Kamis, 15 Nov 2018
radarmojokerto
icon featured
Mojopedia
Sumur Upas di Balik Cerita Rakyat (1)

Konon Disebut jadi Persimpangan Menuju Laut Kidul dan Mataram

Jumat, 16 Mar 2018 16:30 | editor : Mochamad Chariris

Lima pengunjung melakukan prosesi ritual dan meditasi di depan Situs Sumur Upas Trowulan, Kab. Mojokerto.

Lima pengunjung melakukan prosesi ritual dan meditasi di depan Situs Sumur Upas Trowulan, Kab. Mojokerto. (Muhammad Ihwan/Radar Mojokerto)

SITUS Candi Kedaton dan Sumur Upas merupakan dua situs yang berada dalam satu kompleks, di Dusun Kedaton, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Ada banyak cerita rakyat yang menarik dari benda cagar budaya peninggalan Kerajaan Majapahit yang kini telah dikeramatkan. Bahkan, konon disebut sebagai persimpangan menuju Laut Kidul serta menjadi jujukan Presiden dan pejabat negara.

”Situs di sini perkirakan ditemukan pada tahun 1930-an. Dulunya, Candi Kedaton dan Sumur Upas berada di area pemukiman masyarakat Majapahit. Bisa kita lihat, di sampingnya banyak sekali peninggalan berupa pondasi bangunan kuno,” ujar Minin, juru pelihara (jupel) Candi Kedaton dan Sumur Upas.

Dua situs ini berada dalam satu kompleks di atas lahan seluas 4.344 meter persegi. Konstruksi bangunannya terbuat dari batu bata merah yang dulunya diduga sebagai Istana Kerajaan Majapahit. ”Situs ini diyakini di masa lalu merupakan tempat tinggal seseorang yang memiliki jabatan. Atau berpengaruh di masa itu,” tambahnya.

Minin menjelaskan, Candi Kedaton sendiri terletak di sudut area situs. Berbentuk persegi panjang, dengan panjang 12,50 meter, lebar 8,50 meter, dan setinggi 1, 60 meter dari permukaan tanah. Di bagian depan candi ada bekas tangga masuk selebar 2 meter. Sedangkan, Sumur Upas berada di tengah-tengah area situs.

Sejak ditemukan, Candi Kedaton hanya berbentuk kaki sebuah candi. Berbeda dengan Sumur Upas. Sumur ini sendiri tidak pernah dibuka lagi sejak pertama ditemukan. ”Dikarenakan sudah dikeramatkan oleh penduduk setempat. Namun, uniknya, banyak orang yang meyakini, Sumur Upas ini sebagai sebuah persimpangan menuju Laut Selatan atau segoro kidul.” tutur Minin.

Bermula dari cerita rakyat itu, situs ini mulai banyak dikunjungi masyarakat dengan membawa berbagai tujuan tertentu. Tidak hanya siang hari, malam hari pun tak sedikit yang berkunjung. ”Hampir setiap Malam Jumat ada pengunjung datang. Biasanya ya semedi (meditasi), atau bahkan hanya sekadar melekan,” ujar Minin.

Dia menjelaskan, penggalian dan perbaikan atau dilaksanakan eksvakasi situs pernah dilakukan antara tahun 1995-1996 hingga tahun 1999-2000. Sebelumnya, situs ini hanya bertiang bambu dan beratap asbes. Namun, sejak tiga tahun silam, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim di Trowulan melindungi situs tersebut dengan mendirikan bangunan baru.

”Harapan ke depannya, bangunan baru dapat melindungi situs-situs dari panas dan hujan. Agar situs terjaga dengan baik dan tetap utuh,” ungkap Minin. Sementara itu, Situs Sumur Upas sendiri berupa struktur bangunan dari tumpukan bata merah berbentuk persegi, memiliki ukuran 2x2 meter dan sedalam sekitar 20 meter.

Di balik itu semua, situs ini diam-diam meyimpan banyak cerita dengan adanya empat terowongan jalan rahasia raja pada zaman Kerajaan Majapahit. Namun kebenarannya masih belum dapat dibuktikan secara nyata. Sesepuh Kompleks Sedaton, Sri Lestari Utami menceritakan, pernah pada zaman Belanda ada seorang pencuri sakti asal Unggahan, Trowulan, diburu kompeni.

Dia lalu meminta perlindungan kepada Bupati Mojokerto, saat itu dipimpin, Raden Adipati Tjondro Negoro. Nah, mendapat keluhan dari pencuri tersebut, lanjut Sri Lestari, bupati kemudian berjanji akan memberikan perlindungan dari kejaran Belanda. Namun, dengan syarat bersedia memasuki sumur itu. Setelah pencuri itu keluar, lanjut Sri Lestari, pencuri dikenal sakti ini mengaku, bahwa dalam sumur terdapat empat terowongan menuju empat penjuru arah.

Namun, pencuri sakti ini tidak sampai memasuki ke empat penjuru terowongan, dikarenakan gelap dan tidak berani. ”Dulunya, Sumur Upas bukanlah sebuah sumur, melainkan sebuah terowongan atau jalan rahasia dari Kerajaan Majapahit,” tandas Sri Lestari. Fungsinya, lanjut dia, untuk jalan rahasia para raja yang ingin melakukan perjalanan jauh. Selain itu, konon dikabarkan menjadi tempat persembunyian raja jika ada musuh yang menyerang.

”Empat penjuru itu menuju selatan, utara, barat dan timur,” katanya. Empat arah itu, kata Sri Lestari, arah selatan menuju Laut Kidul, arah timur menuju Pulau Bali, sedangkan arah utara menuju Tuban, dan arah Barat menuju Mataram. Dia mengaku, hampir setiap harinya mengantar tamu atau pengunjung ke Situs Kedaton dan Sumur Upas. Tamu-tamu ini lantas melakukan ritual khusus dan meditasi.

”Dari dulu, pejabat-pejabat (negara) sering ke sini. Mulai dari Presiden Soekarno, Presiden Soeharto, jenderal-jenderal dan bupati. Ya, di sini tempatnya para pejabat yang ingin ”petunjuk” naik jabatan. Mereka melakukan semacam ritual, berdoa ke Tuhan Yang Maha Esa melalui lantaran leluhur,” tutur perempuan berusia 73 tahun ini.

Djoko Umbaran, 67, sesepuh Kedaton lainnya menambahkan, tidak semua orang mampu melihat empat terowongan tersebut. Menurutnya, dibutuhkan kemampuan khusus untuk bisa melihat. ”Tapi kebenaran di sini sudah masuk kebenaran metafisika. Secara faktual, sama sekali belum ada buktinya,” tambahnya. Sedangkan, konsep bangunan dipercaya sebagai istana kerajaan, lanjut Djoko, di mana dalam sebuah istana ada tempat peribadatan dan jalan rahasia bagi sang raja.

Nah, Sumur Upas tersebut konon dikabarkan sebuah jalan rahasia dari Kerajaan Majapahit. ”Ke selatan mengarah ke Bunda Ratu Nyai Roro Kidul, arah barat menuju Kerajaan Mataram. Begitu juga arah utara menuju ke Tuban ke Dewa Wisnu, dan timur menuju Bali, sang Raja Kelungkung. Namun, sekali lagi, semua semua itu metafisika,” pungkas Djoko. (muhammad ihwan)

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia