Rabu, 14 Nov 2018
radarmojokerto
icon featured
Sambel Wader
Obrolan Tentang Hari Santri Nasional 2018

Santri Hari Ini Menghadapi Revolusi Industri Point Zero

Senin, 22 Oct 2018 22:35 | editor : Mochamad Chariris

Ketua IPNU Kabupaten Mojokerto Moch. Shofiyuddin.

Ketua IPNU Kabupaten Mojokerto Moch. Shofiyuddin. (Sofi for Radar Mojokerto)

MENGHADAPI era­ glo­ba­lisasi saat ini, dibu­tuhkan sumber daya manusia (SDM) yang handal dalam berbagai hal. Termasuk bagi santri yang masih berada di pesantren. Selain memperkuat ilmu aga­ma, santri dituntut mampu menguasai infor­masi teknologi (IT). Berikut perbincangan Moh. Ramli bersama Ketua IPNU Kabupaten Mojokerto Moch. Shofiyuddin.

Apa pendapat Anda tentang HSN tahun ini?

Santri hari ini itu adalah santri yang milenial. Jadi, dia itu mengarah pada era digital dan visual. Yaitu, teknologi dan perkembangan era modern. Sekarang mengaji kitab pun sudah menggunakan smartphone.

Perbedaan santri zaman now dengan santri zaman old?

Santri zaman old itu terlihat dari pertama. Dari model penampilan, dari segi mereka belajar di pesantren, tradisionalitasnya sangat kental. Karena mereka hidup di pesantren. Dan yang mengabdikan diri pesantren masih kuat tradisi ke agamanya.

Namun, untuk santri hari ini, mereka berusaha untuk masuk ke ranah-ranah  era modern. Di mana, yang saya sebut santri milenial itu mereka lebih pada teknologi untuk mendukung mereka menuntut ilmu di pesantren. 

Mengapa HSN harus diperingati setiap tahun?

HSN itu merupakan hari momentum yang diidamkan semua santri. Di mana, kita memperingati jihad Nahdatul Ulama (NU) pada 22 Oktober 1945.  Yaitu, pekikan semangat KH. Hasyim Asyari yang memang menginstruksikan kepada seluruh santri di seluruh penjuru untuk jihad melawan penjajah.

Dan, di situ semangatnya diaplikasikan oleh santri sebagai salah satu semangat juang membela NKRI. Di mana, hari ini, santri memang salah satu sosok penting dalam menjaga kedaulatan NKRI dari gangguan yang ingin memecah belah bangsa. Oleh karenanya, jangan sampai peringatan HSN ini hanya menjadi seremonial belaka.

Bagaimana seharusnya santri dalam menyikapi arus teknologi?

Minimal harus mengenal berbagai macam bidang. Seperti entrepreneur, digitalisasi, visualisasi, media, dan sebagainya. Namun, tetap pada ranah yang arif ala Nahdatul Ulama atau ala santri tradisional yang mengedepankan rasa toleransi dan perdamain untuk mengembangkan dakwah. Hari ini, kita tahu internet yang sehari-harinya berkutat dengan kehidupan kita.

Seperti kita pegang handphone ke mana-mana. Dari bangun tidur hingga tidur lagi. Santri pun sama. Meskipun ada di pesantren salaf (salafiyah), dia pulang harus tau tentang itu. Manfaatnya apa? Yaitu, untuk menyebarkan kebaikan seorang santri yang betul-betul menggunkan media secara benar dan manfaat.

Bagaimana cara santri dalam menyikapi paham yang ekstrem?

Ini pertanyaan menarik. Di mana, hari ini santri tidak cukup hanya belajar mengaji di pesantren. Karena santri hari ini harus tanggap dengan kondisi sosial. Jangan apatis. Karena santri hari ini menghadapi revolusi industri point zero.

Yaitu, ketika santri dihadapkan dengan kehidupan modern, tetapi santri tidak mampu menghadapi era teknologi. Tentu akan kalah bersaing dengan yang lain. Akhirnya, santri juga harus belajar organisasi, ekonomi, sosial dan juga politik.

Harapan Anda untuk santri ke depan?

Untuk seluruh santri di Nusantara, jangan hanya belajar di pesantren. Mungkin kalau belajar agama di pesantren dengan kiai itu cukup. Tapi, untuk menghadapi kehidupan sosial, harus belajar dari segala macam bidang. Terutama, yang hari ini ada di sekitar kehidupan kita. Yaitu, teknologi dan media sosial (medsos). 

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia