Rabu, 19 Dec 2018
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto
Cerita Di Balik Vila Durian Mojokerto (2-habis)

Hasil Budidaya Anggrek Jadi Sumber Penghidupan

02 Desember 2018, 10: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Mukhidin bersama anak-anak penghuni Vila Durian Doa Yatim Sejahtera Desa Kembangbelor, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto.

Mukhidin bersama anak-anak penghuni Vila Durian Doa Yatim Sejahtera Desa Kembangbelor, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

MUKHIDIN menceritakan, sebagian besar anak yang diasuh di Vila Durian adalah bukanlah anak yatim piatu biasa. Melainkan anak dengan latarbelakang permasalahan sosial yang dititipkan oleh lembaga pemerintah.

Seperti dinas sosial (Dinsos), P2TP2A, hingga Unit PPA Sareskrim Polres Mojokerto. Bermacam cerita pun berkembang. Mulai dari asli anak jalanan, anak korban pelecehan seksual, korban kekerasan, korban konflik, hingga korban bencana.

Terbaru, Mukhidin bahkan kedatangan seorang remaja putri bersama dua bayi kembarnya yang menjadi korban pelecehan seksual orang tuanya sendiri. Hingga harus diasingkan.

Nah, dari beberapa pengalaman itu, Mukhidin mengaku tidak bisa mengelak ketika ada lembaga atau warga yang ingin menitipkan anaknya di vila. Sebab, baginya anak harus mendapatkan bimbingan dan pendidikan yang layak dan tertinggi demi kelangsungan hidupnya kelak.

Sehingga trauma atas kisahnya di masa lampau bisa dihilangkan demi menuju kehidupan yang lebih baik. Hanya saja, kepasrahannya tidak serta merta menampung semua anak yang dititipkan.

Dirinya tetap memberikan prioritas kepada anak yang masih memiliki orang tua agar diasuh sendiri. Pun demikian ketika ada anak yang fisiknya butuh perawatan medis, dirinya harus menyerahkan kepada tim medis untuk dirawat lebih dulu sebelum diasuh.

’’Dulu pernah ada anak yang kepalanya penuh jahitan, ya kita kembalikan dulu ke rumah sakit untuk dirawat sampai sembuh. Baru setelah itu bisa kita rawat. Kan juga memengaruhi psikologi anak yang sudah lebih dulu tinggal di vila,’’ tambahnya.

Untuk pembiayaan operasional, pria asli Desa Jatipasar, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto ini mengaku tidak memiliki manajemen khusus.

Bahkan, cenderung mengalir begitu saja tanpa ada rambu-rambu atau aturan tertentu. Meski begitu, Mukhidin mengaku semuanya bisa dilalui dengan serba kecukupan. Mulai dari kebutuhan pendidikan, makan dan minum, kesehatan, hingga hiburan lainnya.

’’Dulu pernah hitung-hitungan kasar. Kalau nggak salah biayanya bisa sampai Rp 75 juta per bulan. Tapi setelah itu sudah nggak pakai hitung-hitungan lagi. Kita loskan. Kalau sumber biaya, kita bisa dapat dari hasil budidaya anggrek, lahan garapan sawah. Semuanya dikelola oleh anak-anak sendiri,’’ pungkasnya. 

(mj/far/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia