Rabu, 19 Dec 2018
radarmojokerto
icon featured
Mojopedia

Tim Ahli Dorong Bupati Sikapi Temuan Situs di TPA

30 November 2018, 03: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Tim ahli saat mendatangi temuan situs di proyek pelebaran TPA di Desa Belahan Tengah, Mojosari, Mojokerto.

Tim ahli saat mendatangi temuan situs di proyek pelebaran TPA di Desa Belahan Tengah, Mojosari, Mojokerto. (Abe Arsyad Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Temuan situs cagar budaya di Dusun Sambeng, Desa Belahan Tengah, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, terus disikapi banyak pihak.

Itu terkait beberapa bagian situs yang masuk wilayah pelebaran tempat pembuangan akhir (TPA) milik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Mojokerto.

Kamis (29/11), tim ahli cagar budaya Kabupaten Mojokerto mendatangi situs tersebut. Anam Anis, salah satu Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Mojokerto, mengungkapkan, ini adalah temuan penting terkait situs peninggalan Majapahit.

Menurutnya, dari bukti-bukti termasuk batu bata dan struktur bangunan mengarah pada struktur bangunan permukiman masa lalu. Sehingga, perlu adanya penelitian dan penetapan sebagai kawasan cagar budaya Kabupaten Mojokerto.

’’Ini memang harus dilakukan penelitian. Kemudian harus ada semacam penetapan sebagai kawasan cagar budaya kabupaten. Karena ini milik kabupaten,’’ katanya.

Selain itu, tambah Anis, secara regulasi dari undang-undang maupun peraturan daerah (perda) memungkinkan kewenangan bupati untuk menetapkan hal tersebut.

’’Jadi, bupati bisa menetapkan ini (Situs Sambeng) sebagai kawasan cagar budaya kabupaten,’’ katanya. Anis mengungkapkan berdasarkan kualitas dari kepentingan (antara TPA dan situs cagar budaya), kualitas dari cagar budaya lebih besar.

Sehingga, situs cagar budaya harus diutamakan. ’’Karena undang-undang pun juga melindungi,’’ katanya. Situs tersebut bisa ditetapkan sebagai cagar budaya kabupaten, provinsi, atau nasional.

’’Tapi kalau sementara yang ada ini, ditetapkan sebagai cagar budaya kabupaten sudah cukup,’’ ungkapnya. Terkait langkah ke depan, bupati harus berinisiasi mempertemukan stakeholder yang terkait dengan masalah situs ini.

’’Baik itu DLH, Disporabudpar, BPCB, semua stakeholder harus dikumpulkan. Terutama masyarakat desa. Karena mereka yang menemukan ini,’’ jelasnya.

Terkait pemanfaatan, selanjutnya bisa dirundingkan kembali dengan desa. ’’Mau digunakan seperti apa. Kalau saya melihat ini bisa dibuat semacam museum. Museum terbuka atau pun tertutup.

Tergantung keinginan desa seperti apa. Karena desa menyiapkan dananya untuk kepentingan ini juga,’’ katanya. Menurutnya, Badan Pelestari Cagar Budaya (BPCB) perlu melakukan ekskavasi. Tujuannya untuk mengetahui strukturnya.

’’Ini perlu diekskavasi. Strukturnya itu seperti apa,’’ katanya. Anis menambahkan, jika memang strukturnya mengarah pada struktur permukiman masa lalu, perlu segera disikapi. Dan jika perlu, (bagian yang rusak-Red) direkonstruksi. 

’’Ya harus diperbaiki lagi kalau perlu direkonstruksi lagi kan bisa. Karena ada ahlinya. Itu untuk perlindungan, pengamanan terhadap temuan situs ini sekaligus pemanfaatan nantinya mudah-mudahan menjadi ekonomi kreatif dari situs tersebut,’’ katanya.

Sementara itu, Kasi Sejarah dan Purbakala Disparpora Kabupaten Mojokerto Riedy Prastowo, mengungkapkan, untuk sementara ini akan dilakukan mediasi.

’’Kita mediasi dulu dengan DLH terkait cagar budaya yang dutemukan,’’ katanya. Selanjutnya, duduk bersama antara Dispora, DLH, dewan dan desa.

’’Keputusannya seperti apa ya kita harus mengikuti saja. Yang jelas, untuk status lahan kan sudah pasti milik Pemkab. Jadi, kemungkinan besar alih fungsi,’’ katanya.

Riedy melanjutkan, untuk sementara ini, pihaknya akan berkonsentrasi di cagar budaya dulu. ’’Yang penting ini terselamatkan dulu,’’ pungkasnya. (sad)

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia