Rabu, 14 Nov 2018
radarmojokerto
icon featured
Features
Nasib SD Inklusi Nurul Islam Mojokerto

Diajar Tiga Relawan tanpa Dibayar, Siswa Belajar sambil Tiduran

Jumat, 26 Oct 2018 21:23 | editor : Mochamad Chariris

Seorang relawan memberikan bimbingan siswa SD Inklusi Nurul Islam Sumengko, Kec. Jatirejo, Kabupaten Mojokerto.

Seorang relawan memberikan bimbingan siswa SD Inklusi Nurul Islam Sumengko, Kec. Jatirejo, Kabupaten Mojokerto. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

Di tengah berkembangnya dunia pendidikan, masih saja ditemukan sekolah minoritas. SD Inklusi Nurul Islam Sumengko, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto adalah salah satunya.

Selain mengajar, membimbing dan mendidik 22 siswa berkebutuhan khusus, tiga guru relawan ini tidak pernah sepeser pun menerima gaji. Seperti apa kondisinya?

SUARA riuh dari salah satu ruang kelas juga perpustakaan ini sepintas nampak seperti lembaga pendidikan Sekolah Dasar (SD) pada umumnya. Sejenak, dari luar ruangan, sebanyak 22 siswa berseragam merah putih dan batik tidak menunjukkan adanya perbedaan.

Ada yang duduk sembari tangan diletakkan di meja dampar. Namun, ada pula yang sengaja belajar dengan klesetan (tiduran). Semakin mendekati dalam ruang kelas, perlahan nampak perbedaan di lembaga pendidikan ini.

Di ruang kelas tidak terlihat ada meja dan kursi berjajar selayaknya di ruang kelas SD-SD Negeri pada umumnya. Di balik para siswa, dalam ruangan kurang lebih 5 x 10 meter ini juga terdapat tiga orang pendidik.

Mulanya, mereka tidak nampak seorang pengajar. Sebab, selama mengajar berikut membimbing dan mendampingi tidak ada meja khusus. Selain harus berbaur dan melekat, dengan duduk, tiga guru ini rupanya juga bertugas mengarahkan para siswa.

Sementara di luar ruang kelas, puluhan wali murid menunggu sampai sang buah hati mereka selesai bersekolah. ”Ya, begini ini aktivitas pendidikan di sekolah kami setiap harinya,” ujar Wakasek SD Inklusi Nurul Islam Sumengko, Muarif.

Dia sendiri lebih sering turun langsung membantu tiga guru yang ada untuk mendampingi para siswa. Kemarin, dia bahkan nampak dengan tulus mengajari para siswa menjawab soal-soal mata pelajaran yang telah diberikan para guru sebelumnya.

”Tidak semua siswa duduk di depan dampar (meja mengaji, Red). Sebagian siswa ada yang harus kita ajari dengan cara tiduran di lantai,” imbuhnya. Muarif menceritakan, dari sejak berdiri tahun 2016 silam, SD Inklusi hingga kini memang kesulitan mendapati tenaga pengajar.

Apalagi, idealnya, tiga siswa minimal harus dibimbing oleh seorang guru. ”Ini yang masih menjadi kendala,” ujarnya. Namun, pengabdiannya tak boleh berhenti. Kendati sekolah tersebut baru mempunyai tiga guru pengajar.

Dia menjelaskan, tiga guru tersebut datang adalah relawan yang bersedia mengabdi meski tanpa digaji. ”Umumnya itu memang tiga murid dibimbing satu guru. Karena memang agak susah’’ jelasnya.

Mantan Kepala Sekolah SLB Sooko ini menambahkan, saat ini kendala yang dihadapi adalah tidak ada satupun guru melamar menjadi guru di SD Inklusi Nurul Islam. Hal itu dinilainya cukup logis.

Sebab, selain honor yang terbilang sangat rendah, mengajar di SD ABK juga tidak semudah yang dibayangkan. ”Biaya ke sekolah dari wali murid itu juga sukarela. Jadi, kami nggak bisa bayar guru banyak. Kami cuma bisa memberi ganti uang bensin Rp 250 ribu per guru per bulan,’’ paparnya.

Dia menambahkan, dari beberapa SD negeri di Kabupaten Mojokerto, banyak sekolah yang tidak mau menggabungkan sekolahnya dengan SD Inklusi. Hingga akhirnya, hanya SD Nurul Islam yang mau menerima SD Inklusi.

”Padahal setahu kami, pada tahun 2013 lalu, pemerintah sudah mengeluarkan UU tentang Sekolah Inklusi. Bahwa, sekolah umum wajib menerima anak ABK di naungannya,’’ ujarnya. (ras)

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia