Rabu, 19 Dec 2018
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Over Kapasitas, Pedagang Pasar Tanjung Direlokasi

05 Desember 2018, 13: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Sejumlah pedagang menempati jalan yang seharusnya jadi akses keluar-masuk Pasar Tanjung Anyar Kota Mojokerto.

Sejumlah pedagang menempati jalan yang seharusnya jadi akses keluar-masuk Pasar Tanjung Anyar Kota Mojokerto. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Wacana Pemkot Mojokerto melakukan revitalisasi Pasar Tanjung Anyar diperkirakan kembali tertunda. Sebab, rencana pembangunan dengan menerapkan sistem bangun guna serap (BGS) masih belum menemui titik terang.

Sehingga muncul sinyal adanya upaya untuk merelokasi sebagian pedagang ke lokasi baru. Sebelumnya, rencana revitalisasi pasar induk terbesar di Kota Onde-Onde itu memunculkan dua opsi pembiayaan.

Yaitu, menggunakan APBD Kota Mojokerto atau kerja sama pihak ketiga melalui BGS. Pasalnya, untuk mewujudkan revitalisasi membutuhkan pagu anggaran yang cukup besar dan dikerjakan melalui anggaran multiyears.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Ruby Hartoyo mengaku telah menyusun master plan hingga diwujudkan dalam bentuk maket atau replika gedung hasil perencanaan revitalisasi Pasar Tanjung Anyar.

Namun, sampai saat ini masih terkendala anggaran untuk merealisasikan. ”Jadi, kita sudah mempersiapkan perencanaan hingga siap bangun. Cuma kita mencoba untuk mencarikan pihak ketiga atau mencarikan dana dari pusat,” terangnya, Selasa (4/12).

Dengan demikian, rencana pembangunan pasar yang berada di Jalan Residen Pamuji ini terancam urung dilaksanakan. Untuk sementara, tegas Ruby, pihaknya mengambil langkah fokus menangani masalah overload pedagang.

”Kami carikan solusi, karena pedagang lebih banyak dari pada kapasitas pasar,” ujarnya. Dia menyebutkan, kapasitas Pasar Tanjung Anyar menampung maksimal 1.300 pedagang. Baik yang menempati kios, los, hingga toko gudang (togu).

Namun, pasar terlihat penuh sesak dengan keberadaan pedagang yang diperkirakan mencapai 2.400 orang. Sehingga kondisi salah satu pasar tradisional tertua di kota ini over kapasitas yang jumlahnya mencapai 1.100 pedagang.

Oleh sebab itu, pasar menjadi terlihat sempit, bahkan terkesan kumuh. Kondisi itu disebabkan karena tidak ada lagi kios atau toko yang bisa ditempati. Sehingga pedagang berinisiatif untuk membuat lapak sendiri.

Bahkan, mereka nekat menempati jalan yang seharusnya menjadi akses keluar-masuk pasar. ”Bangunan Pasar Tanjung itu sebenarnya masih bagus. Cuma karena fasilitas jalan dimanfaatkan pedagang akhirnya jadi morat-marit (amburadul, Red),” imbuhnya. 

Dengan demikian, hal itu semakin menguatkan sinyal, bahwa akan ada rencana relokasi pedagang. Dikabarkan, lahan kosong di Jalan Semeru, Kecamatan Magersari dijadikan sebagai lokasi pemindahan pedagang.

”Setelah kita rapatkan, bisa jadi solusi pertama itu kita mencarikan tempat untuk yang 1.100 pedagang tadi,” tandasnya. Ruby juga tidak menampiknya. Sebab, dengan kondisi pasar seperti saat ini, pemkot akan kesulitan untuk melaksanakan kegiatan pembangunan.

Sehingga diperlukan relokasi sebagian pedagang agar bisa mengerjakan proyek fisik. ”Setelah kita pindahkan, kita bisa melakukan renovasi,” paparnya.

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia