Kamis, 25 Apr 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Tiga Toko Bodong, Jual Obat Keras

29 September 2017, 20: 10: 50 WIB | editor : Mochamad Chariris

Petugas menunjukkan obat keras saat razia toko obat di Kab. Mojokerto.

Petugas menunjukkan obat keras saat razia toko obat di Kab. Mojokerto. (Rizal Amrullah/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Petugas dari Dinas Kesehatan (Dinkes) bersama dengan Satnarkoba Polres Mojokerto menggelar razia di sejumlah toko obat Kamis (28/9). Kegiatan itu dilakukan untuk mengantisipasi peredaran dan penyalahgunaan obat-obatan terlarang.

Sedikitnya terdapat tiga toko obat yang menjadi target sasaran karena dicurigai menyediakan obat ilegal. Meski tak menemukan obat terlarang, namun dinkes berhasil mengamankan ribuan butir obat daftar K atau obat keras serta belasan jenis obat racikan yang tak sesuai prosedur. Bahkan, toko obat tersebut diketahui bodong alias belum memiliki izin.

Di lokasi pertama, petugas memeriksa salah satu toko obat di Desa Ngimbangan, Kecamatan Mojosari. EV, salah satu penjaga toko, tidak berkutik ketika petugas menemukan puluhan jenis obat keras yang terpajang di rak toko.

Diketahui, toko yang berada di Jalan Raya Prambon-Ngrame itu telah dicabut izinnya sejak 2016 lalu karena tidak dilengkapi petugas asisten apoteker. Namun, pencabutan izin itu tak digubris dan tetap beroperasi dengan dalih menghabiskan stok. ’’Obat ini (obat keras, Red) hanya untuk menghabiskan stok lama,’’ ungkap EV di depan petugas.

Meski demikian, dinkes dan aparat kepolisian tetap memberikan sanksi teguran tertulis untuk menutup toko obat tersebut sebelum mengantongi izin. Sedikitnya, petugas juga menyita sebayak 32 jenis obat keras dari berbagai merek dengan jumlah ribuan butir.

’’Obat daftar K hanya boleh dijual di apotek resmi saja,’’ ungkap Ulum Rokhmad, kabid Sumber Daya Kesehatan (SDK) Dinkes Kabupaten Mojokerto. Sedangkan toko obat hanya boleh menyediakan obat bebas dan bebas terbatas dengan logo warna hijau dan biru.

Petugas kemudian bergeser ke target berikutnya. Yakni, di toko obat Jalan Raya Pacet Desa Petak, Kecamatan Pacet. Toko milik PN ini juga diketahui tak memiliki izin. Bahkan, saat dilakukan pemeriksaan di tempat penyimpanan, ditemukan 13 macam obat kemasan racik dengan jumlah ribuan butir.

Obat tersebut dikemas dalam satu plastik yang diisi berbagai jenis pil maupun kapsul dan siap jual. Pemilik toko mengakui bahwa dirinya sendiri yang melakukan atas dengan alasan permintaan pembeli. ’’Hanya untuk warga sekitar sini (Pacet, red) saja kok. Untuk obat pegel linu, sakit gigi, dan lain-lain,’’ kilahnya.

Di depan petugas, PN mengaku juga membuka cabang di Desa/Kecamatan Pacet. Di toko cabang miliknya itu ditemukan 5 jenis obat keras dan 3 macam obat racikan. Semua obat tersebut kemudian disita petugas dan akan dimusnahkan.

Menurut Ulum, peracikan obat hanya boleh dilakukan di pelayanan kefarmasian. Seperti apotek, klinik, puskesmas, dan rumah sakit. Selain di tempat itu tidak diperkenankan untuk melakukannya. ’’Karena peracikan obat itu sebenarnya dilakukan setelah mendapat perintah dokter,’’ ujarnya.

Hal itu bukan tanpa alasan. Sebab, sebagian besar kemasan obat yang dijual secara ilegal tidak dilakukan oleh tenaga ahli atau profesional. Sehingga, terdapat kemungkinan katidaksesuaian antara obat dan diagnosa yang dialami pasien. ’’Karena kemungkinan racikan obat itu tidak benar dan tanpa pemberitahuan risiko-risikonya,’’ paparnya.

Yang paling dikhawatirkan lagi, penjual obat bukan semata bertujuan untuk kesehatan, tetapi lebih karena mencari keuntungan. ’’Secara hak dan kewajiban dia melanggar hukum tentang distribusi dan penyalahgunaan obat. Tempatnya saja salah, apalagi obatnya,’’ pungkas dia.

Karena itu, dia mengimbau kepada masyarakat untuk membeli obat di apotek maupun toko obat resmi. Itu ditandai dengan adanya nomor izin yang ditempatkan di tempat penjualan obat. Hingga saat ini, jumlah apotek yang terdaftar di dinkes sebanyak 81 unit. Sedangkan toko obat yang resmi hanya 2 unit saja.

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia