Kamis, 15 Nov 2018
radarmojokerto
icon featured
Mojopedia
Maret Kelam di Kota Mojokerto

Jalur KA Dibombardir Belanda, Sebarkan Selebaran dari Udara

Rabu, 21 Mar 2018 23:05 | editor : Mochamad Chariris

Bangunan eks Stasiun Lespadangan, Kec. Gedeg, yang kondisinya masih utuh.

Bangunan eks Stasiun Lespadangan, Kec. Gedeg, yang kondisinya masih utuh. (Radar Mojokerto)

BULAN Maret menjadi masa yang cukup bersejarah bagi Kota Mojokerto. Menengok ke belakang peristiwa sekitar 71 tahun silam, masyarakat Kota Onde-Onde mengalami masa perjuangan yang cukup kelam.

Dua tahun pasca Proklamasi, serdadu Netherlands-Indies Civil Administration (NICA) atau Pemerintahan Sipil Hindia Belanda kembali menduduki wilayah Mojokerto. Mereka datang dengan cara diam-diam di bawah bendera Merah Putih.

Peristiwa itu terjadi pada, siang hari tanggal 17 Maret 1947. Ketenangan Kota Mojokerto mendadak berubah menjadi kepanikan, karena kedatangan serdadu Belanda. Pasukan kolonial itu datang menggunakan kendaraan lapis baja berbendera Merah Putih.

Sementara itu, di udara setidaknya tujuh pesawat terbang musuh yang memborbardir untuk memutus jalur kereta api ke wilayah Jombang. Sejarawan Mojokerto, Ayuhanafiq menceritakan, setidaknya rencana serangan mendadak dari belakang itu sudah dipersiapkan Belanda secara matang. Jalur kereta api (KA) ke Kota Santri dihujani bom udara di Curahmalang, Sumobito.

Serangan itu membuat jalur KA Brangkal-Mojoagung terputus di Jatipasar, Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Tak hanya itu, serangan udara juga terjadi di Gempolkrep, Gedeg. Sehingga, menyebabkan jalur KA Mojokerto-Ploso juga terputus. ”Kota Mojokerto jatuh, nyaris tanpa perlawanan,” ungkap Yuhan.

Peristiwa itu sebagaimana tercatat dalam laporan kepolisian Karesidenan Surabaya. Pemboman tersebut bukan tanpa alasan, Belanda sengaja memutus jalur KA untuk mencegah terjadinya pengungsian penduduk Mojokerto ke Jombang.

”NICA kemudian menyebarkan selebaran lewat udara. Ribuan kertas berisi maklumat yang mengatasnamakan Komandan Tentara Belanda Surabaya itu dijatuhkan dari pesawat terbang,” paparnya.

Yuhan menjelaskan, dalam maklumat tersebut diimbau secara khusus pada priyayi atau pegawai yang menduduki jabatan agar tetap tinggal dan meneruskan pekerjaannya. Belanda berdalih akan membantu para pamong praja itu dalam melaksanakan tugas jabatannya.

Berikutnya, maklumat juga ditujukan kepada para petani dan rakyat jelata agar tidak khawatir atas kedatangan tentara Belanda. Belanda meminta warga Mojokerto untuk tetap tinggal di desanya masing-masing.

Permintaan itu disertai dengan ancaman bagi siapa saja yang melarikan diri, bersembunyi, maupun mengungsi, maka akan dianggap sebagai penjahat.

”Saat itu, Belanda menjanjikan memberi obat-obatan, pakaian dan barang-barang. Selain itu juga memberi makanan seadanya pada kaum marhaen (rakyat kecil, petani, dan buruh),” terangnya.

Kendati demikian, lanjut Yuhan, selebaran itu tidak banyak berpengaruh. Pada malam hari, pengungsian terjadi. Rakyat bergerak dalam gelap meninggalkan rumahnya menuju Jombang dan daerah lainnya yang masih dikuasai Republik.

Warga kota berkumpul di Stasiun Mojokerto menunggu diangkut KA menuju Jombang. Sementara pegawai KA bergerak membenahi rel yang terputus di Curahmalang.

Pada tengah malam, kereta mulai bergerak membawa peralatan stasiun yang perlu diungsikan. Sekitar pukul 03.30 giliran penduduk diungsikan. Menyusul, di belakang, loko dengan gerbong berisi peralatan dari Rumah Sakit (RS) Gatoel yang melaju pada 04.00.

Sekitar dua jam berikutnya, rombongan terakhir para pegawai kereta api berangkat. Ketua KPU Kabupaten Mojokerto ini menyatakan, rupanya, Belanda mencium gerakan pengungsian tersebut.

Kereta terakhir yang bermuatan pegawai KA itu diserang bom dari udara. ”Para penumpang mengetahui adanya bahaya kemudian berhamburan dari kereta,” tukasnya.

Jalur rel Curahmalang tidak bisa dilalui setelah terkena bom. Meski begitu, para pengungsi tetap meneruskan perjalanan setelah pesawat buru sergap Belanda sudah tidak terlihat di udara.

Pasca peristiwa kelabu tersebut, tanggal 20 Maret 1947, atau tepat 71 tahun lalu, bendera Triwarna Belanda kembali berkibar di tiang bendera Alun-Alun Mojokerto. 

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia