Jumat, 16 Nov 2018
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Biomassa, Kurangi Emisi CO2 hingga 90 Persen

Jumat, 09 Nov 2018 22:10 | editor : Mochamad Chariris

Pihak PT Multi Bintang Indonesia menunjukkan lokasi operasional fasilitas biomassa kepada Wabup Pungkasiadi dan seluruh tamu undangan.

Pihak PT Multi Bintang Indonesia menunjukkan lokasi operasional fasilitas biomassa kepada Wabup Pungkasiadi dan seluruh tamu undangan. (Abe Arsyad Radar Mojokerto)

MOJOKERTO –  Seiring berjalannya waktu, perkembangan teknologi semakin maju. Salah satu contohnya adalah adanya inovasi peralihan bahan utama untuk menghasilkan energi panas.

Energi panas yang biasanya dihasilkan dari gas alam (energi fosil) kini bisa diganti dengan energi panas dari hasil pembakaran limbah sekam padi dan juga cacahan kayu yang ramah lingkungan.

Capaian ini dilakukan oleh PT Multi Bintang Indonesia dengan fasilitas biomassa-nya yang baru saja diresmikan di lokasi operasionalnya di Sampangagung, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, Kamis (8/11).

Bekerja sama dengan Tasma Bio Energy, mereka menyebut energi ini dengan istilah Energi Baru Terbarukan (EBT) yang berasal dari pembakaran 80 persen limbah industri pertanian (limbah sekam padi) dan juga 20 persen limbah industri pengolahan kayu (limbah cacahan kayu).

Gunanya untuk memanaskan  boiler yang digunakan dalam proses brewing dan operasional brewery lainnya. President Commisioner PT Multi Bintang Indonesia Tbk, Cosmas Batubara, mengungkapkan, proyek ini mempunyai dua dampak.

’’Pertama, dia bisa melahirkan energi yang diperbarui. Sehingga berdampak pada pengurangan CO2. Kedua, dia bisa berpengaruh pada nilai ekonomi. Yaitu, terkait bahan-bahan yang dipakai adalah dari masyarakat,’’ katanya.

Sehingga, masyarakat terlibat dalam menyuplai materialnya. Selain itu, limbah dari pengoperasian fasilitas biomassa ini nantinya juga akan dapat digunakan kembali sebagai bahan baku pupuk organik. ’’Itu tentu saja mendukung pertanian masyarakat sekitar,’’ katanya.

Terlebih lagi, sekarang di Indonesia berlomba menghasilkan produk-produk sayur mayur yang diproses atau ditanam menggunakan pupuk organik. Dan hasilnya nanti lebih diminati oleh masyarakat. ’’Jadi itu yang disebut hasil lipat ganda dari kegiatan ini. Jadi masyarakat terlibat,’’ paparnya.

Di samping itu, air yang panas yang dihasilkan akan tetap diproses dalam waste treatment. Tidak langsung dilepas langsung ke sungai. ’’Dia diproses juga karena itu merupakan satu standar daripada PT Muliti Bintang. Waste treatment harus selalu diperhatikan. Karena ini merupakan satu hal yang sangat penting,’’ ujarnya.

Hal itu lantaran industri tersebut tengah mengarah kepada industri hijau. Sehingga,  hal-hal yang berkaitan dengan lingkungan hidup itu merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan perusahaan.

Hal ini sejalan dengan UU Perindustrian 3 Tahun 2014 tentang transformasi menyeluruh industri nasional menjadi industri hijau. Yaitu, mengamanatkan pelaku usaha untuk efisien dalam penggunaan bahan baku, energi dan air.

Supply Chain Director PT. Multi Bintang Indonesia Tbk, Chew Boon Hee, mengungkapkan, peresmian fasilitas biomassa ini merupakan pencapaian yang semakin mendekatkan pihaknya dengan salah satu target keberlanjutan perusahaan.

’’Yaitu, menggunakan 100 persen energi panas hasil dari EBT di tahun 2013 nanti untuk semua proses operasional kami,” paparnya. Wakil Bupati (Wabup) Mojokerto, Pungkasiadi, mengungkapkan, bahwa fasilitas ini memanfaatkan sekam.

’’Itu peluang ekonomi yang bisa diambil masyarakat,’’ katanya. Sekam tersebut akan diharga Rp 400 per kilogram. Pungkasiadi menambahkan, sekam itu dibiarkan saja itu sudah ada unsur K-nya (kalium-Red) nya. ’’Apalagi jika sudah dibakar itu tadi,’’ ujarnya.

Menurutnya, untuk daerah terbanyak yang bisa menyetok kebutuhan sekam adalah dari daerah Pacet, Trawas, dan Mojoanyar. (sad)

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia