Rabu, 14 Nov 2018
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Absen Sekolah, Siswa Bakal Disweeping ORI

Sabtu, 03 Nov 2018 08:00 | editor : Mochamad Chariris

Seorang guru memegang siswa yang akan menjalani suntik ORI di SDN Kranggan 1 Kota Mojokerto.

Seorang guru memegang siswa yang akan menjalani suntik ORI di SDN Kranggan 1 Kota Mojokerto. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Pelaksanaan outbreak respons immunization (ORI) telah berlangsung.

Untuk memaksimalkan cakupan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Mojokerto langsung melakukan sweeping. Menyisir anak yang belum terimunisasi karena tidak masuk sekolah.

Kabid Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinkes Kota Mojokerto dr Sri Wahyuni S, mengungkapkan, pada November ini, pihaknya terlebih dulu fokus menyasar anak usia sekolah dan balita.

Mengingat, pada kategori sasaran tersebut merupakan objek yang tidak bergerak. ’’Sehingga petugas yang mendatangi sekolah dan posyandu, karena sasaran ada di sana,’’ terangnya.

Di samping itu, dinkes juga ditarget mencakup minimal 95 persen dari total sasaran proyeksi mencapai 35.266 anak. Jika kurang dari capaian tersebut, penanggulangan penyebaran penyakit yang disebabkan oleh Corynebacterium diphteriae ini menjadi kurang maksimal.

Karena jika terdapat anak yang terjangkit difteri, penderita akan berpotensi menularkan pada orang di sekitarnya. ’’Cakupan ORI difteri putaran pertama dan kedua di atas 95 persen. Harapannya yang ketiga ini juga sama,’’ paparnya.

Karena itu, selain membentuk petugas kesehatan sebagai tenaga vaksinator, juga ada petugas untuk melakukan sweeping. Sebab, selama dua hari pelaksanaan ini, ada sejumlah siswa yang belum mendapatkan vaksin lantaran tidak masuk saat petugas mendatangi sekolah.

Sri mengatakan, baik siswa yang izin sakit atau memang sengaja absen tidak masuk sekolah akan dilakukan penjadwalan ulang. Jika siswa yang belum tervaksin jumlahnya banyak, maka petugas akan kembali mendatangi lembaga tersebut.

Sedangkan kalau jumlahnya sedikit, maka siswa dijadwalkan mengikuti imunisasi di sekolah lainnya. ’’Karena satu vial (botol vaksin) digunakan minimal untuk 8 anak,’’ ujarnya.

Sementara dinkes mendapatkan dropping logistik berupa vaksin, alat suntik, hingga safety box sesuai dengan jumlah sasaran. Dia menyatakan, stok logistik tersebut didistribusikan dari provinsi secara bertahap. ’’Untuk saat ini kebutuhannya masih cukup,’’ imbuhnya.

Selain itu, beberapa anak juga terpaksa harus dilakukan penundaan. Menurutnya, itu lantaran petugas kesehatan mendapati sasaran dalam keadaan sakit. Sehingga, pemberian vaksin dilakukan seminggu berikutnya atau ketika anak sudah dipastikan sembuh.

Dijelaskannya, pelaksanaan ORI akan berlangsung selama dua bulan. Setelah sasaran usia sekolah tuntas, akan langsung dilanjutkan menyentuh sasaran di luar usia sekolah. Dilakukan di masing-masing puskesmas.

Pada tahap tersebut, giliran warga yang di bawah 19 tahun yang harus mendatangi puskesmas. Jika setelah jadwal imuniasi sasaran tidak hadir, maka petugas juga akan melakukan sweeping ke rumah sasaran.

’’Kami juga akan mendatangi anak yang sebenarnya masih usia sekolah tapi sudah bekerja,’’ pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, pelaksanaan ORI difteri dilaksanakan setelah ditetapkannya Provinsi Jatim dan Kota Mojokerto sebagai wilayah dengan kejadian luar biasa (KLB) difteri. Dengan status tersebut, maka seluruh anak usia 1-19 tahun wajib divaksin ulang sebanyak tiga kali putaran.

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia