Rabu, 19 Dec 2018
radarmojokerto
icon featured
Features
Agustin Wulandari, Tekuni Seni Sketsa

Karyanya Dipesan Bule Amerika, Sempatkan Melukis di Sekolah Anak

30 November 2018, 22: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Agustin Wulandari menunjukkan sketsa wajah hasil karyanya.

Agustin Wulandari menunjukkan sketsa wajah hasil karyanya. (Khudori Aliandu/Radar Mojokerto)

Menjadi ibu rumah tangga sekaligus mengurus dua anak tidak menjadi penghalang bagi Agustin Wulandari untuk tetap berkarya.

Di sela kesibukan mengantar sekolah, perempuan asal Dusun Losari Barat,  Desa Sidoharjo, Kecamatan Gedeg,  tetap menorehkan imajinasinya melalui media kertas.

SIANG itu sejumlah album hasil karyanya dikeluarkan. Diperlihatkan di ruang tamu rumahnya. ’’Kalau ini hanya buat koleksi pribadi. Hitung-hitung sekalian mengasah kemampuan,’’ jawab perempuan berhijab itu kepada Jawa Pos Radar Mojokerto saat ditemui di rumahnya.

Mulanya dia hanya iseng-iseng dalam membuat karya sketsa wajah menggunakan pensil. Sebagai pemula, dia membuat sketsa wajah kedua anaknya. ’’Ternyata bagus juga. Anak saya juga suka,’’ tuturnya.

Karya itupun dipajang di ruang tamu rumah. Satu per satu tamu yang datang mulai tertarik dengan torehan karyanya di media kertas yang dipajang itu. Alhasil, tanpa pikir panjang, karena menggambar merupakan sebuah hobi yang timbul sejak di bangku TK (Taman Kanak-Kanak), membuatnya terus termotivasi.

Apalagi, disebutnya, sejak kecil lihat lukisan sudah membuatnya senang. Perempuan kelahiran Kediri 17 Agustus 1989 ini juga berupaya berkarya maksimal agar dapat dinikmati khalayak.

’’Dengan melukis, saya juga bisa menghilangkan badmood. Jadi, setelah menggambar semua permasalahan hilang. Karena memang sudah fokus,’’ terangnya. Kali pertama, dia mulai menyeriusi bakatnya itu pada 2016.

Meski awalnya sering mengalami kegagalan, kondisi itu tak membuatnya ciut nyali. Dengan terus mengasah kemampuan, kini dia mulai menghasilkan pundi-pundi rupiah.

Ya, itu setelah beberapa tahun terkahir ini, Agustin mulai menyeriusi potensi sekaligus bakat yang dimiliki. ’’Tidak pasti. Kadang seminggu bisa membuat sepuluh karya,’’ tambahnya.

Tak hanya bemodal pensil mekanik. Sesekali dia menggunakan media arang untuk menyempurnakan karyanya. Sebab, arang itu bisa membuat karya lebih gelap.

Sekaligus menjadikan gradasi dalam karya lebih unik. Tentunya, dalam membuat karya seni, ada fase yang harus hati-hati dan sulit. Semisal memberikan efek, tone atau pewarnaan, hingga gradasi.

’’Gradasi itu yang membuat karya lebih hidup,’’ bebernya. Harganya jual karyanya relatif berbeda, menyesuaikan ukuran. ”Untuk ukuran A4 atau A3 dan A2 ada yang Rp 200 ribu hingga Rp 500 ribu. Menyesuaikan ukuran dan kerumitan,’’ jelasnya.

Menurut Agustin, dua tahun berjalan, peminat karyanya tak hanya dari Mojokerto. Namun, melebar hingga wilayah Jatim, seperti Gresik. ’’Pernah juga sekali ada teman dari Amerika Serikat (AS) yang pesan,’’ tegasnya.

Kebetulan, saat itu, karyanya sempat diperlihatkan oleh temannya. Karena tertarik, warga negara Paman Sam itupun terkesan dan memesan secara pribadi. ’’Ya tentu jadi kebanggan saya,’’ imbuhnya.

Dia menceritakan, melukis memang menjadi hal yang tak bisa lepas dari kesehariannya. Tak jarang di sela mengantar anak di sekolah, dia menyalurkan imajinasinya tersebut.’’Kadang juga, karena kejar deadline pesanan konsumen,’’ ujarnya.

Tak hanya itu. Di tengah kesibukannya menjadi ibu rumah tangga, ia memanfaatkan waktu sebelum tidur sekitar pukul 22.00 hingga 00.00 WIB untuk menyelesaikan karyanya.

Namun, dia mengaku masih menyadari selama ini karya-karnya masih jauh dari kata sempurna. Untuk itu, tak jarang, hasil karyanya di-sharing-kan dengan para senior yang lebih profesional melalui komunitas.

’’Di komonitas juga banyak ilmu dan pengalaman baru,’’ ujarnya.


 

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia