Rabu, 19 Dec 2018
radarmojokerto
icon featured
Features
Film Pendek Seni Tradisi Karya Siswa

Berharap Jadi Early Warning Anak Muda

05 Desember 2018, 18: 30: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Diego, Breliyan, Regieta, Rizki, Hilmi dan Gagas saat memamerkan trofi juara dari film pendek garapan mereka.

Diego, Breliyan, Regieta, Rizki, Hilmi dan Gagas saat memamerkan trofi juara dari film pendek garapan mereka. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

Anak muda zaman now tidak selalu identik dengan gaya hidup era modernitas. Ada kalanya tradisi menjadi sesuatu yang menarik untuk didokumentasikan menjadi karya terbaik.

Seperti yang dilakoni lima siswa SMAN 1 Sooko ini. Mereka sukses menggarap film pendek dengan mengangkat kesenian ludruk.

SERBA mendadak. Tanpa persiapan matang hingga tanpa peralatan yang komplet. Semuanya dikerjakan dalam situasi terbatas dan tanpa perencanaan matang.

Namun, film itu akhirnya berhasil diselesaikan juga. Meski bukan yang terbaik, setidaknya ada kepuasan yang bisa mereka rasakan setelah menumpahkan unek-unek yang berkecamuk dalam pikiran.

Hingga akhirnya proses penilaian film pendek itu memunculkan hasil yang tak disangka. Dimana, film bertajuk Kisah Panggung Teater Ludruk itu dinobatkan sebagai karya film terbaik dalam Festival Budaya 2018 yang digelar Universitas Airlangga Surabaya pada 20 November lalu.

Menyingkirkan 20-an karya film terbaik milik siswa dari daerah lain se-Jatim. Ya, Pandego Wahyu Dirgantara, Breliyan Abdulloh, Regieta Putri Apriliani, Rizki Sulaiman, dan Hilmi Kharismawan tak menyangka short film garapan mereka terpilih sebagai juara oleh juri dari Dewan Kesenian Jawa Timur (Jatim).

Tidak ada ekspektasi tinggi yang mereka bayangkan sebelum mengirim karya berdurasi 6 menit 20 detik itu ke panitia festival. Semuanya berjalan nothing to lose atau apa adanya tanpa beban sekalipun.

’’Alatnya saja kita sewa. Pemilihan tema juga seminggu sebelum penutupan festival. Pokoknya semua serba dadakan,’’ terang Diego, panggilan akrab Pandego Wahyu Dirgantara, sang sutradara.

Meski tidak ada persiapan khusus, bukan berarti tidak ada kisah tragis yang mereka jalani selama proses produksi film. Terutama soal pengambilan gambar yang harus menyesuaikan situasi.

Dimana, sang aktor, Gagastama Nangleres Wiryawan yang tengah beraksi dalam festival Pendidikan dan Pengembangan Seni Tradisi (PPST) menjadi momentum tepat dalam merekam beberapa adegan film. Hal ini tak lepas dari kesamaan tema.

Yakni, ludruk sebagai cerita seni yang patut diangkat, terutama bagi generasi muda. Karena merekam adegan secara langsung, praktis proses take gambar tanpa ada pengulangan.

Sehingga ketika kamera kehilangan sedetik momen, maka buyarlah skenario. Hal ini yang menuntut kameraman, Rizki dan Hilmi wajib cekatan setiap saat. Hingga beberapa kali mereka korban materi dan waktu demi mengejar proses perlombaan.

’’Kita sempat ketinggalan kereta. Sampai akhirnya nekat naik kendaraan mulai dari bus umum, angkot, sampai ojek agar bisa mendapatkan momen,’’ tambahnya.

Tidak hanya itu. Selama proses editing, kelima kru juga sempat mengalami hambatan. Perangkat komputer mereka tidak memadai. Sehingga terpaksa meminjam ke beberapa teman.

Nah, untuk mendapatkan hasil terbaik, mereka juga rela berhari-hari tidak pulang ke rumah demi menyelesaikan film menjadi karya yang utuh. Sampai akhirnya film pendek itu berhasil dirampungkan sehari sebelum perlombaan ditutup atau H-1.

’’Kita tiga hari tidak pulang. Untungnya sewa alat nggak mahal, total kita cuman mengeluarkan kurang dari Rp 550 ribu,’’ tuturnya. Atas prestasi itu, kelima siswa yang kini masih duduk di bangku kelas XI ini berharap agar filmnya mampu menjadi insiprasi bagi teman sebayanya.

Dimana, seni tradisi khas Jawa Timuran bukanlah produk budaya yang tertinggal. Melainkan bentuk seni yang mampu dijiwai semua kalangan, termasuk anak-anak generasi sekarang.

Sehingga film karya mereka mampu menjadi penyampai pesan atau early warning kepada anak muda melalui media digital. ’’Kita garap sedetail mungkin untuk ditularkan ke anak muda,’’ pungkasnya. 

(mj/far/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia