Rabu, 14 Nov 2018
radarmojokerto
icon featured
Hukum & Kriminal

Lurah Hadang Eksekusi Rumah Warga Pakai Backhoe

Kamis, 01 Nov 2018 22:45 | editor : Mochamad Chariris

Proses eksekusi rumah di Kelurahan Gunung Gedangan, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto, menggunakan backhoe.

Proses eksekusi rumah di Kelurahan Gunung Gedangan, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto, menggunakan backhoe. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Eksekusi rumah milik Sumarsono, warga Lingkungan Kedungsari, Kelurahan Gunung Gedangan, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto berjalan alot, Rabu (31/10).

Bahkan, eksekusi yang dilakukan juru sita Pengadilan Negeri (PN) Mojokerto sempat dihentikan paksa oleh lurah setempat.

Itu setelah pembongkaran bangunan rumah dilakukan dengan menggunakan bakhoe dianggap bisa menimbulkan kegaduhan hingga kerusakan rumah milik tetangga.

’’Yang jelas, jika eksekusi ini dilakukan dengan alat berat, sangat membayakan,’’ ungkap Lurah Gunung Gedangan A. Fatoni di lokasi.

Apalagi, dengan kontur rumah yang saling berdampingan, dikhawatirkan tingkat kerusakannya akan meluas ke rumah warga lainnya. Kondisi itu sudah terlihat dari keretakan tembok rumah di sisi kanan dan kiri akibat getaran alat berat.

’’Harus dibongkar manual. Sebab, jika ini dipaksakan (menggunakan backhoe) akan menimbulkan kerugian material dan imaterial bagi warga,’’ tandasnya.

Proses eksekusi yang berlangsung sejak pagi itu banyak mengalami hambatan. Selain ada perlawanan dari pihak keluarga, jeritan tangis juga terdengar dari istri Marsono, Miasyah, 56.

Nenek tiga cucu ini tidak terima setelah rumah yang selama ini dihuni bersama suami, anak, dan cucunya itu dieksekusi PN. ’’Sebenarnya ini karena masalah utang,’’ tutur Miasyah, di lokasi.

Namun, dia tak mau membeber berapa jumlah utang yang melilit keluarganya. Sebaliknya, dia juga tidak terima setelah bangunan rumah yang dibongkar tersebut juga berada di atas tanahnya dengan sertifikat jual-beli yang dia punya.

’’Jadi, posisi kami di sini tidak mendapat keadilan,’’ keluhnya. Semantara, itu Panitera PN Mojokerto Herseno Soeharjono menyatakan, pihaknya hanya sebatas melaksanakan putusan PN, Pengadilan Tinggi (PT), dan putusan tingkat kasasi.

Namun, karena di tengah eksekusi ada penolakan warga dengan alasan menggunakan backhoe, eksekusi akhirnya dilakukan dengan cara manual. ’’Karena eksekusi tidak boleh dua kali. Sampai jam berapa pun, eksekusi hari ini (kemarin, Red) harus selesai,’’ tuturnya.

Disinggung terkait pokok perkara, dia tidak menjelaskan secara rinci. Yang jelas, lanjutnya, dari hasil putusan Mahkamah Agung (MA) pada 2012 lalu, majelis hakim mengabulkan permohonan kasasi dari pemohon Sahud Purwanto, warga Jalan Tengger, Kelurahan Wates, Kecamatan Magersari.

Yakni, dengan membatalkan putusan PT Surabaya nomor 572/PDT/2010/PT.SBY, tertanggal 23 November 2010, yang membatalkan putusan PN Mojokerto nomor 64/pdt.G/2009/PN.Mkt, tanggal 05 Mei 2010.

Dalam pokok perkara, MA menyatakan, pihak penggugat adalah pemilik yang sah menurut hukum berdasarkan sertifikat hak milik nomor 1188/Gunung Gedangan dengan luas 115 meter persegi.

’’Dalam putusan itu juga disebutkan. Penggugat mendapat hak untuk mengosongkan tanah sesuai sertifikat hak milik,’’ tuturnya.

Sebaliknya, dalam putusan itu juga menegaskan, bahwa sertifikat hak milik nomor 1188/Gunung Gedangan atas nama tergugat (Sumarsono) tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat.

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia