Rabu, 19 Dec 2018
radarmojokerto
icon featured
Hukum & Kriminal

Lapas Kerepotan, 21 Napi Dilayar ke Madiun

04 Agustus 2017, 21: 00: 02 WIB | editor : Mochamad Chariris

Beberapa napi kasus narkoba menunggu tes urine dalam razia BNNK di Lapas Kelas II-B Mojokerto.

Beberapa napi kasus narkoba menunggu tes urine dalam razia BNNK di Lapas Kelas II-B Mojokerto. (Farisma/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Jumlah narapidana dan tahanan penghuni Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II-B Mojokerto terus mendapat atensi. Menyandang label over capacity (melebihi kapasitas) penghuni tak bisa dielakkan terhadap bangunan yang berdiri sejak 1918 itu sejak tiga tahun terakhir ini.

Situasi tersebut yang dinilai mampu menjadi pemicu hingga mempengaruhi kondusifitas keamanan di dalam lapas. Nah, untuk mengantisipasi agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, Lapas Mojokerto kembali memberlakukan pemindahan terhadap sejumlah napi (narapindana) yang berpotensi terhadap keamanan dan kenyamanan di dalam lapas.

Kamis (3/8) malam, tak kurang 21 napi terpaksa menjalani pemindahan atau dilayar ke Lapas Madiun. Selain untuk mengurangi beban pengawasan, pemindahan ini juga sebagai cara pemerataan dalam pola pembinaan petugas terhadap napi lainnya.

Kalapas Mojokerto, Muhammad Hanafi mengatakan, alasan utama pemindahan 21 napi kali ini tak lepas dari kapasitas lapas yang sudah tak mampu lagi menampung lebih banyak napi dan tahanan. Betapa tidak, dari data yang dihimpun Jawa Pos Radar Mojokerto, jumlah penghuni lapas kini telah mencapai 680 orang. Perinciannya, terdiri dari 300 tahanan dan 380 napi.

Mereka menempati empat blok, 32 kamar, dan empat sel yang berdiri di atas lahan seluas 7.372 meter persegi itu. Jumlah tersebut dinilai tiga kali lebih banyak dari kapasitas ideal lapas. Yakni, sejatinya hanya berisi 225 orang dengan pembagian 100 tahanan dan 125 napi.

Akibatnya, pola pembinaan terhadap napi yang kurang efektif dilakukan. Kondisi tersebut justru rentan memunculkan kericuhan dan kekisruhan yang dapat mengancam kondusifitas keamanan dalam lapas. ’’Yang pertama, karena memang over capacity. Kita akui sangat kerepotan jika tidak dengan kondisi aslinya. Yang kedua adalah untuk pembinaan berkelanjutan terhadap semua napi,’’ terangnya.

Hanafi tak memungkiri jika masih ditemukan sisa-sisa napi yang kedapatan terlibat dalam penyalahgunaan narkoba. Terbukti, dari hasil razia dan operasi gabungan bersama BNNK Mojokerto, tiga napi terbukti positif zat amphetamine dan metamphetamine.

Nah, strategi pemindahan itu merupakan salah satu cara untuk membuat jera bagi para napi yang bermasalah. Sebab, bukan tidak mungkin muncul persoalan lain selain penyalahgunaan narkoba. ’’Ya, supaya mereka lebih jera atas apa yang telah dilakukan. Intinya, agar napi yang lain tidak alergi atau tertular oleh tindakan yang menyalahi aturan,’’ imbuhnya. Namun, yang lebih penting bagi lapas selain kondusifitas keamanan di dalam lapas adalah efektifitas pembinaan yang berjalan.

Sebab, dengan dipindahkannya sejumlah napi, maka tercipta pemerataan pembinaan dari petugas. Hal ini demi memberikan bekal kepada para warga binaan untuk lebih terampil dan kreatif pasca menjalani masa hukuman penjara. ’’Supaya semua napi ikut kebagian pembinaan. Misalnya, napi yang dipindah bisa memberikan pengetahuan tentang bagaimana membuat sepatu di Lapas Madiun,’’ pungkasnya.

(mj/far/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia