Kamis, 25 Apr 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Harga Bawang Merah Tak Harum Lagi, Rp 7 Ribu Per Kg

23 Juli 2018, 21: 33: 35 WIB | editor : Mochamad Chariris

Harga Bawang Merah Tak Harum Lagi, Rp 7 Ribu Per Kg

MOJOKERTO – Harga komoditas bawang merah di Kabupaten Mojokerto kian merosot. Turunnya harga salah satu bumbu dapur itu berdampak pada berkurangnya penghasilan para petani.

Sebab, memasuki musim panen ini, harga jual hanya berkisar Rp 7 ribu per kilogram. Petani asal Desa Pacet Utara, Kecamatan Pacet, Satmo, menuturkan, rendahnya harga jual mulai dirasakan sejak awal Juli lalu.

Menurutnya, sejak saat itu harga jual sudah sudah ada pada kisaran Rp 9 ribu-Rp 10 ribu per kilogram. Setiap pekan harga terus anjlok Rp 1.000 per kg dan berlangsung hingga saat ini.

’’Dari tengkulak sekarang belinya cuma Rp 7.500 per kilogram,’’ paparnya saat memanen bawang di lahan miliknya di Desa Petak, Kecamatan Pacet, kemarin.

Dia memperkirakan, merosotnya harga bawang disebabkan pada periode ini sejumlah daerah penghasil bawang merah juga memasuki masa panen raya. ’’Seperti Nganjuk dan Brebes sama-sama panen. Jadi harganya murah,’’ tuturnya.

Menurutnya, dengan harga saat ini, sejumlah petani mulai mengalami kerugian. Sebab, hasil penjualan panen tidak sebanding dengan biaya perawatan. Dikataknnya, tanaman bawang merah membutuhkan perawatan yang ekstra.

Untuk sekali masa tanam, dirinya melakukan penyemprotan pestisida secara berkala. Hal itu untuk menghindari serangan hama yang menyerang tanaman bawang merah.

Dengan rentang usia tanaman sekitar 75 hari, sedikitnya dia melakukan penyemprotan 15 kali. ’’Paling lama 3-4 hari sekali harus disemprot. Kalau tidak dilakukan, habis dimakan grandong (hama bawang merah),’’ terangnya

Belum lagi biaya yang harus dikelurkannya adalah untuk pemupukan dan pembelian bibit yang juga tidak murah. ’’Paling tidak, meski harga murah tapi hasil panennya bagus masih bisa balik modal,’’ imbuhnya.

Sumarno, petani lainnya, menambahkan, harga bawang diprediksi akan terus menurun hingga Agustus mendatang. Pasalnya, pasokan bawang merah di sejumlah pasar akan melimpah. Sebaliknya, permintaan pembeli di pasaran sedang lesu.

Pada puncaknya, kata dia, harga bawang akan turun hingga level terendah Rp 4 ribu hingga Rp 5 ribu per kilogram. ’’Kalau sudah Rp 4 ribu-Rp 5 ribu, petani sudah tidak dapat apa-apa lagi,’’ keluhnya.

Oleh karena itu, untuk menghindari kerugian, sebagian lahan miliknya ditanam bawang prei atau daun bawang. ’’Karena daun bawang harganya lebih stabil,’’ pungkasnya. 

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia