Kamis, 15 Nov 2018
radarmojokerto
icon featured
Politik

Andy Soebjakto: Saya Tak Tega Menyaksikan Kiai Saya Dihancurkan

Sabtu, 13 Jan 2018 21:44 | editor : Mochamad Chariris

Andy Soebjakto bersama siswa-siswi MIPABA Kota Mojokerto.

Andy Soebjakto bersama siswa-siswi MIPABA Kota Mojokerto. (Ist/Radar Mojokerto)

NOVEMBER 1945, ribuan pemuda Mojokerto di bawah pimpinan pemuda Achyat Chalimy berangkat menyabung nyawa di pertempuran Surabaya yang bersejarah.

Salah satu dari mereka adalah pemuda bernama Achmad Soemardi Effendi. Kelak kemudian beliau berkarir di TNI AD dengan pangkat terakhir Pembantu Letnan Satu, seperti tertera di batu nisannya di Taman Makam Pahlawan Gajah Mada, Kota Mojokerto.

Saat Achmad S Effendi berdinas di Gorontalo tahun 60-an, lahir salah satu putranya yang ia beri nama Andy Soebjakto Molanggato, nama terakhir adalah hadiah dari Wali Kota Gorontalo, Bapak Taki Niode, ketika melihat jabang bayi lahir dengan wajah putih bercahaya.

Endi, demikian nama panggilannya, dibawa pulang ke Mojokerto ketika masih balita. Keluarga ini tinggal di Jalan Suratan Gang 1 No 23 Kelurahan Kranggan, Kota Mojokerto. Andy atau Endi, sama seperti anak sebayanya di Kranggan, menempuh pendidikan formal pertamanya di SD Negeri 1 Mojokerto.

Fisiknya ditempa di perguruan silat asuhan Restu Hidayat, Cak Su’ud dan Pak Jadi, dan mental ruhaninya terbina dengan nyantri kalong di Pesantren Abah Yat (KH Achyat Chalimy) serta pengajian-pengajian rutin KH Mas’ud Yunus. Salawatan Abah Yat adalah sesuatu yang selalu diingat dan diamalkannya hingga saat ini.

Kemampuan berorganisasi dan kepemimpinan Andy Soebjakto telah nampak sejak usia remaja dengan menjadi Ketua OSIS di SMP Negeri 3 Mojokerto dan SMAN 2 Mojokerto. Terlebih saat ia kuliah di Fakultas Ekonomi Unibraw Malang, tidak ada aktivis mahasiswa dan intelektual seantero Malang dan Jatim yang tidak mengenal nama Andy Soebjakto, Ketua Senat Mahasiswa Unibraw tahun 1993.

Organisasi, jaringan, dan kepemimpinan bagi Andy Soebjakto harus ditempatkan di atas visi yang luhur yakni pengabdian kepada orang kecil. Inilah yang mendorongnya memimpin pergerakan mahasiswa di Malang menolak SDSB, menentang Ruilslag kampus APP Malang, dan membela petani di Madura yang tanahnya dirampas semena-mena untuk pembangunan Waduk Nipah tahun 1993, aktivitas terakhir ini mempertemukannya dengan aktivis-budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun). Mereka bersahabat dekat hingga saat ini.

Pindah ke Jakarta di awal era reformasi tak membuat Andy Soebjakto terpukau oleh kilaunya. Ia tetap memegang teguh prinsipnya untuk mengabdikan hidupnya untuk kepentingan orang kecil. Jakarta bagi Andy Soebjakto hanyalah kesempatan untuk melebarkan jaringan pertemanan untuk mendukung prinsipnya.

Di kalangan aktivis Jakarta, Andy dikenal sebagai pribadi yang kuat, ksatria, toleran dan setia. Di tengah friksi dan keterbelahan antar faksi, ormas dan partai politik, Andy tekun menenun kebersamaan. Ia diterima semua kelompok.

Bukan hanya di kalangan aktivis, jejaring pertemanan Andy juga melebar ke berbagai kalangan, birokrat, militer, polisi, ulama, pengusaha hingga seniman. Semua sama di mata Andy.

Uniknya adalah, Andy tetap memberikan waktu terbesarnya untuk orang-orang kecil yang tak memiliki gelar dan jubah kebesaran. Ia populer di kalangan PKL, tukang parkir hingga pengemis di Gelora Bung Karno. Ia terkenal di kalangan anak-anak yatim piatu di sekitar tempat tinggalnya yang sering ia undang ke rumahnya untuk belajar berenang. Andy selalu mengupayakan datang paling awal ketika temannya kena musibah. Ia figur yang langka.

Andy Soebjakto memberikan kesan yang sama bagi kalangan atas maupun orang kecil yang mengenalnya, bahwa bersahabat selain untuk mempererat tali silaturahmi juga menandai sejauh mana Anda membuktikan kesetiaan kepada sahabat. Setia merupakan akar kata yang membentuk semua kebaikan.

Belakangan ini terdengar info berantai di Jakarta bahwa Andy Soebjakto turun gelanggang di Pilkada Kota Mojokerto, kota asalnya. Hal yang sangat mengejutkan bagi kawan-kawannya di Jakarta. Saat dikonfirmasi kepada yang bersangkutan, Ia hanya menjawab sederhana: ’’Saya tak tega menyaksikan guru saya, kiai saya, dihancurkan, dan cara paling tepat untuk membantunya adalah dengan mendampingi dan melanjutkan perjuangannya’’

Apakah kita sudah setia? (sja)

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia