Jumat, 16 Nov 2018
radarmojokerto
icon featured
Hukum & Kriminal

Pesan via WhatsApp, Foto Perempuan Langsung Dikirim

Rabu, 13 Sep 2017 18:47 | editor : Mochamad Chariris

Kapolres Mojokerto, AKBP Leonardus Simarmata saat menginterogasi tersangka bisnis prostitusi online.

Kapolres Mojokerto, AKBP Leonardus Simarmata saat menginterogasi tersangka bisnis prostitusi online. (Khudori Aliandu/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Dugaan praktik bisnis esek-esek melalui dunia maya mulai merambah Mojokerto. Selasa (12/9), Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Mojokerto meringkus  Taufan Al Meizar, 22, warga Kelurahan Meri,  Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto.

Mahasiswa aktif di salah satu Perguruan Tinggi (PT) di Malang ini diduga menjadi mucikari dengan menyediakan jasa pekerja seks komersial (PSK) melalui online memanfaatkan media sosial (medsos).  Dia ditangkap saat bertransaksi dengan pelanggan di sebuah hotel di kawasan Puri, Kabupaten Mojokerto. Bersama barang bukti, tersangka digelandang ke mapolres untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Kapolres Mojokerto AKBP Leonardus Simarmata mengatakan, terungkapnya dugaan prostitusi online ini berawal dari kejelihan petugas saat memelototi salah satu akun facebook (FB) dengan nama Taufan Almeizar, karena dicurigai mengarah ke prostitusi. Alhasil, setelah dilakukan penyelidikan, Senin (11/9) sekitar pukul 12.00, satu pelaku pun berhasil diringkus. Tak lain adalah Taufan Al Meizar  ’’Tersangka, kami tangkap saat melakukan transaksi dengan seorang pria di kamar hotel,’’ katanya saat rilis ungkap kasus di Mapolres Mojokerto, kemarin (12/9). Saat penangkapan, tersangka sudah tak berkutik.

Dia yang menyandang status mahasiswa semester tujuh di salah satu universitas swasta di Malang ini tertangkap basah menerima pembayaran dari pelanggan. Sedianya, pelanggan tersebut hendak berkencan dengan anak buanya, berinsial FA, 26, warga Kecamatan  Bangsal, Kabupaten Mojokerto. ’’Di lokasi, uang Rp 650 ribu dan dua unit handphone (HP) sebagai sarana bisnis prostitusi kami amankan,’’ imbuh kapolres.

Satu lembar kertas room bill hotel bertulikan nomor kamar 16 juga ikut disita sebagai barang bukti. Leonardus menyatakan, sejauh ini, pihaknya menduga, Taufan, mempunyai sejumlah anak buah yang kerap ditawarkan ke pelanggan lewat medsos. Anehnya, dia sengaja memanfaatkan facebook menggunakan akun dengan namanya sendiri, Taufan Almeizar.

Dalam branda akunnya, dia meninggalkan nomor telepon. Nah, dari nomor telepon itu, tak jarang komunikasi pelanggan dengan tersangka dilanjutkan melalui chatting jaringan pribadi (japri) via WhatsApp (WA). Selanjutnya, proses tawar-menawar, sejumlah foto seksi anak buahnya dikirimkan ke pelanggan. ’’Tarifnya  relatif berbeda. Mulai Rp 700 ribu sampai Rp 1,5 juta,’’ katanya. ’’Sedangkan, untuk perempuan yang dipesan, sudah disiapkan di kamar hotel,’’ imbuhnya.

Untuk itu, penyidik masih terus mendalami pemeriksaan tersangka. Selain diduga masih ada korban lainnya, dimungkinkan, dugaan bisnis esek-esek online ini melibatkan jaringan. Kapolres meyakini, prostitusi online tak pernah lepas dari mata rantai. ’’Artinya, pelaku ini hanya modal awal kami. Nanti kita dalami lewat handphone dan medsos. Kemungkinan besar masih ada pelaku berperan di atasnya lagi,’’ paparnya.

Sementara itu, Taufan Al Meizar mengaku sejauh ini masih memiliki satu anak buah. ’’Satu lagi baru gabung, tapi belum saya perkenalkan,’’ ujarnya. Dia menyebut, bisnis haram yang dijalani baru dilakukan sejak akhir Agustus lalu. Setelah dia membutuh uang untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Transaksi yang dilakukan baru berjalan dua kali, sebelum akhirnya dia ditangkap anggota Satreskrim Polres Mojokerto.

’’Baru dua kali ini. Satu kali mengantar, tapi belum dapat. Yang sebelumnya, saya hanya dapat Rp 50 ribu,’’ paparnya.’’Cara pesannya, saya manfaatkan akun facebook dan mencantumkan nomor WA. Nanti yang pesan akan saya kirim foto perempuan itu,’’ imbuhnya menjelaskan. Akibat perbuatannya, dia dijerat pasal 30 dan 35 UU RI No 44 Tahun 2008 tentang Pornografi, serta pasal 296 dan 506 KUHP. Ancaman hukumannya paling lama 6 tahun penjara. 

 

 

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia