Rabu, 14 Nov 2018
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto
Dawuh KH. Chusaini Ilyas untuk Santri (1)

Jangan Mengubah Sunnatullah, Agar Santri Tak Kesasar

Rabu, 24 Oct 2018 01:41 | editor : Mochamad Chariris

KH. Chusaini Ilyas, Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Al Misbar, Dusun Karangnongko, Desa Mojoranu, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.

KH. Chusaini Ilyas, Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Al Misbar, Dusun Karangnongko, Desa Mojoranu, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. (Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) tahun 2018 kemarin hendaknya dijadikan para santri sebagai momentum dalam meneguhkan keyakinan akan ketetapan Allah SWT terhadap alam semesta dan segala isinya.

Ketetapan ini harus benar-benar terpatri dalam hati para santri untuk diimani. Agar dalam setiap menjalankan sekaligus mengamalkan ajaran-ajaran ahlu sunah wal jamaah (aswaja), para santri tidak kesasar (tersesat). Atau bahkan, mengubah dari kaidah-kaidah yang telah ditetapkan Allah SWT dalam kitab suci Alquran.

Demikian ini disampaikan KH. Chusaini Ilyas khusus kepada santri Indonesia pada peringatan HSN yang jatuh setiap tanggal 22 Oktober itu di kediamannya, di Pondok Pesantren Salafiyah Al Misbar, Dusun Karangnongko, Desa Mojoranu, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.

Dawuh Kanjeng Nabi (Muhammad SAW, Red): Akan ada 73 golongan. Namun, yang masuk surga (nantinya) hanya ada satu golongan. Namanya, ahlu sunnah wal jamaah,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Mojokerto, Minggu (21/10).

Kiai kharismatik ini menerangkan, santri zaman sekarang harus benar-benar memahami esensi dari ajaran aswaja yang telah diwariskan kiai dan para ulama terdahulu. Di mana, makna sunah yang terkandung dalam aswaja erat kaitannya dari kandungan-kandungan tiga sunah.

”Sunah itu ada berapa? Ada tiga (3),” jelas Rais Syuriah PC NU Kabupaten Mojokerto tiga periode ini. Sunah yang pertama, terang Kiai Chusaini adalah sunnatullah. Kedua, sunnatur rasul. Dan ketiga sunnatu waliyullah.

Sunnatullah gak iso diganti. Sunnatullah gak iso dioper-oper. (Sunnatullah itu tidak bisa diganti dan tidak bisa diubah-ubah),” tandasnya. ”Lan, sunnatullah iku sing akeh, gak pas karo akale manungso. (Kebanyakan sunnatullah tersebut tidak dapat dipikir dengan akal manusia),” imbuh kiai berusia 90 tahun ini.

Kiai Chusaini lantas mencontohkan kisah di saat menjelang kelahiran Nabi Muhammad SAW di Kota Makkah, Saudi Arabia, dengan Raja Abraham asal Yaman. Mendengar kabar nabi akhir zaman ini hendak dilahirkan sang ibu, Aminah, Raja Abraham pun geram.

Dia kemudian menyiapkan seribu gajah-gajah pilihan berikut ribuan pasukan (prajurit) sebagai penunggangnya. ”Raja Abraham bersama pasukannya hendak menggempur Kakbah. Menggempur tempat kelahiran Nabi Muhammad SAW,” jelasnya.

Namun, saat rombongan sudah tiba di Mina, Raja Abraham bersama pasukan dan seribu gajah yang dibawa dihadang pasukan burung Ababil yang diturunkan dari neraka oleh Allah. Rombongan burung yang diperintah untuk melawan Raja Abraham bersama pasukannya ini juga dibekali kerikil.

Satu burung Ababil membawa satu kerikil. Kemudian dijatuhkan tepat di atas rombongan Raja Abraham beserta pasukan dan ribuan gajahnya. ”Ya itu namanya sunnatullah,” paparnya. Dalam Alquran, kisah ini juga diterangkan, sebuah peperangan hebat dari tentara bergajah yang disebutkan dalam surah Al-Fil.

Kedatangan para tentara bergajah sembari menungganggi gajah besar tersebut memang memiliki tujuan khusus untuk menghacurkan Kakbah. ”Itu bukti. Bahwa, sunnatullah langsung turun. Karena Allah telah menetapkan bakal ada nabi akhir zaman (Nabi Muhammad SAW, Red),” tegasnya. 

Lantas bagaimana santri memaknai berikut meyakini sunnatullah tersebut di zaman sekarang? Kiai Chusaini menyatakan, karena telah menjadi ketetapan Allah, dengan demikian, tidak ada satupun manusia yang bisa merubah. Atau mengganti sunnatullah dengan aturan-aturan yang dengan sengaja dibuat-buat menurut versi akal dan pikiran manusia.

”Hingga sekarang, sunnatullah ya jangan diubah. Ono wong gak sekolah, gak ngaji, terus pinter, dadak direweli (Ada orang tidak pernah sekolah, tidak pernah mengaji, tapi pintar, ya jangan diprotes),” paparnya sembari tertawa khas.

Sentilan tersebut sekaligus sebagai gambaran, di mana kemampuan dan kapasitas ilmu manusia hanya Allah yang mengetahui dan berhak menetapkan. Apakah manusia tersebut sebenarnya sangat mendalami ilmu agama, termasuk ajaran aswaja tanpa diraih melalui dunia pendidikan formal maupun di lingkungan pesantren. Hal tersebut merupakan rahasia Allah SWT semata.

”Sebab, nyebarno agama Islam nek nuruti sing ngaji, sing sekolah, gak mlaku. Gusti Allah ngeculno wong gak sekolah, gak ngaji, mesti isone. Lha wong nabi-rasul iku ae gak ono sing duwe ijazah, hare. (Kalau ingin mengamalkan ilmu melalui dakwah, namun harus ada syarat harus memegang status formal dulu, ya tidak jalan. Sebab, kendati umatnya tidak sekolah, tidak mengaji, jika Allah menetapkan, pasti bisa. Contohnya, nabi dan para rasul saja tidak ada satupun yang punya ijazah),” pungkas Kiai Chusaini. (bersambung)

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia