Rabu, 24 Apr 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Dulu, Terpaksa Menikah dengan Cara Agama Berbeda

10 November 2017, 19: 45: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Penganut kepercayaan Kerohanian Sapta Darma di Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, mengikuti ritual peribadahan.

Penganut kepercayaan Kerohanian Sapta Darma di Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, mengikuti ritual peribadahan. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO - Parman, 65, warga Dusun Setoyo, Desa Talunblandong, yang juga penganut kepercayaan Sapta Darma mengaku, selama ini, kolom agama di KTP-nya memang diisi dengan nama agama lain.

Pun demikian dengan istri dan kedua anaknya. Namun, dengan dikabulkannya gugatan tentang penghayat kepercayaan oleh MK, dirinya berencana ”pindah agama” untuk mengganti kolom tersebut. ”Dulu kan belum ada, karena sekarang sudah diakui, maka akan kita ganti,” paparnya.

Namun, dia berharap, pemerintah tidak hanya sebatas memfasilitasi terkait kolom agama saja. Tetapi juga persoalan pendidikan agama, bagi anak-cucu mereka. Karena, selama ini anak mereka belum mendapatkan pendidikan khusus terkait kepercayaan yang dianut.

Parman mengaku, saat anaknya masih duduk di bangku sekolah harus keluar kelas terlebih dulu untuk tidak mengikuti pelajaran agama yang tidak dianutnya. ”Jadi harus menunggu sampai jam selesai, kemudian masuk kelas lagi,” tandasnya.

Sehingga, selama sekolah, anaknya sama sekali tidak mendapat pelajaran agama secara formal di sekolah sesuai ajaran yang dipercayainya. Bagitu pula dengan pernikahan, warga Sapta Darma terpaksa menikah dengan cara agama lain. Hal itu semata agar mendapat akta nikah yang sah dari pemerintah.

”Sebenarnya kami juga memiliki tata cara menikah sendiri, tapi karena belum diakui sehingga harus meenggunakan agama lain,” pungkasnya. Selain itu, keputusan MK kali ini juga bisa semakin memperkuat kerukunan antarumat beragama yang selama ini terjalin. 

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia