Rabu, 19 Dec 2018
radarmojokerto
icon featured
Features
Gagas-Sandi, Duet Siswa Pegiat Seni Tradisional

Demi Penjiwaan Lakon, Rela Bantengan di Ruang Kelas

28 November 2018, 12: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Gagas (kanan) dan Sandi (kiri) memborong piala kategori penyaji terbaik dalam Festival PPST di Balai Kesenian Cak Durasim, Surabaya.

Gagas (kanan) dan Sandi (kiri) memborong piala kategori penyaji terbaik dalam Festival PPST di Balai Kesenian Cak Durasim, Surabaya. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

Kesenian tradisional tak identik dengan orang tua dan orang desa. Masih banyak kalangan muda yang ikut melestarikan seni tradisi sebagai produk kebudayaan khas Jawa Timuran.

Khususnya di Mojokerto. Seperti yang dijalani Gagastama Nangleres Wiryawan dan Sandi Rustandi. Duet siswa SMAN 1 Sooko yang belakangan menekuni ludruk dan bantengan ini pun sukses merebut berbagai predikat juara.

SENI adalah identitas. Seni bukan ajang gengsi. Seni adalah perpaduan raga dan irama yang mampu menciptakan rasa dan karsa hingga bisa dinikmati semua kalangan. Filosofi itu yang mungkin terpatri dalam jiwa dua remaja tanggung yang tengah duduk di bangku kelas XI ini.

Tak seperti remaja lainnya yang lebih memilih menekuni seni modern. Keduanya justru memilih seni tradisi dalam berkarya. Dua jenis kesenian khas budaya Jawa Timuran pun mereka pilih sebagai hobi.

Yakni, ludruk dan bantengan. Meski terkesan sangar, namun dua kesenian itu tidak mudah dikuasai banyak orang. Apalagi bagi mereka yang baru turun beberapa bulan atau hari.

’’Awalnya saya memang terjun dari teater sejak kelas 3 SD. Lalu berkembang, dan lama kelamaan malah tertarik di ludruk dan bantengan sampai sekarang. Meskipun saya juga baru beberapa tahun terjun di dunia itu,’’ ungkap Gagastama kepada Jawa Pos Radar Mojokerto, Selasa (27/11).

Meski baru dua tahun, namun prestasi arek Desa Japan, Kecamatan Sooko, ini cukup moncer jika dibandingkan dengan prestasi remaja lainnya.

Bayangkan saja, dua kategori unggulan berhasil ia rebut di Festival Pendidikan dan Pengembangan Seni Tradisi (PPST) yang digagas Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jatim, di Gedung Kesenian Cak Durasim, Surabaya, akhir pekan lalu.

Yakni, sebagai penyaji unggulan serta lawak terbaik lewat lakon Joko Berek Arek Suroboyo. Padahal, ajang tersebut merupakan kali pertama ia pentas dalam kesenian ludruk dan bantengan.

’’Sebenarnya yang pertama kali memperkenalkan adalah pelatih teater. Terus lama-lama tertarik. Apalagi kan ini seni tradisi khas Jawa Timuran, khususnya Mojokerto,’’ tambahnya.

Namun, tidak sedikit perjuangan yang ia curahkan demi bisa mendalami penjiwaan sebagai seniman ludruk sejati. Tidak hanya mampu memerankan tokoh dalam lakon, tapi juga mampu menjiwai karakter tokoh tersebut seperti aslinya.

Nah, salah satu caranya adalah kerap mempraktikkan karakter tersebut dalam aktivitas sehari-hari. Termasuk saat berada di sekolah. Tak tanggung-tanggung, Gagas bahkan rela membawa topeng banteng sebagai alat praktiknya ke dalam kelas setiap hari.

Ketika ada waktu luang, tak lupa ia berlatih untuk mengasah penjiwaan agar sesuai dalam skenario lakon. Tidak hanya itu. Diskusi dan konsultasi bersama sesepuh ludruk dan pamong bantengan pun tak lupa ia jabani.

Semuanya demi mendalami karakter ludruk dan bantengan seperti aslinya. ’’Kadang juga jadi bahan omongan teman-teman. Di kelas kok main bantengan. Gitu katanya. Tapi ya memang kita nggak ada waktu buat latihan kalau nggak di sekolah.

Hampir sebulan penuh saya wira-wiri dari sekolah ke sanggar ludruk Karya Budaya,’’ tambahnya. Hal yang sama juga dialami Sandi, rekan Gagas. Meski baru beberapa bulan, namun Sandi mengaku tertarik terhadap seni tradisional lantaran memiliki keunikan tersendiri yang tak dimiliki jenis seni lainnya.

Ia lantas mencontohkan ludruk yang identik dengan teater dan lawak. Hanya saja, ada beberapa bagian yang tak bisa ditiru. Yakni, tari remo, kidungan, dan musik tembang gamelan yang wajib disajikan setiap kali pementasan ludruk.

’’Ada sepelan atau perjanjian dalam materi lawak yang tidak gampang dipraktikkan. Tapi, butuh diresapi agar dagelannya bisa hidup dan cocok dengan musik gamelan,’’ tutur Sandi.

Akan tetapi bukan berarti seni tradisi tidak bisa digabungkan dengan jenis seni lainnya. Seperti tari bantengan yang dinilainya cocok jika dikombinasikan dalam teater. Seperti kala pementasan teater di festival PPST yang juga sukses menyabet dalam penyajian terbaik.

Dengan mengambil lakon Regane Bantengan, Sandi bersama belasan rekannya dalam teater Langit Biru sukses menyabet emas di festival tahunan tersebut. ’’Agar berbeda dengan ludruk, kita bedakan lewat tarian dan lakonnya. Yakni, menggunakan tari bantengan,’’ pungkasnya.

(mj/far/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia