Minggu, 21 Apr 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Squat Jump 90 Kali, Hanum Jalani Rontgen di Empat Bagian

21 Juli 2018, 23: 43: 39 WIB | editor : Mochamad Chariris

Hanum saat dirujuk menggunakan ambulans Puskesmas Gondang menuju ke RSUD Prof dr Soekandar Mojosari, Mojokerto.

Hanum saat dirujuk menggunakan ambulans Puskesmas Gondang menuju ke RSUD Prof dr Soekandar Mojosari, Mojokerto. (Rizal Amrullah/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO - Setelah dua hari mendapat penangan di pengobatan alternatif, Mas Hanum Dwi Aprilia, siswa SMAN Gondang ini akhirnya dirujuk ke RSUD Prof dr Soekandar Mojosari, Kabupaten Mojokerto.

Kedatangan siswa yang diduga mengalami cedera pasca menjalani hukuman fisik squat jump itu untuk mendapat perawatan medis. Sebab, hingga kemarin belum ada perkembangan berarti setelah diduga mengalami gagguan fungsi gerak di kedua kakinya.

Dengan diantar anggota keluarga dan pengasuh Pondok Pesantren Al Ghois, Hanum tiba dengan armada ambulans dari Puskesmas Gondang sekira pukul 10.00 Jumat (20/7).

Pelajar asal Krian, Sidoarjo ini langsung menjalani pemeriksaan awal di instalasi gawat darurat (IGD). ”Kita rujuk ke rumah sakit untuk melihat riwayat kesehatan pasien,” ungkap dr Nunun Agung, Kepala Puskesmas Gondang.

Kasi Keperawatan RSUD Prof dr Soekandar, Rini Ekawati menjelaskan, petugas telah melakukan sejumlah pemeriksaan dan tindakan medis kepada Hanum.

Untuk mengetahui penyebab pastinya, dokter telah melakukan pemeriksaan radiologi dan pemeriksaan laboratorium. ”Kita juga sudah konsulkan ke dokter spesialis syaraf,” paparnya.

Dia menyebutkan, santri Pondok Pesantren Al Ghoits, Desa/Kecamatan Gondang, itu sedikitnya telah dilakukan foto rontgent pada empat bagian tubuhnya yang dicurigai mengalami cedera.

Antara lain foto thorax atau tulang dada, kemudian femur atau paha, lumbosakral atau tulang belakang, serta pelvis atau tulang pinggul. ”Untuk lebih lanjutnya masih kita lakukan observasi,” terangnya.

Rini mengatakan, berdasarkan pemeriksaan klinis kondisi pasien masih dalam batas normal. Hanya saja, kedua kaki pasien masih merasa kesulitan untuk bergerak. ”Kedua kaki pasien masih lemas, belum kuat untuk digerakkan,” tambahnya.

Kini, siswi kelas XI IPS 2 SMAN 1 Gondang harus menjalani rawat inap di ruang Padjajaran. Untuk tindakan selanjutnya menunggu hasil pemeriksaan dari dokter spesialis syaraf.

Jika diperlukan, Hanum juga harus menjalani pemeriksaan CT Scan. Sehingga harus dilakukan rujukan ke RSUD dr Soetomo Surabaya.

Sugiono, ayah Hanum mengatakan, dirinya cukup terpukul dengan kondisi yang dialami putrinya. Dia juga cukup menyayangkan adanya sanksi berupa hukuman fisik yang dialami sepekan yang lalu di sekolah anaknya.

Hanya karena datang terlambat saat mengikuti kegiatan ekstrakurikuler (ekskul), Hanum harus menanggung sekitar 90 kali squat jump oleh teman ekskulnya sendiri. Perlakuan itu yang diduga berakibat anaknya mengalami cedera dan berujung bisa berjalan.

”Harus dihilangkan hukuman seperti itu (squat jump). Apalagi kegiatan eksktranya bidang keagamaan, kenapa ada hukuman fisik,” tuturnya saat ditemui di RSUD Prof dr Soekandar, kemarin.

Seharusnya, kata Sugiono, sanksi yang dilakukan yang relevan dengan sesuai ekskul Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI). ”Pantasnya untuk keagaamaan ya baca surah pendek (Alquran) atau yang sesuai dengan kejurusannya. Bukan seperti itu (squat jump),” tandasnya. 

Untuk kebutuhan biaya perawatan, putrinya sudah memiliki kartu JKN-KIS BPJS Kesehatan kelas III. Meski demikian, Sugiono tetap meminta pertanggung jawaban dari pihak sekolah. Setidaknya itu dlakukan dengan turut memantau perkembangan anaknya hingga membaik.

Sebagaimana diketahui,  Hanum mengalami gangguan fungsi gerak pada kedua kakinya setelah menjalani hukuman squat jump kurang lebih 90 kali. Sanksi itu diberikan oleh kelompok teman ekskul UKKI di sekolahnya pada (13/7) lalu hanya karena terlambat datang.

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia