Kamis, 15 Nov 2018
radarmojokerto
icon featured
Features
Akhmad Mukhlas, Perajin Seni Sun Blasting

Padukan Grafir dan Air Brush, Dipasang di Masjid hingga Gereja

Jumat, 29 Jun 2018 16:00 | editor : Mochamad Chariris

Akhmad Mukhlas melakukan finishing kaca hias dengan motif flora.

Akhmad Mukhlas melakukan finishing kaca hias dengan motif flora. (Rizal Amrulloh/Radar Mojokerto)

Bagi yang ingin memberikan unsur nilai seni pada interior rumah, tak ada salahya untuk menambahkan kaca hias.

Berbeda dengan kaca pada umumnya, pemberian sentuhan gambar dan pewarnaan bisa jadi pilihan untuk menambah keindahan ruangan. 

AHMAD Mukhlas, 46, adalah salah satu dari sedikit orang yang menjalani profesi sebagai perajin seni kaca hias.

Warga asal Jalan Hasanudin, Dusun Candirejo, Desa Awang-Awang, Kecamatan Mojosari ini setidaknya sudah 20 tahun terakhir berkecimpung di dunia seni menghias kaca.

Melalui tangan kreatifnya, lembaran kaca yang berwarna bening disulap menjadi berbagai macam kreasi kaca hias. Antara lain dari kaca grafir, ukir, maupun mozaik kaca.

Mukhlas mengatakan, grafir merupakan salah satu teknik dalam seni menghias kaca dengan cara memberikan sentuhan gambar atau motif tertentu.

Hasil karya yang juga dikenal sebagai sun blasting itu pada awalnya digunakan untuk membatasi pandangan pada kaca jendela, pintu atau objek lainnya.

Namun, dalam perkembangan kaca grafir juga digunakan sebagai hiasan pemanis interior ruangan. ”Kaca sun blasting atau grafir sebenarnya mulai tren sejak 90’an,” paparnya.

Untuk membuat kaca hias, Mukhlas memadukan teknik grafir dengan air brush. Seni pewarnaan air brush itu dilakukan untuk mempercantik tampilan dari kaca.

Dengan dibantu tiga pegawainya, sebuah ruangan di depan rumahnya dijadikan sebagai bengkel untuk menuangkan kreasi sekaligus jadi home industri-nya.

Ayah tiga anak ini menceritakan, untuk membuat kaca hias, langkah awal yang dilakukan adalah dengan membuat konsep dan sketsa terlebih dulu. Untuk mempermudah proses menggambar pada media kaca, terlebih dulu kaca ditempelkan dengan skotlet.

Setelah desain sketsa dibuat, kemudian dipotong menggunakan cutter menyesuaikan garis-garis pada gambar atau motif. Proses tersebut membutuhkan ketelatenan dan kehati-hatian.

Oleh karenanya, bisa menghabiskan waktu cukup lama. Tergatung tingkat kesulitan dari motif yang dibuat. ”Paling sering membuat motif flora, fauna dan motif minimalis lainnya,” paparnya.

Skotlet tersebut juga berfungsi sebagai pembatas pada proses selanjutnya, yaitu pewarnaan atau air brush. Dalam satu desain gambar, dirinya bisa menggunakan kombinasi beberapa warna.

Lulusan sekolah menengah seni rupa di Surabaya ini menyatakan, untuk lebih memperindah tampilan, dia menambahkan dimensi pada proses pewarnaan. Mukhlas mengaku untuk menyelesaikan satu lembar kaca hias tidak cukup dalam hitungan jam.

Untuk ukuran standar sekitar 27 x 147 sentimeter saja bisa menghabiskan waktu 1-2 hari. Oleh karena itu, nilai jual dari kaca hias lebih tinggi dibanding kaca lainnya. Sejauh ini, dia masih memasarkan kerajinan kaca di pasar lokal Mojokerto saja.

Rata-rata permintaan kaca grafir untuk menghias interior rumah pribadi. Namun, tidak jarang juga dia memenuhi permintaan dari beberapa tempat ibadah. ”Masjid dan musala juga cukup banyak. Beberapa juga pernah untuk dipasang di gereja,” tandasnya.

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia