Jumat, 16 Nov 2018
radarmojokerto
icon featured
Features
Kaum Tunarungu Dipercaya Menjadi Perajin Sepatu

Lebih Rajin dan Telaten, Dilarang Duduk Berhadapan

Kamis, 13 Sep 2018 15:00 | editor : Mochamad Chariris

Salah satu karyawan perajin sepatu milik Emru Suhadak di Kel. Surodinawan, Kec. Prajurit Kulon, Kota Mojokerto.

Salah satu karyawan perajin sepatu milik Emru Suhadak di Kel. Surodinawan, Kec. Prajurit Kulon, Kota Mojokerto. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

Keterbatasan fisik bukanlah halangan bagi para penyandang disabilitas untuk bekerja dan berusaha. Mereka tetap memiliki kelebihan yang bisa dimanfaatkan dalam mendapatkan pundi-pundi uang demi memenuhi kebutuhan hidup.

Seperti para penyandang tunarungu di tempat usaha kerajinan sepatu milik Emru Syuhada, di Kelurahan Surodinawan, Kecamatan Prajurit Kulon.

CEKATAN dan telaten. Mungkin kata tersebut cukup menggambarkan situasi para pekerja saat menggarap satu per satu pernik-pernik sepatu yang dikhususkan bagi kelompok marching band itu.

Meski proses pembuatan sepatu terlihat rumit, namun tak sedikit dari mereka justru nampak serius hingga jarang berkomunikasi satu sama lain demi menjalankan tugas. Bahkan, suasana besali (tempat produksi) yang biasanya terasa panas dan riuh, justru tampak sunyi dan sejuk.

Hanya terlihat beberapa orang yang sibuk mengusung bahan-bahan baku, seperti sol, kap, dan busa. Selanjutnya dipola dan dipotong-potong menyesuaikan model sepatu yang dipesan pelanggan. Selebihnya, mereka hanya duduk dan fokus terhadap pekerjaan masing-masing.

Ya, di usaha kerajinan sepatu milik Emru Syuhada inilah para pekerja penyandang tunarungu itu bisa diterima layaknya pekerja normal biasa. Meski menyandang keterbatasan pendengaran, namun status mereka tak dibedakan dengan pekerja lain yang memiliki fisik sempurna.

Bagi Emru, semua orang punya kelemahan dan kelebihan.Tinggal bagaimana cara mengasah kelebihan itu dan menutupi kekurangannya. Dan hal tersebut yang telah dibuktikan dengan menampung para penyandang tunarungu sebagai karyawan. Sejak tahun 2011, dia telah menerima hingga 25 para disabilitas tunarungu dan dipekerjakan dengan layak.

’’Dulu mereka itu keliling ngelamar pekerjaan sebagai tukang sepatu, tapi selalu nggak diterima. Awalnya saya coba dulu, dan ternyata hasilnya juga bagus. Malah lebih rapi. Kalau ditotal sejak awal ya ada puluhan. Tapi, sekarang tinggal empat orang. Mereka ada yang berasal dari Lumajang, Banyuwangi, Jombang dan Mojokerto,’’ ungkap Emru ditemui di kediamannya di Surodinawan Gang 2, Kelurahan Surodinawan, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto.

Ada sejumlah trik khusus yang dilakukan Emru agar proses bekerja mereka bisa lebih fokus. Yakni, dengan menata letak duduk antarpenyandang tunarungu agar saling bersebelahan. Mereka dilarang duduk saling berhadapan untuk menghindari pecahnya konsentrasi. Sehingga dapat mengganggu kelancaran pekerjaan.

’’Mereka kalau berkomunikasi satu sama lain kan mengandalkan kecermatan penglihatan lewat gerak tubuh yang diperagakan, layaknya kata dan kalimat. Kalau duduk berhadapan mereka akan mudah berkomunikasi. Tapi, kalau bersebelahan, bisa dibilang sulit. Akhirnya jarang berkomunikasi dan tetap fokus pada pekerjaan,’’ tambah pria berkacama minus ini.

Meski kini tinggal empat orang saja, bukan berarti mereka diberhentikan secara sepihak. Mereka memang keluar dari pekerjaan sebagai tukang sepatu lantaran telah memiliki pekerjaan yang lebih layak. Seperti membuka usaha sendiri hingga diterima bekerja di perusahaan besar. Seperti yang dialami Taufik.

Salah satu mantan karyawan Emru yang kini memiliki jabatan penting di perusahaan terbesar di kawasan Ngoro Industri Persada (NIP). Didapuk sebagai koordinator karyawan penyandang disabilitas, Taufik dirasa mampu menjadi penerjemah bahasa bagi pimpinan perusahaan.

Kemampuan ini yang tidak banyak dikuasai banyak orang hingga Taufik seperti tumpuan utama. Baik bagi perusahaan maupun karyawan sesama penyandang disabilitas. ’’Sekarang perusahaan banyak yang mengontrak disabilitas karena pekerjaannya rajin dan bagus. Jadi butuh ada penerjemah,’’ ungkap Taufik, warga asal Gondang ini dengan bahasa terbata-bata. 

(mj/far/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia