Jumat, 16 Nov 2018
radarmojokerto
icon featured
Features
Suyadi, Tukang Servis Jam Sejak Tahun 1970

Dijuluki Pelanggan dengan Gelar Doktor Jam

Senin, 28 Aug 2017 03:16 | editor : Mochamad Chariris

Suyadi menyelesaikan pekerjaan jam rusak milik pelanggan di lapaknya.

Suyadi menyelesaikan pekerjaan jam rusak milik pelanggan di lapaknya. (Khudori Aliandu/Radar Mojokerto)

MEMASUKI usia senja, tak lantas menghalangi Suyadi menjalani profesinya sebagai jasa servis jam tangan. Karena keahliannya itu, warga asal Dusun Mojokencono, Kelurahan Wonokusumo, Kecamatan Mojosari ini pun dijuluki sebagai doctor jam. Sudah puluhan tahun dia berkecimpung di dunia penanda waktu itu.

Siang itu, kakek satu cucu ini serius menyelesaikan garapan jam tangan rusak milik pelanggan. Berbekal beberapa peralatan khusus, kedua tangannya terlihat lihai memainkan jemari untuk menyelesaikan pekerjaan. Profesi ini ternyata sudah ditekuninya selama 48 tahun terakhir. ’’Sudah biasa. Memang sudah pekerjaan saya seperti ini. Intinya harus sabar dan telaten,’’ ujar Suyadi sembari melanjutkan pekerjaan.

Meski usianya sudah memasuki angka 58 tahun, kegigihannya dalam mencari nafkah keluarga tak diragukan. Indera penglihatannya pun masih awas dan tajam. Kendati belakangan dia mulai dibantu dengan kacamata dan alat mikroskop untuk melihat dan memastikan jarum jam. ’’Sejak tahun 1972 saya sudah bekerja dengan dunia elektronik seperti ini,’’ tuturnya.

Belakangan, karena keahliannya itu, Suyadi dijuluki para pelanggan dengan doktor jam. Segala macam jam yang rusak dipastikan bisa diperbaiki dan kembali seperti semula. Macam jam dinding, jam tangan, dan jam-jam digital. Dia menceritakan, menjadi tukang servis jam atau arloji memang tidak mudah. Selain harus telaten, jeli dan teliti, tak jarang pekerjaan ini masih dipandang sebelah mata. ’’Saya menghidupi keluarga dan menyekolahkan tiga anak ya dari hasil ini. Memang, rezekinya di sini. Wong kerja apa pun tidak pernah cocok,’’ imbuhnya.

Setiap hari, minimal ada 5 sampai 10 pelanggan datang menggunakan jasanya di sisi timur jalan pertigaan Kelenteng Mojosari itu. Baik pelanggan lama atau baru. Ada yang minta servis atau sekadar membeli baterai. Di lapak berukuran 3x2 meter ini, dia hanya bekerja sendirian. ’’Kadang banyak spul dan IC jamnya rusak,’’ tandasnya. ’’Pokoknya, sehari paling sedikit 5-10 jam diperbaiki,’’ tegasnya.

Tak urung, sampai saat ini dia bertahan dengan apa yang dilakoni. Apalagi, seiring berkembangnya teknologi, jam tangan merupakan salah stau benda yang paling banyak digunakan. Kondisi itu tak lepas sebagai alat pengukur waktu sekaligus asesoris pelengkap fashion. ’’Saya yakin, dari sekian banyak jam tangan pasti ada saja yang mengalami kerusakan. Entah itu putus tali pengikatnya, baterai habis, atau korslet akibat kemasukan air,’’ bebernya. Atas dasar itulah, Suyadi meyakini peluang ini masih sangat terbuka namun tak banyak yang melirik.

’’Artinya, meski terkesan sepele, usaha servis jam ini sangat menjanjikan,’’ tegasnya. Dia mengaku, seiring perkembangan zaman, kerusakan jam akan mengikuti. Jika dulu, teknologi digunakan sebatas pada jam-jam manual, kini banyak jam keluaran baru produksi pabrikan. Termasuk jam otomatis dalam aplikasi smartphone. ’’Utamanya yang tipe digital. Pekerjaannya sedikit rumit. Sulitnya itu cari spare part-nya, karena tidak sembarang toko ada. Seperti jam merek Casio atau keluaran Eropa,’’ pungkasnya.

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia