Minggu, 16 Dec 2018
radarmojokerto
icon featured
Hukum & Kriminal

Kota Mojokerto Ranking 10 Jatim Kasus Narkoba

16 November 2018, 11: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Tersangka kasus narkoba saat diminta menunjukkan aset kendaraan miliknya di BNNK Mojokerto.

Tersangka kasus narkoba saat diminta menunjukkan aset kendaraan miliknya di BNNK Mojokerto. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO - Darurat narkoba di Kota Mojokerto setiap tahunnya terus naik peringkat. Belakangan di tingkat wilayah Provinsi Jatim, kota dengan tiga kecamatan ini sudah masuk ranking 10 besar darurat barang haram berbahaya tersebut.

Angka itu bergeser dari sebelumnya di angka 15 besar. Kepala Badan BNNP Jatim Brigjen Pol Bambang Budi Santoso menuturkan, darurat narkoba memang bukan hal baru. Termasuk di Kota Mojokerto.

Menyusul dari data yang ada peredaran narkotika dari berbagai jenis terus meningkat. Khususnya sabu-sabu yang memang banyak disalahgunakan di tengah masyarakat. ’’Bicara darurat narkoba, di Mojokerto benar-benar ada,’’ katanya.

’’Ada apa?  Bandarnya. Untuk wilayah Mojokerto dan daerah lain,’’ imbuhnya. Bandar ini juga tidak kali pertama ditangkap dan berstatus sebagai warga Mojokerto.

Melainkan sudah ada tiga bandar besar serta jaringan kelas kakap yang berhasil diungkap petugas gabungan BNNP Jatim bersama BNNK Mojokerto. Bahkan sebelumnya satu tersangka terpaksa ditembak mati petugas.’’ Tidak kecil. Ini (bandar-bandar) besar,’’ tambahnya.

Dengan jeratan TPPU (tindak pidana pencucian uang) bagi bandar kelas kakap tersebut, dalam jangka panjang membuat para bandar narkoba jera. Mereka akan berpikir ulang untuk melangsungkan bisnis haram.

Apalagi bisa berdampak merusak generasi muda sebagai penerus bangsa. ’’Kalau tidak gini, mereka akan tetap saja (merajalela, Red),’’ tandasnya.

Sehingga langkah memiskinkan dan atau menyita semua aset pemakaian uang hasil bisnis haram terkait peredaran narkoba ini menjadi sesuatu yang penting dan harus diterapkan. Tujuannya, untuk pemberantasan sekaligus menjadikan kawasan zero narkoba.

BNN juga sudah menyiapkan semua piranti untuk menjerat pelaku dengan pasal TPPU itu. ’’Ini adalah langkah kami buat mereka jera. Coba lihat itu banyak ATM (anjungan tunai mandiri) dan buku tabungan. Kita akan buktikan, apakah ada kaitannya dengan tindak pidana pelaku,’’ ujarnya.

Kesiapan yang dilakukan BNN pun sudah matang. Di antaranya berkoordinasi dengan Direktur TPPU Mabes Polri maupun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan  (PPATK).

’’Direktur TPPU maupun OJK nanti langsung kita hadirkan ke sini,’’ pungkasnya. ’’Kota Mojokerto ini memang 10 besar (peredaran narkoba) dari 38 kabupaten dan kota di Jatim,’’ tambah Kepala BNNK Mojokerto, AKBP Suharsi.

Kata dia, angka ini memang cenderung meningkat dibanding tahun sebelumnya yang ada diurutan 15 besar setingkat Provinsi Jatim. ’’Pergeseran ini sudah sejak dua tahun ini,’’ ujarnya.

Menurut Suharsi, pergeseran angka ini tak lepas dari tingginya angka peredaran narkoba di Kota Onde-Onde ini. Ditambah lagi, Kota Mojokerto juga merupakan tempat bandar-bandar besar.

Tercatat sudah ada tiga bandar besar yang sudah diungkap. Terakhir, Achmad Sulem Alwadleh, 39, warga asal Desa Kedungmaling, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.

Omzetnya pun cukup besar mencapai Rp 3 miliar per bulan. ’’Ini juga belum selesai. Ini hanya permulaan, karena kami masih terus mengembangkan ke jaringan lebih besar,’’ pungkasnya. 

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia