Jumat, 16 Nov 2018
radarmojokerto
icon featured
Journey
Berdirinya Madrasah Pertama di Mojokerto

Tahun 1926, Berawal di Musala, Bentuk Oposisi Kiai

Rabu, 11 Apr 2018 20:38 | editor : Mochamad Chariris

MI Al-Muhsinun di Kelurahan Kauman, Kec. Prajurit Kulon, Kota Mojokerto, yang berdiri di tanah wakaf milik Muhsinun.

MI Al-Muhsinun di Kelurahan Kauman, Kec. Prajurit Kulon, Kota Mojokerto, yang berdiri di tanah wakaf milik Muhsinun. (Rizal Amrullah/Radar Mojokerto)

KEBERADAAN lembaga pendidikan Islam yang dikenal sebagai madrasah telah lama ada di Mojokerto. Namun, di balik pendirian madrasah yang dilakukan para kiai itu bermula sebagai bentuk oposisi terhadap sistem pendidikan oleh penjajah Belanda.

Dengan membuat lembaga pendidikan madrasah, maka anak anak muslim Mojokerto dan sekitarnya memiliki kesempatan mengenyam pendidikan formal. Pada zaman penjajahan, sekolah Belanda memang bersifat diskriminatif.

Sebab, tidak semua anak bisa menjadi siswanya. Seperti yang diterapkan di Europesche Lerge School (ELS). Sekolah yang pertama didirikan di Mojokerto ini hanya menerima murid berkebangsaan Eropa, timur asing dan anak priyayi saja.

Letak sekolah tersebut ada di depan Kantor Bupati Mojokerto atau yang sekarang menjadi SMPN 2 Kota Mojokerto di Jalan A. Kota Mojokerto.

Sejarawan Ayuhanafiq menceritakan, pada suatu ketika, beberapa kiai berkumpul untuk membahas kondisi pendidikan. Para ulama itu sadar bahwa bila diskriminasi pendidikan tetap dibiarkan, maka anak-anak muslim akan tergusur zaman.

”Pertemuan itu yang mengawali pendirian madrasah pertama di Mojokerto,” ungkapnya. Sebenarnya, pemerintah Belanda telah membuka kesempatan pada pribumi untuk mengenyam pendidikan barat.

Kendati demikian, pemberian kesempatan itu tidak lebih dari upaya peneguhan kolonialisme modern. Tenaga terpelajar itu tidak bisa dipenuhi oleh orang asing semata. Untuk itu, perlu merekrut orang pribumi yang sebelumnya telah dihegomoni pemikirannya.

Melihat fenomena diskriminatif tersebut, jelas Yuhan, para kiai di Mojokerto menjadi prihatin, karena kalangan santri tidak bisa mengenyam pendidikan yang sama dengan golongan priyayi. Selain itu, tokoh muslim juga melihat bahwa jika ada santri yang masuk ELS maka akan dikhawatirkan hilang sikap kesantriannya.

Di sisi lain, dibutuhkannya sekolah formal bertujuan agar nantinya para santri mampu bersaing dengan golongan lainnya. Karena selain mengajarkna kurikulum pesantren, di madarasah juga mengajarkan ilmu pengetahuan umum. ”Sekitar tahun 1926, berdirilah sebuah madrasah untuk pertama kalinya di Mojokerto,” paparnya.

Pria yang akrab disapa Yuhan ini melanjutkan, pada awal pendiriannya, kegiatan pendidikan madrasah mengambil tempat di sebuah musala Kiai Zainal Alim. Lokasinya berada di Lingkungan Suronatan, Kelurahan/Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto. Dipilihnya tempat tersebut karena belum memiliki gedung sendiri.

Tak hanya itu, para pengajarnya dilakukan oleh ulama dan kiai lulusan pesantren untuk bidang agama. ”Bahkan, tak jarang pula dibantu oleh santri yang memiliki pengetahuan umum,” imbuhnya.

Hanya dengan memanfaatkan bangunan musala dan teras rumah menunjukkan bila kegiatan belajar mengajar (KBM) itu sangat sederhana. Kiai Zainal Alim mampu mengelaborasi pendidikan formal bagi generasi penerus Islam agar tidak tertinggal zaman.

Rupanya, madrasah itu mampu menyedot animo masyarakat yang cukup tinggi. Sejumlah murid terus berdatangan dari berbagai penjuru Mojokerto. Hingga serambi musala dan rumah Kiai Zainal Alim tidak lagi mampu menampung siswa. Kondisi itu kemudian mendesak untuk mencari tempat yang lebih luas.

Maka, dilakukanlah pertemuan membahas keberlangsungan madrasah dengan mengundang tokoh Mojokerto. Dari pertemuan itu, disepakati untuk membangun gedung sekolah dengan cara gotong royong.

Kebutuhan lahan madrasah didapat dari wakaf pemberian H Muhsinun, di Kelurahan Kauman, Kecamatan Prajurit Kulon. Lokasi tanah wakaf dinilai sangat strategis karena berada di belakang Masjid Jami, Alun-Alun Kota Mojokerto.

Dengan kebersamaan kalangan muslim, maka madrasah itu dapat terselesaikan. Madrasah yang tidak jauh dari sekolah Belanda itu seolah menegaskan, bahwa umat Islam Mojokerto bisa pintar walau tidak mendapat pengajaran guru Belanda.

Para kiai Mojokerto sanggup mendidik santri untuk hidup mandiri dengan keyakinan dan sikap keagamaan. ”Madrasah menjadi bentuk sikap oposisi para kiai terhadap penjajahan Belanda saat itu,” papar Ketua KPU Kabupaten Mojokerto ini.

Untuk menghormati Muhsinun yang telah mewakafkan tanahnya, maka madrasah itu dinamakan Al-Muhsinun. Hampir genap usia menapaki usia 92 tahun, madrasah legendaris itu masih berdiri dan menjadi salah satu sekolah favorit bagi kalangan muslim Mojokerto.

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia