Rabu, 19 Dec 2018
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Bangunan Liar Jadi Penyebab Banjir di Utara Sungai

06 Desember 2018, 03: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Muspika Jetis bersama Dinas PUPR dan BPBD saat melakukan assessment pasca banjir di Jalan Raya Jetis, Kabupaten Mojokerto.

Muspika Jetis bersama Dinas PUPR dan BPBD saat melakukan assessment pasca banjir di Jalan Raya Jetis, Kabupaten Mojokerto. (Khudori Aliandu/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO - Banjir tahunan di ruas Jalan Raya Jetis-Kupang, Kabupaten Mojokerto akhirnya mendapat perhatian muspika setempat.

Rabu (5/12) bersama BPBD dan DPUPR, mereka melakukan assessment untuk menelusuri penyebab utama terjadinya luapan air hingga mengakibatkan jalan terendam.

Di lokasi, tim gabungan ini berkumpul di bawah Tol Sumo. Dimana titik itu memang menjadi terdampak paling parah. Mereka mulai menyisir gorong-gorong yang berada di samping kanan dan kiri jalan.

Ya, langkah itu tak lepas dari identifikasi banjir yang kerap terjadi saat diguyur hujan deras. ’’Banjir yang ada di bawah tol ini memang dampak,’’ ungkap Camat Jatis, Iwan Abdillah.

Dampak dari sungai yang memiliki arus cukup besar. Besarnya arus juga membawa sampah. Tak heran, saar air masuk di aliran berada di sepanjang jalan raya utama Jetis-Kupang menjadi tersumbat.

Apalagi, arus air terpecah ke barat dan timur. ’’Karena sungai yang awalnya begitu besar, mengecil dan akhirnya meluber,’’ tambahnya. Selain itu, aliran di sisi utara jalan juga tidak berfungsi.

Sedangkan aliran sisi selatan terjadi pendangkalan. ’’Solusinya memang harus ada normalisasi,’’ tandasnya. Sebaliknya, tidak berfungsinya saluran air itu tak lain karena banyaknya bangunan liar yang berada di atasnya.

Bangunan berupa semi permanen yang dimanfaatkan masyarakat untuk lapak berjualan atau warung tersebut, diketahui menjadi muasabab air tidak bisa mengalir.

’’Kurang lebih ada 17 bangunan. Dan di bawahnya sudah tidak ada saluran. Semuanya buntu,’’ tegasnya. Nah, sebagai solusinya, untuk langkah awal, Muspika Jetis akan melakukan koordinasi secara masif.

Baik dengan perangkat desa atau pemilik warung. Termasuk, organisasi perangkat daerah (OPD). Seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Mojokerto.

’’Ini harus dibahas di forum lintas OPD dalam penyelesaian solusi agar tidak lagi terjadi banjir dari luberan air saat diguyur hujan deras,’’ tambah mantan Camat Trawas ini.

Dalam penyelesaian ini, muspika akan mengundang pihak tol. Sebab, pihak tol dinilai turut bertanggung jawab. Menyusul, antara jalan dan tol juga cukup rendah dan terdapat cekungan. Kondisi itu diperparah setelah ada bangunan tembok samping kanan dan kiri jalan.

’’Niatnya baik,  tapi imbasnya genangan akan semakin lama di jalan raya. Dampaknya secara otomatis ke pengguna jalan itu sendiri saat banjir,’’ pungkasnya.

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia