Rabu, 19 Dec 2018
radarmojokerto
icon featured
Features
Komunitas Pencinta Burung Hantu di Mojokerto

Upayakan Pelestarian dan Kikis Anggapan Seram

06 Desember 2018, 17: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

: Anggota Komet atau Komunitas Owl Mojokerto tengah berkumpul setelah menggelar acara gathering dengan masyarakat Mojokerto.

: Anggota Komet atau Komunitas Owl Mojokerto tengah berkumpul setelah menggelar acara gathering dengan masyarakat Mojokerto.

Burung hantu ternyata tak seseram namanya. Di Kota Onde-Onde ada komunitas pencinta burung hantu. Mereka berkumpul untuk tujuan pelestarian. Selain itu, mereka juga rutin sosialisasi seputar burung hantu ke masyarakat.

KOMET atau Komunitas Owl Mojokerto. Begitulah mereka menyebut kelompoknya. Komunitas pencinta burung hantu yang masih beranggotakan 13 orang itu memiliki hobi yang sama.

Yaitu, sama-sama menyukai burung hantu. Mereka berkumpul menjadi satu komunitas dengan tujuan mengangkat kembali jumlah populasi burung hantu di alam. Komunitas ini berdiri pada tanggal 2 Maret 2018.

’’Kita merintis komunitas ini kurang lebih satu tahunan. Mulai dari pengumpulan anggota sampai pemberian nama. Akhirnya pada tanggal 2 Maret disepakati nama Komet menjadi nama komunitas kami,’’ kata Samsul Hadi, ketua komunitas tersebut.

Menurutnya, di Mojokerto belum ada komunitas yang menaungi owl atau burung hantu. Sehingga dia bersama rekan-rekannya membentuk komunitas ini. Selain itu, populasi burung hantu di alam juga semakin miris.

’’Jadi kita yang sama-sama menyukai owl  membuat program-program yang sekiranya bisa melestarikan spesies tersebut,’’ katanya. Program yang sudah terealisasi sementara ini masih berupa sosialisasi ke masyarakat dan institusi.

’’Respons masyarakat ternyata sangat positif dan bisa menerima kehadiran komunitas ini dengan sangat antusias,’’ ungkapnya. Sementara itu, untuk upaya penangkaran sudah dilakukan. Namun, belum berhasil.

’’Kemarin kita suda sempat nyoba namun gagal,’’ katanya. Selain aktivitas tersebut, juga merescue owl dan melepas yang sudah dewasa ke alam liar. Aktivitas sementara ini masih gathering dan sosialisasi secara umum di pusat keramaian dan institusi sekolah.

Seperti SD dan TK. Hal itu bertjuan mengenalkan bahwa burung hantu itu ternyata bukanlah hewan yang menyeramkan. Menurutnya, burung hantu memiliki keunikan tersendiri. Selain sering menggoyangkan kepala seperti Tinatun, burung hantu juga bisa untuk free fly (FF).

Yaitu, bisa diterbangkan dan bisa kembali lagi ke pemiliknya. ’’Kami biasanya berkumpul di Taman Benteng Pancasila setiap malam Minggu. Untuk upaya sosialisasi kepada masyarakat dan memperlihatkan bahwa burung hantu itu tak seseram namanya,’’ katanya. (abe)

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia