Rabu, 19 Dec 2018
radarmojokerto
icon featured
Features
Samiaji, Perajin Alat Musik Gamelan

Karyanya Diminati Pasar Malaysia dan Jerman

04 Desember 2018, 16: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Samiaji memasak bahan kenong di rumah produksinya di Dusun/Desa Sawo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto.

Samiaji memasak bahan kenong di rumah produksinya di Dusun/Desa Sawo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto. (Rizal Amrullah/Radar Mojokerto)

Agar tetap lestari, lebih dari separo usia Samiaji didedikasikan untuk gamelan. Kakek 69 tahun ini hingga kini tetap eksis dan menjadi salah satu perajin kawakan alat musik tradisional Jawa itu. 

SIANG itu, debu bercampur cacahan kayu beterbangan. Rupayanya angin membawanya dari tumpukan limbah kayu di depan rumah produksi gamelan milik Samiaji, warga Dusun/Desa Sawo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojoketo.

Di sana, para pekerja terlihat sibuk mengukir potongan kayu dengan motif khas Solo. Tak lain perangkat itu dijadikan sebagai tempat gamelan.

Sementara di bagian belakang, Samiaji sedang menempa logam dijadikan kenong. Dibantu pekerja lainnya, kakek lima cucu ini, sedang mengerjakan pesanan perangkat gamelan dari Kalimantan.

Keringat pun terlihan mencucur di kulit keriputnya. Namun, tangan kakek kelahiran 1949 ini tampak masih piawai membuat perangkat musik Jawa itu. Maklum, Samiaji mengenal produksi gamelan sejak masih anak-anak.

’’Dulu belajar dari bapak saya sejak kelas 6 Sekolah Rakyat (SR),’’ paparnya. Dari bakat mendiang ayahnya itulah, usaha menciptakan alat musik berbahan logam tersebut diwariskan kepadanya.

Samiaji mampu membuat perangkat lengkap gamelan. Mulai dari saron, kenong, demung, kempul, bonang, peking, slentem, gender, gambang, dan gong. Gamelan garapan Samiaji dibuat dari bahan logam.

Suami Khasanah, 69, ini, menggunakan bahan baku berupa pelat besi. Dia tidak sendiri, karena di tempat produksinya dibantu dengan tiga orang karyawan.

Bahkan juga dibantu oleh salah satu cucunya. ’’Membuatnya dilakukan dengan cara ditempa menggunakan api seperti ini,’’ tuturnya sambil mempraktikkan proses produksinya.

Praktis, di ruangan yang cukup sempit itu hawa terasa panas. Samiaji kerap telanjang dada saat proses pembakaran. ’’Di samping harus jeli, membuat gamelan memakan tenaga ekstra,’’ tandasnya.

Untuk perangkat gamelan jenis gong, kempul, kenong dan bonang, bapak dua anak ini harus mengerjakan tiga bagian secara terpisah. Masing-masing membuat bagian dasar, tengah, dan pencu bagian yang ditabuh.

Setelah itu, ketiga bagian tersebut disatukan menggunakan las. ’’Selanjutnya tinggal dilaras (menyetel suara). Untuk melaraskan suara gamelan dilakukan dengan menambah atau mengurangi komposisi logam,’’ ujarnya.

Tak sekadar piawai memproduksi, Samiaji juga dikenal ahli dalam melaraskan nada pada alat musik gamelan. Karena itu, selain sebagai rumah produksi, rumah berdiding kayu itu juga difungsikan sebagai bengkel.

Karena tidak jarang pemilik alat gamelan yang datang untuk melaraskan suara. ’’Menyetel nada gamelan itu butuh keahlian khusus,’’ tandasnya.

Proses pembuatan satu set gamelan pun membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Samiaji mengatakan, bisa menghabiskan waktu antara 2 hingga 3 bulan.

Karena mulai tahap awal pemotongan pelat besi hingga kemudian membentuk, dan menghaluskannya membutuhkan tingkat ketelitian ekstra.

Kendati demikian, Samiaji juga bersedia membuatkan perangkat gamelan secara satuan. Harga pun bervariasi tergantung bahan dan kerumitan pembuatan.

Banderol paling tinggi tentu untuk gong yang dihargai Rp 2 juta. Kemudian disusul saron dijual Rp 1 juta, serta slentem, gender dan gambang dipatok masing-masing seharga Rp 1,5 juta.

Sementara peking dijual sekitar Rp 700 ribu, kempul Rp 600 ribu, kenong Rp 400 ribu, dan bonang Rp 200 ribu. ’’Kalau satu set lengkap harganya Rp 30 juta,’’ bebernya.

Pesanan pun datang dari berbagai daerah. Mulai Surabaya, Gresik, Malang, Kediri, Probolinggo, Lamongan, Bojonegoro, hingga Sumenep.

’’Pemesan biasanya pemilik hiburan kesenian. Ada juga pesanan dari sekolah dan instansi,’’ imbuh cucu Samiaji, Febrianto, 35. Tidak hanya di Jawa, pesanan juga mengalir dari luar pulau.

Seperti Kalimantan dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Bahkan pembeli gamelan buatan kekeknya juga pernah terbang ke luar negeri. ’’Pernah ada pesanan dari Malaysia dua set gamelan dan gong diameter 2 meter dari Jerman,’’ pungkasnya.

Namun, di balik pundi-pundi rupiah dari gamelan buatan Samiaji, mereka berharap kesenian dan tradisi tradisi musik gamelan tetap bisa lestari.

Karena itu, jika ada yang berminat untuk belajar membuat gamelan, rumah produksinya selalu terbuka untuk menyambutnya. ’’Demi kelestarian musik tradisi ya memang harus ada regenerasi,’’ tambah Samiaji.

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia