Jumat, 16 Nov 2018
radarmojokerto
icon featured
Journey

Sanggar Genjah Arum, Surganya Penikmat Kopi

Jumat, 03 Nov 2017 20:25 | editor : Mochamad Chariris

Para tamu sanggar dihibur dengan tarian jejer gandrung.

Para tamu sanggar dihibur dengan tarian jejer gandrung. (Rinto/Radar Mojokerto)

TAK hanya populer dengan deretan pantai indahnya, Banyuwangi juga dikenal dengan kenikmatan kopinya. Salah satu kedai kopi yang paling terkenal di kabupaten ujung timur pulau Jawa ini adalah Sanggar Genjah Arum. Bahkan melalui Sanggar Genjah Arum ini pula, nama Kopai Osing alias kopi asli Banyuwangi bisa sampai mendunia.

Penasaran dengan tempat ini, kami pun menyempatkan untuk mengunjunginya. Letaknya tak terlalu jauh dari pusat kota Banyuwangi. Hanya berjarak sekitar 7 kilometer saja. Tepatnya di desa Kemiren, kecamatan Glagah. Dari beberapa referensi yang kami dapat, Kemiren juga akrab disebut dengan kampung Osing. Jalan menuju kesana agak menanjak karena letaknya di atas perbukitan. ’’Kalau orang Banyuwangi nyebutnya daerah atas,” kata driver travel yang mengantar kami.

Untuk sampai ke tempat ini, ternyata kami butuh yang waktu lumayan lama. Nyaris memakan waktu sekitar 45 menit. Maklum saja saat itu pas malam minggu. Jalanan kota Banyuwangi pun cukup padat dengan arus lalu lintasnya. Namun sesampainya di Sanggar Genjah Arum, kepenatan akibat macet di jalan langsung terobati.

Tiba di jalan depan sanggar, kami langsung disambut dengan aktraksi Barong. Setelah menampilkan atraksinya, beberapa penari Barong membawa kami dan pengunjung lainnya masuk ke dalam sanggar. Dari keterangan beberapa teman yang pernah berkunjung, ternyata tari Barong tersebut menjadi tarian penyambutan para tamu di sini.

Memasuki sanggar, kami langsung disuguhi berbagai ornamen khas kampung osing yang merupakan budaya asli Banyuwangi. Mulai bentuk rumah, adat setempat hingga makanan ringan yang disajikan. Semua ditampilkan sesuai aslinya. Bahkan beberapa rumah adat ini sudah berusia hingga puluhan sampai ratusan tahun.

Tak ketinggalan pula penampilan embok-embok tua yang menyuguhkan atraksi musik lesung atau yang biasa disebut othek. Suatu irama musik yang dihasilkan dari pukulan alu ke lesung yang tertata rapi dan rancak. Dengan semangat mereka memainkan beberapa lagu yang meskipun tidak kami pahami, namun instrumen terasa sangat indah. Sebuah harmonisasi yang menarik dari budaya yang sudah hampir punah.

Setelah itu tibalah saat yang paling kami nantikan. Mungkin juga bagi semua penikmat kopi sejati, suguhan kopi asli Banyuwangi alias kopai osing yang diracik sendiri oleh Setiawan Subekti alias pak Iwan, si empunya sanggar. Dari aromanya sudah terbayang cita rasa kopi ini.

Kopi yang sangat istimewa dengan penyuguhan yang istimewa pula tentunya. ’’Cara menikmati kopi yang benar itu jangan langsung ditelan. Tapi harus ditahan dulu, agar cita rasa kopi menempel di lidah dan rongga mulut,” begitu pesan Iwan kepada kami. Sebuah pesan sederhana dari seorang tester kopi kelas dunia.

Tak lupa disuguhkan pula berbagai makanan ringan asli Banyuwangi yang dibuat langsung oleh warga sekitar. Suatu sajian yang benar-benar fresh. Paduan antara nikmatnya kopi osing dan lezatnya penganan asli Banyuwangi serta hawa sejuk alam pegunungan, membuat malam itu kian berkesan. Apalagi Iwan juga selalu menampilkan tari Gandrung yang diiringi gamelan aslinya untuk menemani tamunya menikmati suguhan yang disajikan. Suatu suguhan yang sangat lengkap.

Dan benar, tak hanya cita rasa kopinya, Iwan dan sanggar Genjah Arum nya selalu menyuguhkan cita rasa kampung osing yang utuh dan sebenarnya. Itu pula yang menjawab pertanyaan dan penasaran kami selama ini. Tak terasa waktu pun kian berjalan. Rupanya sudah menjelang tengah malam. Meski terasa enggan, kami pun harus beranjak. Dan rasanya memang tak berlebihan jika Sanggar Genjah Arum ini menjadi salah satu tempat yang diandalkan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menjamu tamunya. (nto)
 

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia