Kamis, 15 Nov 2018
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Tanamkan Spirit Resolusi Jihad, Siswa Bersekolah Pakai Sarung

Senin, 22 Oct 2018 11:49 | editor : Mochamad Chariris

Siswa SMPN 1 Kota Mojokerto saat mengikuti apel memeringati Hari Santri Nasional (HSN) Tahun 2018, Senin (22/10) pagi.

Siswa SMPN 1 Kota Mojokerto saat mengikuti apel memeringati Hari Santri Nasional (HSN) Tahun 2018, Senin (22/10) pagi. (SMPN 1 for Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Hari Santri Nasional (HSN) 2018 di Kota Mojokerto juga diperingati kalangan siswa-siswi negeri, Senin (22/10) pagi. Salah satunya oleh ratusan pelajar di SMPN 1 Kota Mojokerto.

Saat mengikuti Apel HSN dipusatkan di halaman sekolah, kali ini, para siswa tidak mengenakan seragam sekolah. Mereka memasuki lembaga pendidikan negeri di bawah naungan Pemkot Mojokerto tersebut dengan penampilan berbeda. Yakni, ala santri pesantren.

Siswa laki-laki mengenakan baju koko warna putih, bersarung, dan berpeci. Sedangkan, siswa perempuan mengenakan busana muslim lengkap dengan kerudung atau jilbab.

”Hari ini, kami mengajak para siswa untuk sama-sama memperingati HSN. Agar mereka lebih mengenal tentang sejarah kebangsaan. Terutama, peran para santri dalam memperebutkan kemerdekaan RI bersama para kiai,” kata Kasek SMPN 1 Kota Mojokerto, Mulib.

Apel yang dimulai tepat pukul 07.00 ini dikemas seperti sedang berada di lingkungan pesantren. Sebanyak 925 siswa-siswi terdiri dari kelas VII, VIII hingga IX nampak khidmat hingga selasainya apel.

”Semangat Revolusi Jihad 22 Oktober 1945 dipimpin Hadrastusyekh KH Hasyim Asy’ari sangat luar biasa. Hasilnya, para santri mampu menunjukkan peran mencintai tanah air dan berhasil mengusir penjajah,” papar orang nomor satu di SMPN 1 Kota Mojokerto. "Spirit inilah yang kami harapkan selalu ada dalam hati para siswa sekarang. Mencintai dan menjaga NKRI," tandasnya. 

Sementara itu, Destra siswa kelas VIII H mengaku saat mengikuti apel serasa menjadi seorang santri. Selain mengenakan sarung dan baju koko, jiwa kepesantren nampak menyemangatinya untuk lebih tekun lagi dalam menimba ilmu.

Terutama, tentang sejarah kemerdekaan RI yang tidak dipisahkan dari santri dan kiai. ”Senang, bisa merasakan kayak anak-anak santri. Lebih rendah hati. Lebih tertata akhlaknya. Tidak seperti biasanya, nglempo-nglempo di teras dan dalam kelas bareng teman-teman,” papar siswa asal Jalan Semeru No 281C, Kelurahan/Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto ini.

Tak hanya siswa muslim. Siswa non-muslim juga mengikuti apel. Namun, mereka tidak mengenakan sarung, baju koko dan berpeci. Sebagai gantinya, tetap mengenakan seragam sekolah dan sebagian berbusa sopan.

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia