Kamis, 25 Apr 2019
radarmojokerto
icon featured
Features
Kostum Trawas Trashion Carnival

Berbahan Daur Ulang, Jadi Buruan Kota Besar

02 Oktober 2017, 21: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Salah satu kostum karnaval hasil desainer Tri Mulayanto.

Salah satu kostum karnaval hasil desainer Tri Mulayanto. (Khudori Aliandu/Radar Mojokerto)

Di balik kesuksesan karnaval dengan keunikan kostum tak bisa dilepaskan dari peran Tri Mulayanto. Apalagi, warga Desa/Kecamatan Trawas ini dikenal sebagai sosok penggagas Trawas Trashion Carnival (TTC) yang kini sudah menjadi ikon dalam mengangkat daya tarik wisatawan.

Mulanya, tak terbayang sedikit pun bagi remaja kelahiran 1 April 1990 itu. Selain dari sekadar hobi menggambar, kini skill-nya mulai mendatangkan pundi-pundi rupiah. Bahkan dia juga dinobatkan sebagai Presiden TTC setelah pada tiga tahun lalu dikenal sebagai tokoh penggagas event. ’’Awalnya, memang kami dapat inspirasi dari Jember,’’ katanya ditemui di rumahnya kemarin.

Karnaval atau TTC kali pertama digelar tahun 2014 lalu. Namun, tidak semegah sekarang ini. Baik konsep acara maupun kreasi kostum yang disajikan. ’’Bajunya masih dulu dari bahan bekas dan daur ulang semua,’’ kata anak ke tiga dari tiga bersaudara pasangan Kalubi dan Tarsiyah itu.

Macam memanfaatkan kardus, karung, kertas duplek, hingga bekas bungkus permen dan minuman. Pembuatannya pun tidak mudah, dan membutuhkan waktu lama. Untuk satu kostum, pengerjaan bisa menghabiskan waktu selama tiga minggu. Itupun dikerjakan oleh banyak tenaga.

Sebelumnya harus diawali dengan membuat sketsa. Lalu dipadukan dengan beragam pola dan dirangkai menjadi satu kostum. ’’Itupun bongkar pasang. Kalau saat diujicobakan dan kita fitting dengan modelnya kurang pas, ya mau tidak mau harus kami revisi,’’ beber pria lulusan SMA itu.

Karena dirasa tidak bertahan lama, di tahun berikutnya Tri membuat trobosan dan kreatifitas baru. Tuntutan ini membuat dia bersama timnya harus belajar ke beberapa daerah. ’’Setelah itu, baru di tahun 2015 kami baru main kain dan spon,’’ ujarnya. Dalam mendesain kostum baru kreatifitas yang lebih utama. Salah satunya harus pintar memanfaatkan pernak-pernik yang pas. Seperti bahan dari lempengan emas permata dan manik-manik lainnya.

Sehingga, di tahun berikutnya, kostum-kostum yang ditampilkan tampak lebih indah dan inovatif. ’’Kami mulai memberi hiasan sayap berbahan triplek dan pendukung lainnya,’’ tuturnya. Dengan juga dengan tahun-tahun berikutnya. Di tahun 2016, pembuatan kerangka mulai memanfaatkan besi. Sayang, karena masih dianggap kurang sempurna dan terlalu berat, akhirnya mencari bahan pengganti besi. Yakni, beralih memanfaatkan bahan berjenis galvalum.’’Dan tema setiap tahunnya selalu berbeda,’’ tandasnya.

Di antaranya, mengangkat flora dan fauna hingga tema Majapahitan. Tak jarang, kostum yang dipakai disewa dan jadi buruan karnaval di kota-kota besar. Seperti di Malang, Jombang, dan Batu. ’’Banyak juga yang pesen dan beli untuk dibuatkan kostum,’’ tandasnya. Secara prinsip, pembuatan kostum tak sedikit pemanfaatan daur ulang sampah. ’’Pokoknya, yang utama itu kenyamaan dan komposisi pewarnaan,’’ paparnya.

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia