Minggu, 16 Dec 2018
radarmojokerto
icon featured
Features
Pameran Lukisan Sungging Adi Linuwih

Setiap Goresan Menyimpan Makna Toleransi dan Keberagaman

13 November 2018, 20: 50: 39 WIB | editor : Mochamad Chariris

Para pengunjung menikmati karya lukis di gedung serbaguna Desa Pohkecik, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto.

Para pengunjung menikmati karya lukis di gedung serbaguna Desa Pohkecik, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto. (Muh. Ramli/Radar Mojokerto)

Banyak cara untuk membangun toransi di tengah masyarakat. Salah satu melalui karya seni lukisan. Hal itulah yang kemarin terlihat di gedung serbaguna Desa Pohkecik, Kecamatan Dlanggu. Event ini mengusung nilai torelansi dan keberagaman.

PAGI yang cerah. Matahari sudah tak malu-malu lagi menampakkan wajah hangatnya. Kira-kira pukul 08.00, beberapa orang sudah terlihat sibuk menata beberapa triplek berukuran 50 x 70 cm di salah satu gedung serbaguna di Desa Pohkecik, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto.

Semakin lama, mereka semakin tak berkesudahan menata triplek tersebut. Jawa Pos Radar Mojokerto pun masuk ke dalam gedung tersebut. Setibanya di dalam, ternyata triplek-triplek itu bukan triplek biasa.

Setelah didekati nampak beberapa lukisan-lukisan indah dan mengandung makna filosofi. Selain lukisan bunga-bunga, juga ada lukisan penuh dengan makna dan nilai toleransi. Tidak hanya indah dan asri. Beberapa lukisan lainnya juga menyimpan arti keberagamaan.

Iya, ini adalah gelaran pamaran lukisan yang diadakan Forum Ketahanan Budaya (FORKAB) bersama Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto (DKKM). Mereka sengaja memadupadankan berbagai lintas budaya. Baik seni lukis, sastra, musik dan lainnya.

Dengan harapan, akan terjadi sinergitas yang selaras dalam berbudaya. ”Ini yang keempat kalinya digelar. Akan berlangsung dari 11 hingga 17 November nanti,’’ kata Ketua Panitia Acara Sungging Adi Linuwih, Noeri Wredyastoeti, Senin (12/11).

Gelaran karya seni lukis tahun ini merupakan jawaban dari tantangan para perupa di Jawa Timur (Jatim) untuk senantiasa berani menampilkan karyanya. Tidak hanya sekadar anut grubyuk (ikut-ikutan). Namun, sebagai bukti nyata, bahwa perupa tidak kenal kata menyerah. Terus berkarya menunjukkan eksistensi diri sebagai tugas seniman.

”Jumlahnya ada 70 perupa dari Mojokerto, Sidoarjo, Surabaya, Jombang dan Kediri yang ikut berpartisipasi. Tentu masing-masing dengan gaya dan ekspresinya untuk mewarnai gelar karya Sungging Adi Linuwih yang ke-4,’’ tambahnya.

Tidak hanya itu. Kata Noerim, gelar karya yang ke-4 ini kembali menampilkan nuansa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini sengaja memadukan berbagai lintas budaya. Baik seni lukis, sastra, musik dan lainnya. Dengan harapan akan terjadi sinergitas yang selaras dalam berbudaya.

Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto Indra T. Kurniawan menyatakan, Sungging Adi Linuwih merupakan salah satu bentuk jawaban konkret terhadap dekadensi moralitas dalam masyarakat. Khususnya kian terpuruk dalam intoleransi, melalui bahasa karya lukis dan rupa.

Melalui agenda ini, lanjut Indra, juga mengusung harapan akan terpeliharanya jalinan silaturrahmi antara pelaku dunia seni lukis dan rupa dengan masyarakat luas di Mojokerto dan sekitarnya.  ”Harapannya akan membangun aura positif dan kemanfaatan bagi masing-masing elemen,’’ ujarnya. (ras)

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia