Rabu, 19 Dec 2018
radarmojokerto
icon featured
Jangan Baca

Susahnya Punya Suami Pemalas

23 November 2018, 22: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Ilustrasi

Ilustrasi (Jawapos.com for Radar Mojokerto)

Tuku celono nang Pasar Turi

Siap-siap rabi ing wulan Mei

Wong lanang ojo gampang brai

Ben gak lali karo golek rezeki  

DALAM hubungan suami-istri, bicara soal ekonomi adalah hal yang sensitif. Karena tidak dipungkiri, banyak hubungan kandas karena masalah ekonomi.

Nampaknya hal itulah yang kini menimpa keluarga kecil Tulkiyem (samaran), 22, warga asal Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, setelah dipinang Mukiyo (samaran), 24.

Tulkiyem menceritakan, di awal pernikahannya, hubungan keluarga kecilnya tersebut selalu bahagia. Namun setelah usia pernikahan memasuki dua tahun, semua berubah. Dia dan suaminya lebih sering bertengkar. ”Kerjane geger terus saben dino,’’ katanya.

Pasalnya, di mata Tulkiyem, suaminya adalah sosok pria yang malas bekerja. Dengan demikian, Mukiyo tidak bisa memberikan nafkah bagi keluarga. Apalagi, sejak dia dan Mukiyo memilih tidak serumah lagi dengan orang tua. ”Aku biyen mari nikah pengen mandiri wae,’’ tambahnya.

Dulu, lanjut Tulkiyem, suaminya masih bisa memenuhi ekonomi keluarga. Karena masih bekerja di salah satu pabrik di Mojokerto. Namun, setelah terkena PHK (pemutusan hubungan kerja) suaminya memilih sebagai petani.

Dari situ penghasilan suaminya tidak seperti dulu lagi. Ditambah lagi sifat pemalasnya yang mulai kambuh. ”Yo dipecat, gak ngerti perkarane opo. Dekne gak cerito,’’ jelasnya.

Karena sudah bosan dengan sifat Mukiyo, dia pun memberanikan diri menyampaikan kata perpisahan. Bukannya merasa berat. Mendengar permintaan istrinya, Mukiyo justru merasa tertantang.

Sehingga tidak ada jawaban lain selain meyetujui keinginan Tulkiyem. ”Aku ngomong pisah, lha ko bojoku ngajak pisahan. Kayae tersinggung,’’ ujarnya. (ras)

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia