Rabu, 19 Dec 2018
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Sekolah Inklusi Kekurangan Guru Pendamping

05 Desember 2018, 17: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Salah satu siswa berkebutuhan khusus saat tampil berpidato bahasa Inggris di hutan kota Kelurahan Pulorejo, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto.

Salah satu siswa berkebutuhan khusus saat tampil berpidato bahasa Inggris di hutan kota Kelurahan Pulorejo, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Mojokerto bakal menambah tenaga guru pendamping khusus di lembaga pendidikan inklusi.

Pasalnya, keberadaannya saat ini dirasa masih belum ideal. Padahal peran dalam mendidik anak berkebutuhan khusus (ABK) sangat diperlukan.

Di SDN Mentikan 1, Kecamatan Prajurit Kulon misalnya. Sejak 2013 lalu telah ditunjuk menjadi sekolah inklusi di Kota Mojokerto.

Sampai saat ini, jumlah peserta didik ABK yang ada di SDN tersebut mencapai 27 siswa. Jumlah tersebut tersebar dari kelas I hingga VI. ”Rata-rata setiap kelas ada 4, 5 sampai 6 siswa,” tutur Kasek SDN Mentikan 1, Sri Kusumaningsih.

Siswa penyandang disabilitas tersebut terdiri dari tunadaksa, tunagrahita ringan, autis, dan slow learner atau lambat belajar. Menurut Sri, tidak ada perbedaan dalam proses belajar mengajar. Siswa inklusi bersama-sama belajar di dalam satu kelas.

”Tapi, dengan kondisi tertentu ada siswa yang kita sendirikan pembelajarannya agar lebih fokus,” paparnya. Akan tetapi, jumlah guru pendamping khusus masih kurang.

Dari 27 siswa, hanya ada dua guru yang mendampingi siswa difabel. Satu di antaranya juga harus merangkap sebagai operator di bagian tata usaha (TU).

Oleh karena itu, pihaknya juga mengangkat tenaga honorer untuk membantu mendampingi siswa. ”Karena kita juga butuh satu orang psikolog,” terangnya.

Disamping tenaga pendamping, keberadaan penyandang difabel juga membutuhkan fasilitas khusus. Namun, pihaknya mengaku di sekolahnya masih belum cukup memadai.

Salah satu yang masih dibutuhkan adalah kamar mandi atau toilet khsuss bagi tunadaksa, ruangan terapi, hingga alat peraga.  ”Sudah coba kami ajukan, semoga bisa teralisasi,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dispendik Kota Mojokerto Amin Wachid mengungkapkan, pihaknya berencana untuk menambah tenaga serta penunjang bagi sekolah inklusi.

Selain SDN Mentikan 1, sekolah yang menerima siswa inklusi adalah di SMPN 8. ”Yang paling penting adalah tenaga pendidik sama fasilitasnya. Karena mereka (ABK) butuh perlakuan khusus,” paparnya.

Amin menyebutkan, idealnya, dua orang siswa dilakukan pendampingan oleh satu orang guru pendamping. Namun, diakui Amin jika keberadaan tenaga tersebut masih kurang.

Untuk itu, tahun depan pihaknya berencana akan menambah. ”Kita upayakan secepatnya. Khususnya untuk pendampingan,” paparnya.

Dalam waktu dekat, pihaknya mengaku bakal mengakomodir sarana prasarana khusus bagi difabel. Dispendik memprioritaskan kebutuhan yang cukup mendesak. Antara lain, akses jalan dan kamar kecil khusus difabel.

”Pengembangan fasilitas sudah kita proses. Mereka (siswa ABK) memiliki hak untuk mendapatkan fasilitas dan pembelajaran sama di sekolah reguler,” pungkasnya.

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia