Rabu, 19 Dec 2018
radarmojokerto
icon featured
Features
Nazar Usai Sembuh dari Kelumpuhan

Rahmat Hidayat Keliling Indonesia Bukukan Biodata Polri-TNI

23 November 2018, 17: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Rahmat Hidayat menunjukkan foto dan biodata anggota polisi di Mapolres Mojokerto..

Rahmat Hidayat menunjukkan foto dan biodata anggota polisi di Mapolres Mojokerto.. (Khudori Aliandu/Radar Mojokerto)

Jika Tuhan berkehendak segala keajaiban akan datang dengan mudah. Hal itu sudah dibuktikan Rahmat Hidayat, 40.

Pria asal Cikubang, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya, Jabar ini tak mengira mampu berkeliling Indonesia menggunakan sepeda. Tepatnya saat menjalani nazar setelah lumpuh bawaan dari lahir mendadak sembuh.

SAAT ditemui di Mapolres Mojokerto, pria kelahiran Tasikmalaya, 25 Agustus 1978 ini seolah seperti orang pada umumnya. Orang yang baru kenal dan melihat pun tak pernah berpikir jika Bayu Petualang sapaan Rahmat Hidayat pernah lumpuh atau tak bisa jalan sejak bawaan lahir.

Ya, hal itu lantaran dia nampak normal. ’’Iya pernah lumpuh. Tapi, saat kelas 1 SMP ada keajaiban terjadi pada saya,’’ ungkapnya. Kata dia, keajaiban itu terjadi saat dia duduk kelas SMP tahun 1988. Kebetulan saat itu dia yang sedang bermain di lingkungan rumah, mendadak dikejutkan dengan keberadaan seekor anjing milik tetangga.

Awalnya, biasa-bisa saja. Namun, tak tahu kenapa, sesaat kemudian anjing itu menampakkan kegarangan. ’’Tiba-tiba mau ngejar saya dan ingin menggigit,’’ tuturnya. Rasa panik dan takut saat itu tentu bercampur aduk.

Saat peristiwa itu, juga tak ada satu orang pun. Namun keadaan berbicara lain. Sebab, dia yang sudah tidak bisa berbuat banyak mendadak bisa melompat dari kursi roda yang setiap hari tak pernah lepas ke mana pun dia pergi.

Dari situ, dirinya juga bisa berlari dan selamat dari terkaman sang anjing. ’’Mungkin ini yang namanya kuasa Allah,’’ tegasnya. Sehingga dari kejaiban itu, petualangannya pun dimulai. Sejak lulus tahun 1990, dirinya mulai nazar untuk berkeliling Indonesia.

Alasannya cukup sederhana. Dia ingin mensyukuri keajaiban dengan kesembuhan yang diberikan Tuhan. Bahkan kondisi sekarang dianggapnya benar-benar menjadi karunia terbesar yang diterima selama hidupnya. ’’Awalnya hanya Pulau Jawa.

Tapi karena ketagihan akhirnya berlanjut keliling Indonesia dengan menggunakan sepeda. Kadang juga dari angkot ke angkot. Yang penting nyampai tujuan,’’ terangnya. Tidak hanya berpetualang.

Dalam perjalanan yang sudah berlangsung puluhan tahun ini dirinya juga membukukan biodata personel Polri dan TNI yang tersebar di Indonesia. Dari sekitar tujuh buku dengan berbagai macam ukuran, sedikit demi sedikit dia kumpulkan dari kunjungan satu ke kunjungan setiap satuan.

’’Tujuannya tak lain juga untuk mencari seduluran (persaudaraan) dan menjalin siaturahmi antar manusia,’’ tuturnya. Dalam perjalannya pun memang tidak berjalan mulus seperti yang dibayangkan. Sebab tak jarang dia harus meyakinkan petugas agar bisa masuk dalam mako satuan.

Bahkan sebelum diizinkan masuk ke markas komando (mako), dia sering diuji para prajurit penjaga melakukan olahraga. Dari lari-lari hingga push-up. ’’Ya saya lakukan. Karena itu sudah menjadi komitmen dan cara saya meyakinkan mereka,’’ ujarnya.

Alhasil, dia berhasil masuk ke setiap Polres, Polda hingga Satuan Batalyon Infantri yang tersebar di Indonesia. ’’Itu menjadi kepuasan tersendiri bagi saya. Apalagi dari jumlah 84 batalyon saya berhasil masuk. Karena kan masuk ke situ tidak mudah,’’ bebernya.

Tak urung, hampir setiap hari, dia bisa dipastikan akan berkutat dan berpindah dari satuan yang satu ke satuan yang lain. Kata dia, dalam perjalanan ini tentu banyak ilmu dan hal baru yang bisa didapat.

’’Yang pertama dan utama itu saudara,’’ tegasnya. Alhasil, dari perjalan panjang itu, setidaknya dia bisa membukukan ribuan personel TNI/Polri.

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia