Rabu, 19 Dec 2018
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto
17 Inspirator Mojokerto

Uri-Uri Peninggalan BCB Tak Terawat

27 Maret 2018, 21: 52: 52 WIB | editor : Mochamad Chariris

Candra Andi berfoto di depan Candi Wringin Lawang, Trowulan, Mojokerto.

Candra Andi berfoto di depan Candi Wringin Lawang, Trowulan, Mojokerto. (Candra Andi for Radar Mojokerto)

BANYAKNYA peninggalan bersejarah yang tak terurus hingga berimbas pada penjarahan situs membuat Candra Andi prihatin. Pemuda asal Dusun Selorejo, Desa Karangdiyeng, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, ini akhirnya terpanggil hatinya untuk melestarikan peninggalan benda cagar budaya (BCB).

Bahkan, untuk mengajak sekaligus menggerakkan para pemuda dan masyarakat, pemuda berusia 23 tahun ini mendirikan Komunitas Mojopahit Lelono (KML) sebagai wadah. Bukan tanpa alasan, KLM dibentuk. Selain prihatin dengan penjarahan situs beberapa tahun belakangan ini, masih rendahnya partisipasi dan kepedulian masyarakat terhadap BCB juga menjadi alasan.

’’Dengan mendata dan mendokumentasikan, saya dan teman-teman juga mengawasi situs-situs di lapangan,’’ katanya. Tak jarang, KML memberi pemahaman masyarakat di area sekitar situs yang didatangi. Hal itu setelah melihat akan pentingnya menjaga dan melestarikan benda bernilai sejarah tinggi itu.

Pasalnya, kata dia, banyak peninggalan sejarah yang ditemukan, tapi kondisinya terbengkalai. ’’Kita berusaha berperan aktif sebagai generasi penerus untuk menjaga, merawat, dan melestarikan,’’ ujar Tokel Lelono sapaan akrab Candra.

Dia menceritakan, nama KML sendiri mempunyai arti tersirat. Bumi Majapahit tak lepas karena dia adalah kelahiran asli Mojokerto. Nah, Mojokerto, erat kaitannya dengan Kerajaan Majapahit. Kemudian, nama Lelono diambilnya dari bahasa Jawa, memiliki arti berkelana (perjalanan).

Yakni, menjadi perjalanan komunitas ke arah yang berhubungan dengan ilmu dan mencari peniggalan zaman terdahulu dengan blusukan dari desa ke desa. ’’Saat kami mendatangi situs-situs kuno itu, kami juga belajar menimba ilmu sejarah dari warga,’’ tuturnya.

Meski komunitas ini belum lama dibentuk, kepedulian terhadap situs yang dilakukan Tokel Lelono bersama pemuda lainnya tak diragukan lagi. Bagaimana tidak, selain tercatat sudah 300 lebih, situs yang di data sekaligus dibersihkan.

Situs-situs yang belum ter-cover Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim di Trowulan pun akhirnya bisa bersih dan terjaga dengan baik. ’’Sebenarnya tidak sulit dalam memelihara dan menjaganya. Tinggal kita mau apa tidak,’’ katanya.

Secara rutin, blusukan itu hampir dilakoninya setiap minggu. Bermodalkan cinta situs bersejarah, mereka rela menyisihkan waktunya berkumpul keluarga dan liburannya untuk blusukan ke desa-desa. Ya, rutinitas itu dilakukan dengan tujuan menelusuri benda kuno dan bersejarah. Mulai dari situs yang sudah ditemukan, baru ditemukan warga, hingga belum ter-cover BPCB Jatim.

Seperti yang sudah banyak dilakukan. Bermula, melalui informasi dan data yang didapat, Tokel Lelono bersama komunitasnya sering menemukan BCB terbengkalai dan tidak mendapat perhatan.

’’Tidak hanya memfoto, di situ, kami lebih melakukan pendataan situs dan membersihkan,’’tuturnya. Sembari turut merawat, pihaknya tak jarang memberikan pemahaman kepada masyarakat di area sekitar situs.

’’Kami juga sambil belajar uri-uri warisan peninggalan leluhur. Jadi, kami saling belajar dengan warga sekitar,’’ tutur anak ke dua dari dua bersaudara pasangan Paino dan Suliyah ini. Tak hanya di Mojokerto. Rasa haus akan ilmu pengetahuan situs bersejarah terus diigalakaan di luar daerah. Seperti yang dilakukan belum lama ini, di sebuah situs di Dusun Badong, Desa/Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nagnjuk.

Temuan berupa struktur bangunan kuno mirip candi yang kondisinya tak terawat banyak ditumbui rumput liar, Tokel Lelono melakukan aksi bersih-bersih.  Berangkat dari Mojokerto, dia bersama komunitasnya mendata sekaligus melestarikan BCB agar tetap terjaga. ’’Kami sering blusukan ke Jombang dan Gresik,’’ ujarnya.

Selain memang terpanggil secara mandiri, hal itu dilakukan untuk membantu BPCB Jatim dalam meninjau beberapa situs di lapangan. ’’Kadang temuan baru, kadang temuan lama. Tapi, belum pernah dilaporkan ke BPCB,’’ bebernya.

Dia menambahkan, menginjak tahun ke dua ini sudah ratusan situs didatangi dan dibersihkan. Visinya, mengajak generasi muda mengenal dan mencintai sejarah. Sehingga, lambat laun akan terbentuk generasi muda berjiwa sejarah dan budaya. Nah, dari sisi itu, setidaknya dia bisa ikut berkontribusi secara nyata demi kepentingan orang lain dan negara.

’’Intinya, masyarakat bisa mengangkat nilai-nilai seni dan budaya yang terkandung dalam benda bersejarah. Terpenting lagi, tidak sampai melakukan pengerusakan,’’ paparnya. Memang. disadari atau tidak, zaman yang kian dewasa ini penjarahan situs dan jual beli situs cukup berkembang.

Tak jarang, batu bata kuno dengan motif khas Majapahitan dirusak dan dijarah oknum tak bertanggung jawab. ’’Makanya, dengan aktifnya KLM ini, arahnya lebih untuk mengedukasi masyarakat,’’ pungkasnya.

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia