Rabu, 19 Dec 2018
radarmojokerto
icon featured
Features
Taman Ghanjaran, Alun-Alun Kecamatan Trawas

Ganjaran Perangkat Disulap Jadi Objek Wisata

19 November 2018, 23: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Suasana Taman Ghanjaran, Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto.

Suasana Taman Ghanjaran, Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. (Rizal Amrullah/Radar Mojokerto)

Ada salah satu destinasi anyar di kawasan wisata di Kabupaten Mojokerto. Banyak pengunjung menyebutnya sebagai Alun-Alun Trawas.

Adalah Taman Ghanjaran yang kini menjadi jujukan favorit wisatawan. Tidak hanya lokal, namun juga dari luar daerah.

DILEWATI jalur utama Mojokerto-Tretes (Pasuruan) membuat Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, memiliki potensi yang cukup menjanjikan.

Agaknya peluang itulah yang ingin dimaksimalkan oleh pemerintahan desa (pemdes) setempat. Baru-baru ini, di desa yang diapit Gunung Welirang dan Gunung Penanggungan itu mendadak menjadi primadona bagi para pelancong.

Betapa tidak, puluhan, bahkan ratusan wisatawan lokal maupun luar daerah berduyun-duyun datang ke Desa Ketapanrame tiap harinya. Itu tak lepas karena desa yang hanya memiliki tiga dusun ini menggarap wisata baru.

Yaitu ruang terbuka hijau (RTH) yang dinamakan Taman Ghanjaran. Meski belum secara resmi dibuka, namun keberadaan taman yang bediri di atas lahan sekitar 8 ribu meter persegi itu mampu menyedot antusias pengunjung.

Tidak heran, karena taman yang berada di kisaran 900-1.000 meter di atas permulaan air laut (mdpl) ini memiliki daya pikat tersendiri. Selain tatanan tanaman dan bunga-bunga yang indah, juga menyuguhkan panorama pegunungan Trawas yang juga tak kalah eksotis.

Di samping itu, juga didukung dengan lokasinya yang strategis. Mengingat, taman tepat berada di seberang jalan Trawas-Tretes.

’’Karena penasaran saja ingin datang ke sini (Taman Ghanjaran) karena tahu dari teman. Ternyata tempatnya memang bagus,’’ ungkap Salsabila Azzahra, 21, salah satu pengunjung asal Kelurahan Meri, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto.

Taman Ghanjaran memang bisa menjadi alternatif saat berkunjung ke Trawas. Area terbuka tersebut cukup cocok sebagai wisata keluarga.

Namun, tidak sedikit remaja yang juga menikmati nuansa alam di taman tersebut. Tak lain karena ada banyak spot foto yang berlatar belakang pemandangan alam.

’’Apalagi masuknya gratis dan bisa sepuasnya di sini,’’ paparnya. Bahkan, suasana ramai tidak hanya pada pagi dan siang hari. Sebab pemandangan malam hari juga tidak kalah menariknya.

Sebab, di taman tersebut juga ada beberapa wahana permainan. Karena itu, di kalangan wisatawan, Taman Ghanjaran juga populer disebut sebagai Alun-Alun Trawas.

Kepala Desa Ketapanrame, Zainul Arifin, mengatakan, setiap pengunjung memang tidak dipungut biaya untuk menikmati waktu di Taman Ghanjaran.

Dia mengatakan, filosofi pemberian nama tersebut karena memang taman didirikan di atas tanah ganjaran perangkat desa. ’’Selama ini tanah ganjaran disewakan untuk pertanian, tapi kini kita manfaatkan sebagai destinasi wisata,’’ paparnya.

Itu dilakukan agar Desa Ketapanreme menjadi kawasan untuk mendukung sektor wisata di Trawas. Arifin mengatakan, semua pengunjung memang tidak dipungut biaya apa pun untuk menikmati keindahan di Taman Ganjharan.

Karena, taman yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMdes) itu memperoleh pendapatan dari parkir serta partisipasi dari pemilik wahana permainan. Itu pun sekadar untuk kebutuhan operasional dan perawatan taman secara berkala.

Di samping itu, taman itu juga baru menyentuh tahap awal dari rencana untuk membuat wisata di Desa Ketapanrame. Dia mengaku, ke depan juga akan menyusul dibangun kolam renang dan wahana permainan yang juga berdiri di tanah ganjaran dengan total luas 2,8 hektare.

Arifin mengatakan, proyek yang menyerap dari anggaran Bantuan Keuangan (BK) Desa itu bakal menyerap Rp 4,5 miliar. Namun, untuk kolam renang dan wahana permainan nanti akan dikomersilkan sebagai pendapatan desa.

’’Kalau teman memang sengaja digratiskan. Selain untuk tempat rekreasi keluarga, areal terbuka itu juga berfungsi sebagai tempet menyerap air,’’ pungkasnya.

Dia menambahkan, pihak desa memang belum secara resmi me-launching taman tersebut. Namun setelah pembangunan rampung, pihaknya tidak mampu menghalangi antusias warga yang berniat berkunjung.

’’Bahkan kebanyakan datang dari luar kota,’’ pungkasnya. Seperti dari Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Lamongan, Kediri, hingga daerah tetangga lainnya. 

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia