Rabu, 19 Dec 2018
radarmojokerto
icon featured
Features
Mengintip ’’Kali Bokong’’ di Kota Mojokerto

Dulu Dikenal Jorok, Kini Jadi Destinasi Ikan Hias

27 November 2018, 15: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Para bocah menikmati destinasi ikan hias di sungai Kelurahan Kauman, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto.

Para bocah menikmati destinasi ikan hias di sungai Kelurahan Kauman, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto. (Imron Arlado/Radar Mojokerto)

Istilah kali bokong di sepanjang Sinoman hingga Kauman, cukup memasyarakat di telinga warga Kota Mojokerto. Dulu, sungai ini keruh dan mudah menemukan kotoran manusia yang mengambang di aliran sungai. Tapi kini, kondisi sungai itu mulai membaik. Bahkan, ikan hias pun mampu bertahan di aliran sungai itu.

ALIRAN sungai yang membelah lingkungan Kradenan dan Kauman itu, nampak berbeda. Tepat di bawah setiap jembatan yang menghubungkan dua lingkungan ini, terpasang jeruji-jeruji besi kecil.

Beberapa sampah rumah tangga, terlihat nyangkut di jeruji ini. Di bawah jembatan yang lain, jeruji itu ditambah dilapisi dengan penyaring lebih kecil.

Di sinilah, berbagai jenis ikan terlihat sangat jelas. Sudah dua bulan terakhir, ikan ini menjadi ajang hiburan bagi warga sekitar. Sigit, salah satu warga Kauman, menceritakan, semula warga sangat pesimistis bisa membuat sungai bersih.

Namun, setelah dimotori warga setempat bernama Ach. Kosun, angan-angan itu akhirnya terwujud.

Saat ini, sudah terdapat ratusan ekor ikan jenis nila yang dipelihara di sepanjang sungai itu.

’’Menarik kalau ada ikannya,’’ ungkap ketua RT 04 RW 03 Lingkungan Kradenan, M. Ali Azmy. Adanya ikan di sungai ini, kata pria yang akrab disapa Amik ini, istilah sungai bokong makin lama makin terkikis.

Dan juga, memberikan pelajaran bagi warga untuk lebih tertib dalam membuang sampah. Sejak beberapa bulan terakhir, hampir tak pernah ditemukan warga yang membuang sampah di aliran sungai itu.

Proses penyadaran mulai nampak di kawasan ini. ’’Karena, kalau ada kotoran di sungai, warga yang ada di depannya itulah yang bertanggung jawab membersihkannya,’’ jelas Amik.

Untuk memelihara ikan di aliran sungai ini, kata Amin, memang tak mudah. Warga harus memilih jenis ikan yang tahan dengan kondisi air di lingkungan ini. Karena, arus di aliran sungai ini juga menjadi tempat pembuangan air dari rumah tangga.

Jenis ikan yang cukup dan mudah beradaptasi diantaranya lele, gurami, dan ikan warna-warni jenis koi. ’’Untuk sementara, masih koi. Sudah ada ribuan yang saya sebar,’’ tambahnya.

Selain memberikan penyadaran terhadap masyarakat, Amik mengaku, tetap melakukan pembersihan bersama warga di lingkungannya di sepanjang sungai ini.

Proses pembersihan biasanya dilakukan setiap minggu pagi. Pembersihan ini dilakukan sepanjang jalan Kartini hingga Masjid Agung Al-Fattah.

Pembersihan sampah itu, juga tak begitu berat. Karena, ia hanya difokuskan dengan kotoran yang nyangkut di jaring yang telah dipasang di setiap bawah jembatan.

(mj/ron/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia