Minggu, 21 Apr 2019
radarmojokerto
icon featured
Hukum & Kriminal

Curi Beras Jatah Raskin untuk Uang Saku Sekolah Anak

30 Agustus 2018, 05: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Lima tersangka pembobolan gudang Bulog Subdivre II Surabaya Selatan sudah ditetapkan tersangak dan ditahan di Mapolres Mojokerto.

Lima tersangka pembobolan gudang Bulog Subdivre II Surabaya Selatan sudah ditetapkan tersangak dan ditahan di Mapolres Mojokerto. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Berdalih butuh uang untuk kebutuhan hidup dan sekolah anak, menjadi motif lima kuli panggul di gudang Bulog Subdivre II Surabaya Selatan di Jalan RA Basuni, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, membobol beras jatah keluarga miskin (raskin).

Selain mengamankan barang bukti puluhan karung raskin ukuran 50 kilogram (kg) dan pikap, polisi juga masih mendalami kemungkinan adanya keterlibatan orang dalam.

Kelima tersangka ini adalah Roy Laurandha alias Jek, penghuni rumah kos di Kelurahan Kedungsari, Kecamatan Magersari dan Darno warga Dusun Balongkrai, Kelurahan Pulorejo, Kecamatan Prajurit Kulon.

Sedangkan, tiga lainnya masing-masing Sukadi, Kasiyan alias Sinyo, dan Achmad Sa’i warga asal Dusun/Desa Ngabar, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto.

’’Penghasilan tidak cukup. Apalagi, belakangan ini paling mentok cuma dapat Rp 20 ribu per hari,’’ ungkap Kasiyan pada pers rilis di Mapolres Mojokerto, Rabu (29/8).

Kasiyan juga diduga sebagai otak dari kasus pembobolan gudang tersebut. Kasiyan mengaku, dia bersama empat rekannya mencuri bukan karena kecewa dengan manajeman Bulog. Namun, lebih pada motif ekonomi setelah hasil sebagai kuli panggul sangat minim.

Yakni, Rp 20 ribu per hari. Padahal, sebelumnya mereka masih mampu mengantongi Rp 100 ribu per hari. ’’Hasilnya, setelah dijual, kami bagi Rp 650 ribu per orang,’’ tuturnya. Dengan satu kali beraksi angka itu dianggap lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

’’Termasuk untuk uang saku keseharian anaknya sekolah,’’ tambah Kapolres Mojokerto, AKBP Leonardus Simarmata. Menurut Leonardus, untuk mengelabui petugas keamanan, hasil kejahatan sebelumnya, lebih dulu dijual kepada toko kelontong atau secara ecer.

Bila pada harga umum beras kelas medium biasa dijual Rp 8 ribu per kg, para tersangka berani menjual jauh lebih rendah. Yakni, Rp 5,5 ribu per kg.

Kapolres mengungkapkan, aksi para tersangka ini terungkap saat petugas satlantas melakukan patroli rutin di Jalan Raya RA Basuni, Kecamatan Sooko, Minggu (26/8) dini hari. Petugas mencurigai adanya aktivitas angkut bukan pada jam-jam kerja.

Melihat kecurigaan ini, korsp bersabuk putih itu kemudian mengecek dan menemukan kelimanya sedang memindahkan 25 karung raskin dari luar gudang Bulog. Hasil curian diangkut menggunakan mobil pikap L 300 nopol  S 8943 RB.

Kapolres menyatakan, modus tersangka melakukan pencurian terbilang cukup rapi. Jauh-jauh hari mereka sengaja merusak dan mengganti sembilan kunci gudang Bulog yang belakangan diketahui menjadi akses masuk. ’’Apalagi mereka juga orang dalam,’’ tuturnya.

Ditanya apakah ada dugaan keterlibatan orang dalam, kapolres mengaku masih dalam pendalaman. ’’Kerugiannya ditafsir mencapai Rp 20 juta,’’ pungkasnya. Polisi juga menyita sembilan anak kunci, dua gancu, mobil pikap rental.

”Kelima tersangka dijerat pasal 363 ayat 2 KUHP tentang Pencurian dengan Pemberatan. Ancaman hukumannya 7 tahun penjara,” pungkas Leonardus. 

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia