Rabu, 19 Dec 2018
radarmojokerto
icon featured
Hukum & Kriminal

Hakim Tipikor Cium Ada Aroma Balas Dendam

27 November 2018, 19: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Salah satu saat memberikan kesaksian pada sidang kasus suap izin menara telekomunikasi di Pengadilan Tipikor Jatim.

Salah satu saat memberikan kesaksian pada sidang kasus suap izin menara telekomunikasi di Pengadilan Tipikor Jatim. (Imron Arlado/Radar Mojokerto)

SIDOARJO - Sikap terbuka yang terlihat di persidangan kemarin, membuat majelis hakim tersentak. Bahkan, YM Jon Dista, SH, salah satu hakim anggota, sempat melihat proses keterbukaan itu dilandasi oleh sakit hati para saksi.

Semisal, yang dilakukan Vivin Kurnia Ardhiany. Pasca ’’membeli’’ jabatan sebagai Kasi senilai Rp 50 juta, ia hanya bertahan selama tiga bulan saja.

’’Seperti juga Noerhono. Dia juga buka-bukaan sudah beli jabatan. Kenapa Anda juga mengakui? Padahal, saat diperiksa penyidik, bisa tidak mengaku,’’ cecarnya.

Padahal, jelas Jon Dista, pengakuan telah melakukan jual beli jabatan itu, nyaris tak memiliki korelasi dengan suap perizinan tower yang membelit MKP saat ini. ’’Kan nggak ada hubungannya,’’ imbuh dia.

Hakim mengharap, kasus yang masuk ke persidangan murni karena persoalan hukum. Bukan dilandasi oleh politik. ’’Kita di sini, bersama-sama mencari kebenaran. Jangan ada unsur politik dan sakit hati,’’ tegas dia diujung persidangan.

Sementara itu, selain tiga pegawai negeri, jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga menghadirkan tiga saksi lainnya. Yakni, pengusaha batu H.M Sholeh, mantan sopir kepala BPTPM Punggih Adi Wiranata, dan mantan Asisten Pribadi Bupati, Ismawan.

Jaksa gagal menghadirkan Nono dalam sidang kemarin. Rencananya, ia kembali dipanggil dan akan dihadirkan di persidangan pekan depan.

Nono akan dipertemukan dengan mantan kepala BPTPM Bambang Wahyuadi dan mantan ajudan Lutfi Arif Muttaqin. 

(mj/ron/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia