Rabu, 14 Nov 2018
radarmojokerto
icon featured
Jangan Baca

Mertuaku Tak Semanis Dulu Lagi

Selasa, 16 Oct 2018 23:00 | editor : Mochamad Chariris

Ilustrasi

Ilustrasi (Jawapos.com for Radar Mojokerto)

Mangan sego gak ngombe banyu

Banyune tak ganti susu

Nek ngerti wong tuomu ngunu

Aku ora bakal nikahi awakmu

MENJALANI kedekatan bersama mertua lebih mudah jika sudah dikenal jauh sebelum menjadi bagian keluarga. Akan tetapi, bila hal itu sebaliknya, bukan tidak mungkin yang dirasakan justru hanya kekecewaan.

Perkawinan bukan hanya menyatukan laki-laki dan perempuan, melainkan juga menyatukan dua buah keluarga dalam satu ikatan pernikahan.

Dalam hal ini, seorang menantu bertanggung jawab menghormati kedua mertua selayaknya orang tua sendiri. Begitupun sebaliknya. Seringkali, terjadi perselisihan antara menantu dan mertua karena perbedaan pendapat.

Hal inilah yang dialami Mukiyo (nama samaran), 26, warga asal Kecamatan Kemlagi setelah menikahi Tulkiyem (nama samaran), 25,  setahun lalu. Sebelum meminang Tulkiyem, Mukiyo mengira mertuanya mengizinkan menjadi bagian dari hidupnya.

Sayangnya, dugaan itu melenceng. Mukiyo menceritakan, orang tua Tulkiyem dulunya memang keluarga yang hangat dan harmonis. Hari-hari keluarganya sangatlah berwarna pada saat itu.

Sehingga tertanam harapan bakal menjalani bahtera rumah tangga dengan bahagia dan harmonis. ’’Aku yo mbiyen bahagia banget pokoke,’’ katanya. Namun, setelah menikah, kenyataan berkata lain. Jangankan ngobrol, baik di rumah mertua, tersenyum manis saja mertua kepada Mukiyo tidak pernah.

Apalagi, niat awal Mukiyo untuk membawa Tulkiyem hidup di luar rumah mertuanya tersebut hanya angan-angan semata. Orang tua Tulkiyem tidak mengizinkan putrinya menjalani rumah tangga di luar rumah. ’’Mari kawin akau dicuekin,’’ imbuhnya.

Walau perasaan dan tingkah Tulkiyem kepada Mukiyo tak berubah, namun rasa pahit bahkan kecut ketika lama-kelamaan Mukiyo menyadari. Setengah tahun menikah dia tak pernah dianggap menantu oleh mertuanya.

’’Pokoknya aku gak koyo keluargae,’’ tambahnya. Padahal, Mukiyo dan Tulkiyem sudah dikaruniai seorang buah hati. Merasakan hal itu, Mukiyo mencoba berbicara kepada istrinya. Hingga meminta pendapat tentang nasib masa depan kehidupan keluarga kecil mereka.

Tapi sayang, Tulkiyem hanya menjawab dirinya tidak bisa apa-apa. Bahwa, keputusan dan kebahagian orang tuanya adalah nomor satu. Lantaran Mukiyo menganggap tidak ada yang mendukung, dia akhirnya memilih jalan berpisah.

’’Meski abot, iyo iki mungkin wes dadi nasibku karo bojoku,’’ jelasnya dengan mata berkaca-kaca. Mereka pun sama-sama menanggung kesedihan mendalam. ’’Aku lan bojo pokoke wes gak ngerti arep lapo maneh,’’ tandasnya.

Karena tidak ingin larut dalam permasalahan dia pun memutuskan mengurus perceraian di Pengadilan Agama (PA) Mojokerto. (ras)

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia