Rabu, 19 Dec 2018
radarmojokerto
icon featured
Mojopedia

Tan Malaka Ditangkap di Stasiun Besar Mojokerto

22 November 2018, 15: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Stasiun Mojokerto di Jalan Bhayangkara Kota Mojokerto.

Stasiun Mojokerto di Jalan Bhayangkara Kota Mojokerto. (Rizal Amrullah/Radar Mojokerto)

SEIRING berkecamuknya pertempuran November di Surabaya membuat Mojokerto kerap disinggahi tokoh-tokoh perjuangan.

Saat itu, Mojokerto menjadi salah satu benteng terakhir tempat pengungsian warga, juga pemerintahan sementara Karesidenan Surabaya pasca terpukul mundur dari Kota Pahlawan, Surabaya.

Karena itulah tokoh-tokoh kaliber nasional sempat menginjakkan kaki di Kota Onde-Onde. Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menceritakan, selain Soekarno dan Bung Tomo, di Mojokerto pernah merekam jejak perjalanan Tan Malaka.

Kehadiran tokoh kelahiran Sumatera Barat itu bertepatan pada meletusnya pertempuran November 1945 di Surabaya. ”Saat itu, di Stasiun Besar Mojokerto terjadi kegaduhan, karena ada seorang pria yang terlihat asing turun dari mobilnya,” terangnya.

Kegaduhan terjadi lantaran pria paro baya itu memperkenalkan diri sebagai Tan Malaka. Dia menjelaskan, perkenalan itu rupanya membuat orang menaruh curiga.

Ya, semasa hidup pahlawan nasional itu dikenal misterius. Bahkan aktivitas politik pada masa kolonial membuat Tan Malaka masuk dalam salah satu daftar pencarian orang (DPO).

”Karena buron, sehingga sering melakukan penyamaran dengan berganti-ganti identitas” paparnya. Meski kala itu namanya itu cukup populer, namun tidak banyak orang yang mengetahui sosoknya secara langsung.

Karena kemisteriusannya, nama Pendiri Partai Musyawarah Rakyat Banyak (Murba) ini kerap disalahgunakan oleh orang lain. Yuhan, sapaan Ayuhanafiq menyatakan, nama Tan Malaka memang sudah banyak didengar sejak masa sebelum proklamasi.

Sosoknya sering disebut oleh kalangan pemuda pergerakan sebagai tokoh dengan pemikiran genius. Buku-buku karangannya beredar dari tangan ke tangan untuk dibaca secara sembunyi-sembunyi.

Bahkan semua hal yang berkaitan dengan Tan Malaka merupakan barang haram yang mesti dimusnahkan. ”Tan Malaka dikenal sebagai tokoh radikal berhaluan kiri,” ulasnya.

Tak terkecuali bagi pemerintah kolonial. Nama Tan Malaka disebut sebagai peringatan bagi kelangsungan pemerintahan. Pasalnya, salah satu tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI) itu adalah personal dengan bermacam nama penyamaran.

Di samping itu juga memiliki jaringan cukup luas. Tersebar dari Batavia hingga Surabaya. ”Hanya orang tertentu yang tahu siapa dia (Tan Malaka, Red) sebenarnya,” cetusnya.

Mendengar ada orang yang mengaku diri sebagai Tan Malaka itu, polisi segera bergerak. Yuhan menyatakan, pria yang baru menginjakkan kaki di Stasiun Besar Mojokerto itu kemudian ditangkap dan dijebloskan ke penjara.

Ketua KPU Kabupaten Mojokerto ini menambahkan, saat itu, polisi memang mengantisipasi adanya tokoh palsu karena beberapa hari sebelumnya juga ada orang yang mengaku diri sebagai Tan Malaka.

”Untuk menjaga segala kemungkinan, maka oknum itu harus diamankan,” ujarnya. Terlebih, sebelumnya melalui radio pemberontak, Sutomo alias Bung Tomo, Ketua BPRI sempat menginstruksikan agar menangkap siapa saja yang mengaku sebagai Tan Malaka.

Sebab, di Surabaya juga sudah diamankan seorang Tan Malaka palsu. Karena itu, BPRI Mojokerto pun melakukan penangkapan, lalu diserahkan pada polisi untuk ditahan.

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia