Jumat, 16 Nov 2018
radarmojokerto
icon featured
Mojopedia
Kisah di Balik Stasiun Mojokerto

Jadi Tempat Pertemuan Politik Kiai Wahid Hasyim

Rabu, 12 Sep 2018 15:00 | editor : Mochamad Chariris

Stasiun Mojokerto di Jalan Bhayangkara hingga saat ini masih difungsikan.

Stasiun Mojokerto di Jalan Bhayangkara hingga saat ini masih difungsikan. (Rizal Amrullah/Radar Mojokerto)

Selain sebagai pemberhentian kereta api (KA), Stasiun Mojokerto juga memiliki nilai historis pada masa perjuangan. Tak sekadar menyambungkan moda transportasi dari satu kota ke kota lain, namun memiliki peran politik.

Hal ini tak lepas pada masa lalu moda transportasi KA menjadi salah satu jalur yang paling sibuk. Stasiunnya masuk dalam klasifikasi stasiun besar karena sudah hampir menghubungkan seluruh kota-kota besar di Jawa.

KONDISI itulah yang tak jarang membuat terjadinya pertemuan-pertemuan politik di Stasiun Mojokerto. Salah satunya pertemuan yang pernah dilakukan tokoh nasional KH Wahid Hasyim.

”Wahid Hasyim pernah melakukan pertemuan dengan seorang pengusaha muda keturunan Arab di Stasiun Mojokerto,” terang sejarawan Mojokerto, Ayuhanafiq. Pegusaha muda itu adalah Ali Martak. Kala itu, Kiai Wahid Hasyim sudah menjadi tokoh nasional dan juga Ketua Muda Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PB NU).

Sementara itu, keluarga Ali Martak memiliki bisnis yang besar di Mojokerto. Tak lain adalah perusahaan tenun modern Kesono NV di Kecamatan Gondang, sekaligus bisnis keluarga. Selain itu, keluarga keturunan Arab lainnya juga memiliki perusahaan tekstil di Dinoyo, Kecamatan Jatirejo.

”Dari kantor pusatnya di Surabaya. Keluarga Martak sering bepergian ke Mojokerto menggunakan kereta api,” ulasnya. Hingga akhirnya, pada suatu hari, keduanya bertemu di Stasiun Mojokerto. Dalam pertemuan itu terjadi klarifikasi atas beberapa sikap politik Kiai Wahid Hasyim yang dinilai kurang tepat.

Ali Martak menganggap, garis politik yang dilakukan putra Pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy’ari itu cukup membahayakan, karena terlalu dekat dengan Jepang. ”Salah satu yang tidak disepakati Ali Martak adalah usulan Wahid Hasyim agar Jepang melatih para pemuda Indonesia,” terangnya.

Disamping itu, pengusaha muda itu juga melempar beberapa pertanyaan kepada ayah Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tersebut. Di antaranya persoalan seikerai atau menghormat dengan cara membungkuk ke arah matahari. Kendati demikian, kata Yuhan, tokoh muda NU mampu menjawab pertanyaan dengan bijak.

Menurut Yuhan, dalam pandangan Kiai Wahid Hasyim, saat itu tidak tepat menjadikan Jepang sebagai musuh besar. Akan tetapi, Jepang harus dijadikan alat menuju kemerdekaan. Salah satu usulan Kiai Wahid Hayim adalah konsep pendidikan kedisiplinan dan ilmu kemiliteran.

Yang kemudian usulan itu diterima dan Jepang mendidik para pemuda muslim yang dinamakan pelatihan Hizbullah. ”Akhirnya sikap Ali Martak berubah setelah pertemuan di Stasiun Mojokerto,” terangnya.

Dari yang awalnya berseberangan dengan Kiai Wahid Hasyim, pengusaha kelahiran Surabaya tahun 1924 itu akhirnya berbalik mengikuti arah kebijakan salah satu tokoh yang mendapat gelar pahlawan Nasional itu. ”Fragmen semacam itu barangkali kerap terjadi di Stasiun Mojokerto,” paparnya.

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia