Rabu, 14 Nov 2018
radarmojokerto
icon featured
Jangan Baca
Kabar Penculikan Anak, Hoax atau Bukan?

Sengaja Disebar untuk Bikin Gaduh Masyarakat

Rabu, 31 Oct 2018 21:34 | editor : Mochamad Chariris

Polresta Mojokerto memastikan pesan waspada penculikan terhadap yang menyebar di tengah masyarakat adalah hoax.

Polresta Mojokerto memastikan pesan waspada penculikan terhadap yang menyebar di tengah masyarakat adalah hoax. (Khudori Aliandu/Radar Mojokerto)

Penculikan anak. Kabar itu belakangan menyebar di masyarakat. Dampaknya, di kampung maupun di sekolah, resah. Nah, kabar yang beredar lewat media sosial (medsos) itu hoax atau bukan?

KEMBALI maraknya kabar penculikan anak di bawah umur belakangan beredar medsos membuat Polresta Mojokerto angkat bicara.

Apalagi, dalam pesan berantai itu juga mencatut nama institusi Polri sebagai pihak yang mengeluarkan imbauan. Agar hal itu tidak kian meluas, polisi menegaskan hal itu tidak benar atau hoax.

’’Itu berita bohong yang sengaja disebar untuk menciptakan kegaduhan,’’ ungkap Kapolresta Mojokerto AKBP Sigit Dany Setiyono. Kata dia, isu tidak benar terkait penculikan anak sebenarnya sudah terjadi sejak lama. Dan telah dikrarifikasi kepolisian.

Sayangnya, setelah lama redam, isu yang membuat para orang tua panik dan ketakutan itu muncul lagi. Bahkan, hingga detik ini terkesan disebar melalui pesan berantai di grup-grup WhatsApp (WA) untuk menciptakan kegaduahan di tengah masyarakat.

’’Jadi, isu ini mengalami pasang surut. Tapi, yang jelas, kami harus kembali meluruskan bahwa itu (isu penculikan) yang beredar tidak benar,’’ tandasnya.

Perwira dengan dua melati di pundak ini menegaskan, polisi belum pernah membuktikan adanya kasus penculikan anak di daerah manapun. ’’Di daerah mana pun, kasus ini belum pernah terjadi. Dan semoga tidak akan pernah terjadi. Termasuk di Mojokerto,’’ tandasnya.

Dengan begitu, untuk menjadi netizen yang cerdas, kepolisian mengajak semua elemen masyarakat tidak mudah terprovokasi dan bijak dalam menyikapi berbagai informasi yang belum diketahui kebenarannya.

’’Saring dulu. Jika ragu, langsung klarifikasi dan konfirmasi ke pihak kepolisian terdekat,’’ tandasnya. Sigit menegaskan, pengawasan di wilayah hukumnya terus diatensi.

Pengamanan di objek vital terus dipertebal untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diiingikan. Tidak hanya terkait penculikan anak, melainkan tindak kriminal secara umum.

Sebaliknya, sebagai langkah preventif, kepolisian terus melakukan sosialiasi terhadap instansi pendidikan dan masyarakat. Termasuk orang tua dan lingkungan tempat tinggal. ’’Wajib hukumnya mengingatkan sekaligus meningkatkan pengawasan terhadap anak,’’ tegasnya.

Mereka diminta tetap waspada dan tidak mudah memberi kebebasan atau membiarkan anaknya untuk main sendirian.  Termasuk pulang-pergi sekolah. Menyusul, kerawanan dan ancaman kapanpun, di manapun bisa saja datang dan terjadi.

’’Baiknya didampingi atau diberikan fasilitas antar-jemput. Ini untuk kebaikan bersama. Terlepas ada tidaknya berita hoax penculikan anak,’’ terangnya.

Untuk betul-betul menekan ancaman penculikan anak, sejauh ini kepolisian terus mempertebal pengamanan di wilayah hukumnya sebagai tindakan preentif. Baik patroli di objek-objek vital, tempat keramaian, perbankan, dan lingkungan sekolah.

Patroli ini dilakukan secara rutin setiap pagi, siang, sore dan malam hari. Kondisi itu tak lain juga untuk menutup gerak aksi kejahatan jelanan. ’’Setidaknya, saat tahu keberadaan kami, pelaku bisa pikir ulang saat hendak melakukan tindak kejahatan,’’ tandasnya.

Sigit mengaku dengan keterbatasan jumlah personel menjadikan peran serta masyarakat dalam melakukan pencegahan tindak kriminalitas. ’’Artinya, kondusivitas wilayah ini bukan di pihak kepolisian saja. Melainkan ikut andilnya masyarakat juga,’’ pungkasnya

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia