Kamis, 15 Nov 2018
radarmojokerto
icon featured
Features
Mengitip Seni Kaligrafi Berbahan Bambu

Degradasi Warna Menentukan, Hiasan Tempat Ibadah dan Rumah

Jumat, 06 Jul 2018 20:15 | editor : Mochamad Chariris

Muslimin menunjukkan hasil karya kaligrafi berbahan baku bambu buatannya.

Muslimin menunjukkan hasil karya kaligrafi berbahan baku bambu buatannya. (Khudori Aliandu/Radar Mojokerto)

Imajinasi dan keyakinan yang kuat akan menghasilkan sebuah karya tak biasa. Setidaknya kalimat inilah yang tertanam pada diri Muslimin. Atas keuletan dan kreatifitasnya itu, dia mampu membuat karya kaligrafi berbahan baku bambu sebagai hiasan rumah atau tempat ibadah.

SIANG itu, pria kelahiran 1990 ini terlihat sibuk mengerjakan pesanan kerajinan kaligrafi di teras rumahnya di Dusun Kasian,  Desa Domas,  Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Meski terdengar suara bising karena banyak lalu lalang kendaraan melintas, dia tetap fokus.

Kedua tangannya terlihat berhati-hati saat memadukan satu per satu huruf hijaiyah pada bingkai yang sudah disiapkan. Ya, huruf Arab dari bahan baku bambu itu akan dibentuk menjadi lafadz Allah dan Muhammad. ’’Biasanya, kaligrafi ini banyak dimanfaatkan sebagai hiasan dinding di rumah-rumah dan tempat ibadah,’’ sahut Muslimin.

Seni kaligrafi berbahan bambu ini sudah ditekuninya sejak 2014 lalu. Sayang, saat itu, aktivitas tersebut sekadar sebagai pekerjaan sampingan saja. ’’Setelah sudah lama vakum, bulan puasa lalu, baru saya mulai lagi dengan fokus membuat lafadz Allah dan Muhammad,’’ terang anak ke tiga dari tiga bersaudara ini.

Mulanya, ide kreatif ini muncul secara spontan. Saat itu, dirinya melihat televisi yang kebetulan ada tayangan kaligrafi berbahan baku bambu. Karena dianggap menarik dan berbeda dari bahan baku yang dipakai pada umumnya di pasaran, tayangan itu lantas mengetuk hati Muslimin.

’’Dari situ akhirnya saya mencoba. Apalagi, yang saya tahu kerajinan dengan berbahan baku bambu masih jarang saya temui di Mojokerto,’’ bebernya. Dia mengakui, memang tak mudah dalam pembuatan kaligrafi berbahan bambu.

Selain masih pemula, dirinya juga tidak punya latar belakang seni. Namun, karena keinginan dan imajinasi yang kuat, dia pun bertekad untuk menekuni. ’’Awalnya dulu buat lafadz Allah dan Muhammad itu bisa dua minggu,’’ tuturnya. Dengan ketekunan dan keyakinan, perlahan Muslimin terus belajar dan mengasah kemampuannya dalam membuat beberapa kaligrafi.

Seperti Surah Ar-Rahman. Dan akhirnya berhasil. Seiring berjalannya waktu, kini dalam kurun satu minggu dia mampu membuat kaligrafi lafadz Allah dan Muhammad hingga dua pasang. ’’Alhamdulillah. Tapi, saya sadar, ini belum sempurna. Masih banyak yang harus saya benahi,’’ ujarnya.

Bahkan dia bisa membuat kaligrafi Asmaul Husnah sepanjang 2 meter dan lebar 1,5 meter. Meski penyelesaiannya membutuhkan waktu sampai tiga bulan, hal itu dirasa menjadi kebanggaan tersendiri. Kini hiasan itu sudah terpasang di dinding ruang tamu rumahnya.

’’Saat pembuatan sempat putus asa, tapi karena saya punya ambisi dan yakin bisa. Tapi, saya belum puas,’’ ujar anak dari pasangan almarhum Masduki dan Khusnunah ini. Menurut Muslimin, untuk membuat kaligrafi berbahan baku bambu memang dibutuhkan imajinasi tinggi.

Sebab, dalam memadukan setiap huruf dianggap tidak mudah dan butuh kreatifitas. Begitu juga dengan masalah pemotongan bambu yang dicetak menjadi huruh hijaiyah. ’’Kharokat per kharokat juga harus seimbang besar kecilnya. Sedikit ceroboh saja, sudah tidak layak pakai,’’ jelasnya.

Pemilihan bahan baku juga harus diperhatikan. Baik kematangan usia bambu maupun corak warna bambu. Semakin banyak degradasi warna pada bambu, hasilnya juga semakin bagus,’’ tambahnya. Harganya jual karyanya pun relatif murah dengan proses dan hasil yang tak diragukan lagi. Untuk ukuran 50x50 dia hanya mematok harga Rp 200 ribu per pasang.

Hanya saja, untuk mengembangkan produksinya Muslimin masih menemui kendala. Selain masih menggunakan peralatan manual, modal yang minim juga menjadi pertimbangan. ’’Belajarnya otodidak. Tapi, untuk mempercantik karya, saya kadang melihat referensi di internet untuk mengikuti tren. Soal pelafalan tetap saya mengacu pada Alquran. Karena benar tidaknya lafadz juga dipertanggungjawabkan,’’ paparnya. 

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia