Rabu, 14 Nov 2018
radarmojokerto
icon featured
Journey
Mengunjungi Kota-Kota di Negeri Gajah Putih (1)

Tiga Kali Bunyikan Klakson, Pengendara Bisa Diajak Kelahi

Jumat, 02 Nov 2018 22:15 | editor : Mochamad Chariris

Kondisi jalan raya di Kota Bangkok, Thailand dipenuhi mobil.

Kondisi jalan raya di Kota Bangkok, Thailand dipenuhi mobil. (Fendy Hermansyah/Radar Mojokerto)

Salah satu negara favorit wisata adalah Thailand. Selain menawarkan wisata alam dan buatan yang eksotis, Negeri Gajah Putih ini juga surga belanja dengan harga terjangkau.

Jawa Pos Radar Mojokerto berkesempatan mengunjunginya. Bagaimana suasana kotanya? 

IKLIM negara yang dipimpin seorang raja ini mirip di Indonesia. Aturan waktu yang berlaku juga sama. Khususnya dengan pengaturan Waktu Indonesia Bagian Barat (WIB).

Penduduk Thailand juga punya penampakan yang tak jauh beda dengan orang Indonesia kebanyakan. Berkulit sawo matang, kuning langsat, dan perawakan tinggi sekitar 165 sentimeter.

Tiba di Bangkok melalui Bandara Suvarnabhumi. Bandara baru yang menggantikan bandara lama Dong Muang. Bandara internasional ini sangat sibuk. Penduduk dunia asal berbagai negara keluar masuk lewat sini.

Wajah-wajah Asia, Arab, Eropa, Amerika, hingga Afrika gampang ditemui di bandara yang namanya kalau di Indonesiakan itu kurang lebih artinya Tanah Emas ini. Petugas bandara dan imigrasi terbilang ketat.

Terutama ketika melintasi ruang pemeriksaan barang dan badan. Jarang ada senyum tapi sopan. Persis di muka bandara bergaya industrial ini ada tol tumpuk tiga.

Kendaraan angkut macam bus bertingkat, mobil kabin besar, taksi, hingga mobil pribadi banyak berseliweran. Kendaraan umum biasa mangkal di parkir yang di depan bandara.

Jawa Pos Radar Mojokerto berangkat dengan agen tur wisata. Lavensia Tour and Travel namanya, milik warga Surabaya. Serombongan 28 orang. Kebanyakan orang Jawa Timur. Rombongan diangkut agen tur dengan bus besar.

Keluar bandara lewat tol melingkar. Dijemput pemandu wisata dari warga lokal yang fasih berbahasa Indonesia. Namanya Mohamad Oman. Asalnya Puket, salah satu provinsi di Thailand selatan.

Meski ramai, bandara ini tetap teratur. Tiap pos pintasan ada petugasnya. Termasuk pengatur lalu lintas. Jalur keluar masuk bandara juga gampang dan landai. Ada eskalator, tangga, hingga jalur buat difabel.

Tanda petunjuk menggunakan bahasa lokal dan Inggris. Ada yang berbahasa Rusia. Pedestarian teras bandara landai. Sehingga gampang dilintasi orang berkoper.

Masuk ke Bangkok sekitar 30 menit dari bandara. Karena akhir pekan, jalanan tak terlalu macet. Kalau hari kerja, kata pemandu, Bangkok gampang macet. Meski banyak tol, Bangkok termasuk kota di dunia dengan tingkat kemacetan yang tinggi.

Polusinya bisa jadi juga sangat tinggi. Jalanan Bangkok dipenuhi kendaraan pribadi. Mobil ber-CC besar seperti Fortuner, Pajero, SUV, sedan mewah, hingga mobil dobel kabin menguasai jalanan. Juga, bus, truk, hingga mobil pengangkut orang. Pemotor sangat sedikit.

’’Orang Bangkok kebanyakan tidak suka naik motor,’’ kata Oman. Banyaknya mobil pribadi dipengaruhi pajak kendaraan yang murah. Harga mobil jika dibanding di Indonesia juga lebih murah.

Pajak sedan keluaran terbaru per tahun hanya 1.000 bath atau sekitar Rp 500 ribu. Mobil seperti BMW di Thailand bukan termasuk barang mewah.

Selain itu, di Thailand juga banyak berdiri pabrik mobil. Perusahaan macam Toyota dan Honda disebut-sebut punya pabrik di situ. Mereka juga mengeluarkan seri mobil khusus yang hanya keluar di Thailand.

Praktis, soal suku cadang dan perawatan mobilnya lebih gampang. Luas jalanan Kota Bangkok lebar dan mulus. Di pusat kota banyak jembatan layang dan akses keluar masuk tol.

Angkutan umum juga banyak seperti bus dan angkutan lokal bernama Tuk-Tuk. Juga ada MRT, kereta layang. Di pusat keramaian ada semacam tempat mangkal ojek roda dua.

Meski jalanan padat, ada suasana lain. Bunyi klakson nyaris tidak pernah terdengar. Padahal, lalu lintas ramai dan kadang saling berebut. Saling tikung. Tapi tak ada klakson. ’’Di sini, klakson jarang dibunyikan. Kecuali saat emergency. Kalau sering klakson itu tanda bukan orang Thai,’’ cerita Oman.

Pernyataan itu agaknya bukan isapan jempol. Sejak hari pertama hingga hari keempat, melintasi jalanan kota Bangkok, Pattaya, dan lainnya, jarang sekali terdengar klakson.

Begitu juga memasuki jalan yang lebih kecil. Atau daerah yang lebih sepi. ’’Kalau pakai klakson itu aneh. Tiga kali klakson, bisa diajak kelahi itu orang,’’ tandas pria 30 tahun ini.

Bus yang kami tumpangi sering kali memotong kendaraan lain. Pun juga sebaliknya. Jika bus disalip kendaraan lain juga tak sampai tekan klakson.

Praktis, rem kendaraan jadi piranti yang sering diinjak pengemudi mobil di sana. Karena sewaktu-waktu bisa berhenti atau mengendurkan kecepatan mendadak.

Meski begitu, ada kendaraan khusus yang memakai pengeras suara. Seperti halnya ambulans. Beberapa kali, ketika melintas di jalanan, berbarengan mobil ambulans.

Suara sirenenya keras sekali. Kendaraan biasanya agak minggir. Atau sekadar berhenti sejenak memberi ruang agar ambulans bisa lewat. (abi)

(mj/fen/ris/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia