Rabu, 19 Dec 2018
radarmojokerto
icon featured
Features
Peringatan Maulid Nabi di Lapas Mojokerto

Ubah Mental Napi lewat Sentuhan Salawat Nabi

22 November 2018, 13: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Ratusan narapidana Lapas Mojokerto saat mendengarkan ceramah KH Abdul Adzim Alawy saat peringatan Maulid Nabi SAW.

Ratusan narapidana Lapas Mojokerto saat mendengarkan ceramah KH Abdul Adzim Alawy saat peringatan Maulid Nabi SAW. (Farisma Romawan/Radar Mojokerto)

Maulid Nabi Muhammad SAW tidak hanya diperingati umat Islam biasa dalam mengenang jasa dan peran beliau sebagai pemimpin umat.

Tapi, juga menjadi momentum kebangkitan bagi umatnya agar lebih beriman dan taat terhadap perintah agama. Seperti yang dialami ratusan narapidana Lapas Kelas II B Mojokerto. 

SUASANA pagi di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas)  Kelas II B Mojokerto kemarin berbeda jauh dari biasanya. Riuh renyah yang selalu terngiang di telinga petugas, berubah menjadi lebih sejuk dan tertib.

Tidak hanya suasananya. Penampilan ratusan narapidana (napi) dan tahanan juga terlihat jauh lebih santun dan sopan lewat sarung dan peci yang dikenakan. Berubah 180 derajat dari situasi sehari-hari yang hanya mengenakan celana dan kaus oblong.

Dengan rasa ikhlas dan damai, mereka kompak duduk bersila di area Masjid At Taubah sejak salat Subuh. Suasana menjadi lebih hening ketika beberapa napi dengan membawa rebana maju ke saf depan.

Beberapa saat kemudian, ratusan napi yang semula hanya duduk biasa, tiba-tiba ikut berdiri saat aba-aba mahalul qiyam dalam Kitab Dziba didengungkan. Bersamaan dengan para kiai dan guru mengaji yang turut hadir dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bersama ratusan warga binaan.

Lalu salawat Nabi pun terlantun nyaring dan indah dari dalam masjid maupun dari speaker yang terpasang di luar area masjid. Nah, di sinilah terlihat jelas betapa khusyuknya napi atas kedalaman iman yang mereka miliki.

Terlepas dari perilaku negatif yang mereka lakukan sebelum menjalani hukuman di dalam lapas. Dengan tema: Memperkuat Ukhuwah Islamiyah, peringatan Maulid Nabi tahun ini diharapkan dapat menjadi tauladan bagi napi dalam mempelajari serta menauladani Rasulullah.

Tidak hanya melantunkan salawat, mereka juga mendapatkan pencerahan dari Ketua Umum Cabang Nahdatul Ulama (PC NU) Kabupaten Mojokerto KH Abdul Adzim Alawy.

Lewat peran Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kabupaten Mojokerto yang rutin mengisi pengajian, ratusan napi kini jauh lebih taat terhadap agama yang dianut.

’’Dalam ayat Alquran, pembawa perdamaian, keselamatan, kasih sayang itu adalah nabi kita Muhammad SAW,’’ terangnya. Kiai Adzim menambahkan, momentum peringatan maulid Nabi diciptakan agar umat Islam bisa saling menyayangi dan mengasihi.

Sehingga diharapkan di lapas juga dapat tercipta suasana yang kondusif, aman dan tidak ada gejolak. Karena setiap umatnya sering membaca salawat, maka Nabi Muhammad SAW akan datang untuk memberikan kedamaian.

’’Kalau dinilai dari keamanan dan kondusivitas, Insya Allah Lapas Mojokerto nomor satu di Jatim. Saya sudah pernah di beberapa lapas sekitar, tidak sekondusif Mojokerto,’’ tambahnya.

Ungkapan tersebut bukanlah tanpa alasan. Selain berdiri pondok pesantren, di dalam lapas juga terdapat kegiatan Diniyah At Taubah. Yakni, pengajian kitab yang setiap hari tersaji sebagai pembinaan rutin.

Bahkan satu-satunya lapas yang terdapat metode diniyah. Tidak hanya itu, para ’’alumni’’ yang sudah keluar dari lapas pun juga tak serta merta lepas dari pembinaan.

Di mana, pendampingan agama masih terus diajarkan lewat pertemuan setiap 36 hari sekali. ’’Lapas ini bukan penjara tapi pesantren,’’ tuturnya.

Kepala Seksi Pembinaan Warga Binaan dan Anak Didik (Kasi Binadik) Lapas Kelas II B Mojokerto Andik Prasetyo menyatakan, tujuan kegiatan tersebut tidak lain untuk meningkatkan keimanan terutama bagi warga binaan dan petugas lapas.

’’Harapannya, agar warga binaan semakin menyadari kesalahan melalui pendekatan-pendekatan keagamaan dan warga binaan dapat meneladani sifat-sifat Rasulullah,’’ ungkapnya. Andik menambahkan, pembinaan di lapas selama ini meliputi dua kategori.

Yakni, kepribadian seperti pengajian rutin setiap hari, salat berjamaah, pengajian kitab kuning, kajian arti Alquran, hingga penyuluhan kesadaran hukum. Lalu kategori kemandirian. Seperti produksi sepatu dan sandal sebagai modal keterampilan saat lepas dari hukuman nantinya.

(mj/far/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia