan batu pertama pembangunan Stuwdam atau Pintu Air Mlirip.

Dia menceritakan, salah satu alasan dibangunnya pintu air tersbut lantaran kondisi tanggul yang mengalami rusak akibat gempa yang melanda Mojokerto.

Pasalnya, kerusakan tanggul di Kali Mas itu berdampak lahan sawah di Surabaya menjadi kekurangan air. ’’Karena itu dam tersebut perlu direnovasi secara permanen,’’ terang.

Menurut Yuhan, sapaan Ayuhanafiq, dalam pelaksanaannya, Kepala Insinyur Pengairan Surabaya, Ir. HA. Tromp ditunjuk sebagai orang yang membuat rancangan bangunan dam Mlirip.

Insinyur lulusan Technische Hoogeschool Delft, Belanda ini, sekaligus ditunjuk sebagai pelaksananya. ’’Tromp kemudian dipindah tugaskan ke Mojokerto dengan jabatan Asisten Residen,’’ ujarnya.

Dikatakannya, jabatan Asisten Residen adalah pegawai negeri tertinggi yang setara dengan kedudukan bupati. Dalam hal ini, Tromp mengemban tugas utama untuk menyelesaikan pembangunan Pintu Air Mlirip.

Ketua KPU Kabupaten Mojokerto ini, melanjutkan, proses pengerjaan pintu air dilakukan dengan menggali tanah di sisi selatan Kali Mas. Sedikitnya, setiap hari dikerahkan sekitar 400 orang pribumi untuk mengerjakannya.

Tenaga kerja rodi itu dipersiapkan oleh Bupati Mojokerto RTA Tjondronegoro dengan cara menggilir penduduk desa di Mojokerto. Setelah selesai pembuatan pintu air, pengerjaan dilanjukan dengan menggali tanah untuk saluran air baru.

Aliran air yang lama kemudian ditutup dan ditimbun yang bekasnya kini ada di Dusun Clangap, Desa Mlirip. ’’Proyek tersebut memakan waktu hingga lima tahun,’’ tandasnya.

Tepat pada tahun 1848, proyek pintu air yang memiliki dua pintu pengendali ini selesai. Dengan rampungnya proyek Pintu Air Mlirip itu, maka memberi jaminan irigasi untuk persawahan di bawahnya.

Khususnya lahan perkebunan tebu di Kota Surabaya. ’’Dulu di Surabaya ada sejumlah parbik gula. Seperti di daerah karah dan Ngagel,’’ imbuhnya.

Selain mencukupi kebutuhan air di lahan pertanian, Pintu Air Milirip juga juga membuat Sungai Surabaya dapat digunakan sebagai sarana transportasi perahu.

Di samping itu Dam Mlirip juga memegang peran mengatasi kurangnya air ketika musim kemarau. Dengan demikian, kemakmuran di Surabaya dapat ditingkatkan melalui Pintu Air Mlirip.

Sementara itu, usai mengerjakan Pintu Air Mlirip, maka selesai pula tugas HA. Tromp. Namun, selain merancang dam tersebut, asisten residen ini juga merencanakan beberapa saluran air lainnya.

Seperti kanal di Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang. Yuhan menambahkan, masa tugas Tromp di Mojokerto saat itu bersamaan pembangunan Kota Mojokerto.

Dia mengatakan, pembangunan kota kecil saat itu sebagai pengganti Japan atau Kecamatan Sooko yang sebelumnya menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Mojokerto.

’’Bisa jadi Tromp juga ikut merancang pengeringan atau inundasi rawa-rawa yang digunakan untuk mendirikan kota baru,’’ pungkasnya. 

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia