Minggu, 16 Dec 2018
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto
Di Balik Perjuangan November di Mojokerto (2)

Senjata Parakan Dipercaya Memiliki Daya Magis

12 November 2018, 23: 45: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Kondisi Stasiun Mojokerto saat ini di Jalan Bhayangkara Kota Mojokerto.

Kondisi Stasiun Mojokerto saat ini di Jalan Bhayangkara Kota Mojokerto. (Rizal Amrullah/Radar Mojokerto)

PEMBERIAN bekal keberanian tidak hanya diberikan kepada fisik maupun mental para pejuang. Senjata untuk melawan penjajah juga tidak luput dari restu ulama.

Sebelum digunakan berperang, senjata dikirim ke Parakan, Temanggung, Jawa Tengah (Jateng) terlebih dahulu untuk diasmai atau diberi doa-doa oleh seorang kiai.

Yuhan mengatakan, saat berkecamuknya perang kemerdekaan, mayoritas para pejuang hanya berbekal semangat.

Tidak banyak senjata api yang dimiliki. Itu pun belum banyak yang bisa mengoperasikannya. Dia mengungkapkan, sebelum maju ke medan perang, tidak semua anggota Hizbullah dibekali senjata api.

Sebagian besar justru hanya membawa senjata tajam. Maklum saat itu jumlah senjata api sangat terbatas, sehingga satu senjata dimiliki oleh dua atau tiga orang.

’’Namun, semua anggota Hizbullah pasti diberi senjata dari Parakan,’’ terangnya. Dia menjelaskan, senjata dari Parakan itu bukanlah kategori senjata api. Melainkan hanya alat perlawanan yang berupa senjata tajam, bambu runcing.

Bahkan hanya berupa tongkat rotan saja. Akan tetapi, senjata tersebut diyakini memiliki kelebihan karena telah diasmai oleh Kiai Subchi dari Pondok Pesantren Parakan, Temenggung.

”Senjata Parakan dipercaya oleh pemegangnya memiliki daya magis,” ujarnya. Yuhan mengatakan, sebelum pejuang ikut bertempur di Kota Pahlawan, masing-masing daerah mengumpulkan senjata untuk dikirim ke Parakan.

Di Mojokerto, tempat pengumpulan senjata itu dilakukan di Stasiun Mojokerto. Ratusan bahkan ribuan pucuk senjata tertumpuk di stasiun.

”Berbagai senjata tajam, bambu runcing, bahkan senjata tongkat dari rotan dikumpulkan di stasiun untuk diangkut ke Parakan menggunakan gerbong kereta api,” terangnya.

Kondisi yang sama juga terjadi di daerah lainnya. Hampir semua pejuang dari penjuru tanah Jawa datang ke sana. Khususnya di Surabaya.

Oleh karena itu, pada awal meletusnya revolusi kemerdekaan Parakan sangat ramai kiriman senjata. ”Dari Mojokerto yang dikirim hanya senjatanya saja. Pejuangnya tidak ikut ke sana (Parakan),” imbuhnya.

Kala itu, diperkirakan lebih dari 10 ribu pasukan Mojokerto yang siap bertempur. Terbanyak tentu berasal dari Laskar Hizbullah yang dinakhodai Kiai Nawawi sebagai komandan Laskar Sabilillah.

Yuhan menyebutkan, dari 18 kecamatan, masing-masing mengirimkan 500 hingga 1.000 orang. Jumlahnya juga ditambah dari pasukan gabungan lainnya.

Semangat perjuangan dan peran ulama dalam pertempuran di Surabaya telah banyak diakui. Bahkan Pada 14 November media cetak Harian Rakjat memuat berita berjudul

”Kesaktian Kijai-Kijai, Bom Melempem”. Berita tersebut tidak lepas dari gagalnya pasukan Inggris saat menghujani peluru serta memborbardir Kota Pahlawan dari udara.

Salah satu sasarannya adalah pusat penyiaran radio pemberontak serta rumah tinggal Bung Tomo. Namun semua bom itu meleset dari sasaran. Bahkan bom yang mengarah pada stasiun radio tidak meledak.

Hingga akhirnya Bung Tomo mengakui jika hal itu karena banyak kiai yang hadir Surabaya kala itu. 

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia